SUKABUMIUPDATE.com - Enden (20), seorang ibu rumah tangga (IRT) muda warga Kampung Ciawitemen RT 03/03, Desa Mekarsari, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, kini hanya bisa terbaring tak berdaya. Ibu dari satu anak balita berusia empat tahun ini tak lagi mampu berjalan akibat benjolan besar dan luka pada bagian kaki kanannya.
Berdasarkan foto yang dilihat sukabumiupdate.com, kaki kiri Enden tampak mengalami pembengkakan cukup besar pada area betis. Di bagian tengah pembengkakan terlihat luka terbuka dengan jaringan berwarna gelap yang menonjol ke permukaan. Kondisi tersebut membuat Enden kesulitan bergerak dan tidak lagi dapat berjalan seperti biasa.
Informasi yang beredar di masyarakat menyebutkan Enden sempat menjalani pemeriksaan di RSUD Jampangkulon sekitar sepekan lalu. Setelah itu, ia kembali ke rumah dan disebut divonis mengidap kanker yang memerlukan penanganan lanjutan di rumah sakit rujukan.
Kondisi kesehatan Enden diperberat oleh keterbatasan ekonomi. Suaminya hanya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu, sementara mereka masih menumpang tinggal di rumah orang tuanya yang berprofesi sebagai petani buruh. Faktor biaya operasional harian menjadi beban terberat keluarga untuk menjalani pengobatan jangka panjang.
Kepala Desa Mekarsari, Amat, membenarkan kondisi warganya tersebut. Ia menceritakan bahwa Enden sebenarnya sudah mengeluhkan rasa sakit pada kakinya sejak tiga tahun lalu hingga tumbuh benjolan, namun penurunan kondisi drastis baru terjadi dalam dua bulan terakhir.
"Penyakitnya memang sudah lama, hampir tiga tahun. Awalnya merasa sakit di kaki, lalu timbul benjolan. Ngedrop-nya sekitar dua bulanan ini," kata Amat saat dikonfirmasi sukabumiupdate.com, Minggu (27/9/2026).
Baca Juga: Kebakaran TPA Cikundul Sukabumi Lahap 500 Meter Persegi Lahan, Ini Dugaan Penyebabnya
Amat membantah anggapan bahwa pemerintah desa (pemdes) membiarkan warganya. Menurut Amat, Pemdes Mekarsari telah berulang kali mendampingi dan memfasilitasi rujukan medis untuk Enden. Namun, kendala utama penanganan berada pada psikologis pasien yang kerap menolak menyelesaikan rangkaian terapi medis hingga tuntas.
"Pasiennya yang tidak mau diobati hingga tuntas. Periksa lalu berhenti, periksa berhenti lagi. Padahal bulan kemarin dibawa ke RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di sana baru diambil sampel medis dan disarankan menunggu di rumah singgah agar pengobatan teratasi. Tapi pasien tidak mau dan minta pulang terus, akhirnya dibawa pulang," jelas Amat.
Amat menegaskan, seluruh biaya pengobatan medis Enden telah ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan, sedangkan operasional penjemputan maupun pengantaran difasilitasi penuh menggunakan mobil ambulans desa.
Baca Juga: Nyari Kerja Makin Susah, Jumlah Penduduk Kelas Menengah Merosot Tajam Pasca Pandemi
Saat ini, Pemdes Mekarsari sedang memproses ulang dokumen rujukan dan berkoordinasi intensif dengan pihak keluarga agar Enden bersedia dirawat kembali secara intensif di RSHS Bandung.
"Kami sudah koordinasi lagi dengan keluarga untuk minta rujukan, hari ini akan dibawa kembali ke RSUD Jampangkulon, dan minta rujukan. Kami tidak pernah membiarkan. Untuk keberangkatan ke Bandung dalam waktu dekat ini kami sudah siap. Pasien dekat rumahnya dengan kami, jadi kami lebih tahu," tegas Amat.
Pemerintah desa berharap proses rujukan dan pengobatan lanjutan di Bandung kali ini berjalan lancar sehingga Enden bisa mendapatkan tindakan medis terbaik untuk kesembuhannya.














