SUKABUMIUPDATE.com - Pesatnya pertumbuhan aktivitas ekonomi perikanan tangkap di kawasan pesisir Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, belum diimbangi oleh ketersediaan infrastruktur pendukung yang memadai.
Puluhan tahun melaut, ribuan nelayan lokal hingga kini terpaksa bersandar di tempat seadanya akibat ketiadaan dermaga tambat labuh yang representatif serta penahan gelombang (breakwater).
Salah seorang nelayan Ujunggenteng, Riki, mengungkapkan bahwa gelombang tinggi dan cuaca buruk kerap menjadi ancaman nyata bagi keselamatan jiwa serta armada kapal nelayan. Ketiadaan breakwater membuat nelayan terpaksa mengevakuasi perahu ke tempat yang tidak semestinya demi menghindari hantaman ombak.
"Saat cuaca buruk kami kesulitan untuk mengevakuasi perahu. Kadang disimpan di pinggir jalan dan dekat pemukiman, terparkir berderetan sehingga mengganggu akses jalan warga," ujar Riki saat ditemui sukabumiupdate.com di pesisir Pantai Ujunggenteng, Minggu (4/10/2026).
Baca Juga: Retribusi 6 Wisata Pemkab Sukabumi Tembus Rp1 Miliar, Lampaui Capaian Tahunan 5 Tahun Terakhir
Riki menambahkan, keluhan dan usulan terkait pembangunan dermaga serta pemecah ombak ini sebenarnya sudah disuarakan sejak lama, namun hingga kini tak kunjung direalisasikan oleh pemerintah.
"Keluhan ini sudah disampaikan hampir puluhan tahun, namun realisasinya tidak ada," tegasnya.
Ribuan Nelayan Bergantung pada Tempat Bersandar Seadanya
Kebutuhan akan infrastruktur pelabuhan yang layak dinilai sudah sangat mendesak mengingat lonjakan armada laut yang beroperasi di wilayah tersebut. Ketua Rukun Nelayan Ujunggenteng, Asep Jeka, membeberkan data terkini terkait kepadatan aktivitas nelayan di wilayahnya:
- Jumlah Perahu Fiber: 2.000 unit
- Jumlah Nelayan Terdaftar: Hampir 4.000 orang
- Kelompok Usaha Bersama (KUB) Aktif: 56 KUB
- Perahu Mesin/Diesel (KM): 60 unit
Selama berdekade-dekade, armada kapal sebanyak itu hanya mengandalkan beberapa titik tambat seadanya, seperti di kawasan Bagalbatre, wilayah hutan lindung Tenda Biru, TPI Ujunggenteng, hingga Kalapacondong. Beban tambat ini kian memuncak saat musim tertentu ketika nelayan pendatang (andon) dari luar daerah seperti Cirebon, Buniwangi/Buniangen, Palabuhanratu, hingga Cisolok, turut melaut dan bersandar di Ujunggenteng.
Baca Juga: Pedagang Ikan Palangpang Sukabumi Menjerit, Terpaksa Jualan di Jalan Meski Gedung KNMP Sudah Jadi
Sebut Proyek KNMP Belum Jawab Kebutuhan Vital Nelayan
Terkait dengan proyek Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang saat ini tengah berjalan di kawasan tersebut, para nelayan menilai program tersebut belum menyentuh inti permasalahan mereka.
Asep Jeka menyebutkan bahwa pembangunan KNMP yang ada saat ini tidak dilengkapi dengan fasilitas tempat bersandar perahu. Selain itu, lokasinya dinilai kurang strategis bagi operasional harian nelayan.
"Memang saat ini sedang ada pembangunan KNMP, tapi tidak ada fasilitas untuk bersandar perahu dan lokasinya cukup jauh, sekitar satu - dua kilometer dari lokasi perahu yang sekarang digunakan," ungkap Asep.
Masyarakat nelayan Ujunggenteng berharap pemerintah daerah maupun pusat segera menaruh perhatian serius dengan merealisasikan pembangunan breakwater dan tambat labuh yang aman, guna mendukung keberlangsungan ekonomi pesisir serta keselamatan kerja para nelayan.













