SUKABUMIUPDATE.COM  – Guru biologi mendekam di balik jeruji besi karena mencubit muridnya. Seorang guru sekolah dasar berurusan dengan persoalan hukum, karena menindak tegas sekelompok siswa pengeroyok siswa lainnya. Guru harus berhadapan dengan orang tua wali murid ketika menerapkan bentuk kedisiplinan. Di sisi lain, sang anak kadang terlalu manja, dan orang tua cenderung reaktif. Itulah warna yang sering ditemukan dalam dunia pendidikan di Indonesia.
“Ketika para guru mencoba menerapkan disiplin, banyak cobaannya, karena tidak semua orang tua merespon positif. Padahal itu demi perkembangan mentalitas mereka,†terang guru Ilmu Pendidikan Sosial (IPS), Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Bojonggenteng Lia Yulianti (40), Jumat (25/11).
Lia menjelaskan, belum lama ini, pihak sekolah menerapkan kebijakan kegiatan mengaji pagi dan Sholat Dhuha bagi anak didiknya. Namun hal tersebut ditanggapi beragam oleh anak didik itu sendiri, termasuk para wali murid. “Padahal, sudah ada Peraturan Bupati nomor 33, tentang akhlaqul karimah,†imbuh Lia kepada sukabumiupdate.com.
Tidak semua murid menuruti kebijakan pihak sekolah, ada saja yang menentang aturan tersebut, meski sifatnya mendidik. Ketika guru memberikan nasihat hingga teguran persuasif kepada pelanggar kebijakan sekolah. Sang anak tidak terima, dan melapor kepada orang tuanya.
Like father like son, begitulah ungkapan Inggris mengatakan, alih-alih menguatkan kebijakan sekolah dan mengarahkan anaknya untuk ikuti aturan, giliran orangtua yang menyatroni sekolah.

"Saya tidak perlu menyebut nama. Katanya kami memarahi anaknya, jelek kalau dalam bahasa Sunda mah. Intinya, dia bilang, jangan mentang-mentang sama anak-anak. Dengan lantang orang tua murid memarahi kami. Padahal anak itu sering bolos, trouble maker di sekolah,†ungkap guru yang telah menjalani profesinya sejak 15 tahun lalu itu.
Ditambahkan guru yang juga mengajar di Yayasan Luqmanul Hakim, Jalan Perinis Kemerdekaan, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi ini, di banyak sekolah selalu ada siswa yang namanya ngetop. Sayangnya, ngetop karena sering berbuat onar dan "anak mami" yang secara ekonomi tercukupi.
“Di sekolah itu, yang menonjol anak nakal dan anak pintar, atau sebaliknya. Sebetulnya para guru tidak mempermasalahkan karakter, dan kemampuan siswa, karena guru menyadari bahwa mendidik dan mengajarkan hal-hal positif adalah tanggung jawabnya," jelas Lia. Hanya saja, guru juga manusia, kekesalan bisa saja mereka rasakan, terlebih jika para orang tua ada rasa tidak percaya terhadap institusi pendidikan, dengan jalan menyatroni sekolah dan menegur tindakan para guru.
Menghadapi wali murid demikian, biasanya pihak sekolah memanggil kembali orang tua murid, untuk klarifikasi. "Saya yakin mereka menyadari kekeliruannya. Pihak orang tua juga disarankan, agar tidak reaktif terhadap apa yang disampaikan anak-anaknya. Jika itu negatif, sebaiknya tabayyun dulu."
Lia berharap, di Hari Guru Nasional kali ini, ada sinergitas antara para orang tua dan wali murid dengan para guru. "Harapan saya, masyarakat lebih care ke sekolah, ke guru, dan program sekolah. Ngarah sauyunan, ari program baik sakola didukung mah,†pungkasnya.
Selamat Hari Guru Nasional.
