Keluhan Wali Murid Kabupaten Sukabumi di Hari Guru Nasional

Jumat 25 Nov 2016, 09:39 WIB
Keluhan Wali Murid Kabupaten Sukabumi di Hari Guru Nasional

SUKABUMIUPDATE.COM – Guru Ilmu Pendidikan Sosial (IPS), Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Bojonggenteng Lia Yulianti (40), mengeluhkan sikap orang tua yang cenderung reaktif ketika menyikapi setiap kebijakan sekolah.

"Menghadapi wali murid demikian, biasanya pihak sekolah memanggil kembali orang tua murid, untuk klarifikasi. Saya yakin mereka menyadari kekeliruannya. Pihak orang tua juga disarankan, agar tidak reaktif terhadap apa yang disampaikan anak-anaknya. Jika itu negatif, sebaiknya tabayyun dulu," terang Lia kepada sukabumiupdate.com,Jumat (25/11).

Hal berbeda dikemukakan Suhaelah (45), Warga Kelurahan/Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Ia justru menyoroti praktek pungutan liar di sekolah, dalam ragam jenisnya. Menurutnya, kedua anaknya sekolah di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Cibadak. "Anak saya yang satu kan sudah kelas tiga, sudah mau lulus, kenapa harus diwajibkan membeli baju daerah ?"

Menurutnya, itu belum termasuk segala tetek bengek yang harus dibayar wali murid. Dari mulai yang sifatnya sekali selama belajar, seperti uang bangunan, hingga yang bulanan dengan ragam istilah digunakan. "Intinya, wali murid mau tidak mau ya harus membayarnya. Bahkan ketika saya mencoba negosiasi, dengan mudahnya mereka (pihak sekolah-red) menjawab, silakan diusahakan dulu. Ini kan aneh, SMP itu kan harusnya gratis. Ini meminta ditangguhakan saja tidak bisa."

Bahkan menurutnya, pernah ia sebagai wali murid diminta sumbangan sukarela, tetapi diwajibkan membuat pernyataan tertulis yang ditandatangani di atas materai.

Hal senada dikemukakan Warga Desa Bangbayang, Kecamatan Cicurug, Dudi Priatna (40). Ia menyayangkan seringnya kewajiban bagi anak didik melakuka study tour. Menurutnya, jika wali murid memiliki dua anak yang sekolah pada sekolah yang sama, artinya wali murid harus mengeluarkan dua kali biaya tambahan untuk keperluan tersebut.

"Kalau yang memiliki nilai pendidikan masih, oke. Tapi, kalau sekadar main-main, kami sekeluarga bisa melakukannya. Nah, yang menjadi masalah, ketika satu kelas melakukan study tour, kelas lainnya diliburkan. Ini guru-gurunya pada ke mana? Kan aneh, ini yang study tour, siswa atau para guru?" terang Dudi.

Dudi dan Suhaelah, sebagai wali murid, sama-sama berharap, hendaknya para guru tetap lebih menjunjung tinggi kode etik dan nilai nilai pendidikan melalui sikap. "Intinya, jangan sampai seperti kata pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing berlari," pungkas Dudi.

Selamat Hari Guru Nasional.

Editor :
Berita Terkini