SUKABUMIUPDATE.COM - Angka orang dengan gangguan kejiwaan di Kabupaten Sukabumi cukup tinggi, salah satunya berada di Kecamatan Jampang Tengah. Di wilayah ini tercatat ada 19 orang yang mengalami gangguan kejiwaan dan saat ini dikerangkeng keluarganya, karena sulitnya mengakses pengobatan khusus bagi orang gila (orgil-red).
“Yang terdata karena pernah ditangani Puskesmas Jampang Tengah ada 19 orang. Kondisinya ditangani oleh keluarga masing masing,†jelas Kepala Tata Usaha Puskesmas Jampang Tengah Saepudin kepada sukabumiupdate.com, Senin (28/11).
Pudin panggilan akrap pria ini menambahkan, tidak menutup kemungkinan jumlahnya lebih besar, karena tidak semua keluarga ingin masalah ini diketahui oleh pubik. “Masih ada yang menganggap hal ini sebagai aib sehingga tidak melapor kepada kita, atau minta bantuan penanganan medis awal,†lanjutnya.
Kendala lainnya adalah kemiskinan, lanjut Pudin, rata rata pasien gangguan jiwa ini dari keluarga tidak mampu, sehingga bingung saat akan dirujuk untuk menjalani pengobatan di rumah sakit.
“Kami hanya mampu memberikan pelayanan medis dengan standar obat yang terbatas dan check up medis umum saja. Untuk yang spesifik kejiwaan kita belum ada, harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar,†pungkasnya.
Pudin juga menambahkan, kasus terbaru, yaitu Aji (29) warga Kampung Cipesing RT 01/05, Desa/Kecamatan Jampang Tengah, salah satu yang ditangani oleh Puskesmas. Aji terpaksa dikerangkeng oleh keluarganya sejak satu tahun yang lalu, karena sering mengamuk, merusak barang milik keluarga maupun tetangga.
"Awalnya tidak dikerangkeng cuma ke sininya suka mengamuk. Merusak barang, bahkan suka bawa parang untuk menebang pepohonan milik orang, sehingga keluarga memutuskan untuk memasukkannya ke dalam kerangkeng,†ungkap Eni (45) ibunda Aji.
Pemuda yang hanya mengeyam pendidikan sekolah dasar ini dikenal sebagai pendiam, jarang bergaul dengan teman seusianya. Awal mengalami gangguan jiwa karena sering melamun, menurut Ibunya, mungkin Aji ada keinginan yang tidak terpenuhi, tetapi tidak mau membicarakannya dengan keluarga.
Karena keterbatasan ekonomi, keluarga hanya bisa melakukan pengobatan alternatif, bahkan dulu sebelum dikerangkeng, pernah dibawa ke Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) R. Syamsudin, SH. oleh pihak desa, Â tetapi sampai di rumah sakit amukannya tidak bisa terkendali, sehingga kembali dibawa pulang.
