SUKABUMIUPDATE.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan madu sengat tanpa sengat yang berpotensi antikanker dan mengendalikan gula darah. Hal ini tentunya menjadi kabar baik tentang temuan tersebut untuk dunia medis.
Bakteri asam laktat probiotik dari madu dan bee pollen lebah tanpa sengat (stingless bee) asal Indonesia, berhasil diidentifikasi oleh peneliti BRIN.
“Madu tersebut memiliki berbagai aktivitas biologis penting, mulai dari antibakteri, antibiofilm, antioksidan, antikanker, hingga potensi membantu pengendalian kadar gula darah,” dikutip dalam keterangan resmi, Selasa (09/06/2026).
Baca Juga: Waspada Nomor WA Penipu Catut Nama Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Sukabumi
Riset ini ditemukan oleh tim peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN bersama mitra dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Penelitian yang memanfaatkan madu dan bee pollen dari tujuh spesies lebah tanpa sengat yang berasal dari Yogyakarta dan Sumbawa.
Ema Damayanti, Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PPRTPP) BRIN menjelaskan bahwa selama tersebut madu lebah tanpa sengat dikenal kaya senyawa bioaktif.
“Kami menemukan bahwa madu lebah tanpa sengat Indonesia menyimpan bakteri asam laktat yang tidak hanya mampu bertahan pada kondisi saluran pencernaan, tetapi juga memiliki aktivitas antibakteri, antibiofilm, antikanker, dan antioksidan yang sangat baik. Ini menunjukkan potensinya sebagai kandidat probiotik untuk pangan fungsional,” ujar Ema.
Baca Juga: Banyak Pemda Rekrut Honorer Karena Kedekatan, Tito: Minim Kompetensi, Jadi Beban APBD
Dalam riset tersebut, tim peneliti berhasil mengisolasi sejumlah bakteri asam laktat yang berasal dari madu dan bee pollen berbagai spesies lebah tanpa sengat, seperti Heterotrigona itama, Tetragonula laeviceps, Tetragonula clypearis, Tetragonula sarawakensis, Lepidotrigona terminata, Tetragonula drescheri, dan Tetragonula biroi. Dari seluruh isolat yang diperoleh, dipilih tujuh isolat terbaik karena memiliki kemampuan paling tinggi dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen.
Selanjutnya, ketujuh isolat tersebut dianalisis menggunakan teknologi whole genome sequencing (WGS), metabolomik berbasis UHPLC-HRMS, serta serangkaian pengujian karakter probiotik. Hasil analisis mengungkap bahwa isolat unggulan tersebut merupakan spesies Lacticaseibacillus rhamnosus dan Pediococcus acidilactici.
Ema menjelaskan, bakteri hasil isolasi terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa. Selain itu, bakteri tersebut juga dapat mencegah pembentukan biofilm yang kerap menjadi penyebab meningkatnya resistensi bakteri terhadap pengobatan.
Baca Juga: 40 Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, Cocok Untuk Caption Medsos
Menurut Ema, penelitian menunjukkan bahwa bakteri hasil isolasi mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa, sekaligus mencegah pembentukan biofilm yang sering menjadi penyebab meningkatnya resistensi bakteri terhadap pengobatan.
Tak hanya memiliki sifat antimikroba, bakteri probiotik tersebut juga menunjukkan aktivitas antikanker terhadap lini sel kanker kolon WiDr serta memiliki kemampuan antioksidan yang tinggi berdasarkan pengujian DPPH, ABTS, dan FRAP.
“Kami juga menemukan aktivitas penghambatan α-amilase yang cukup signifikan. Potensi ini menarik karena berkaitan dengan pengendalian kadar gula darah, sehingga berpeluang dikembangkan menjadi produk pangan sehat,” tambah Ema.
Baca Juga: Jangan Sampai Terlewat! 12 Amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharram
Analisis genom lebih lanjut menemukan adanya biosynthetic gene clusters (BGCs) yang berperan dalam pembentukan berbagai senyawa bioaktif, termasuk bakteriosin dan senyawa antimikroba alami. Sementara itu, analisis metabolomik berhasil mengidentifikasi beragam metabolit bioaktif yang mendukung manfaat kesehatan dari bakteri tersebut. Menurut Ema, kombinasi pendekatan genomik dan metabolomik menjadi langkah penting untuk memahami mekanisme biologis probiotik lokal Indonesia secara lebih menyeluruh.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki kekayaan spesies lebah tanpa sengat yang sangat melimpah. Potensi tersebut dinilai tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan pangan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan industri pangan fungsional dan produk kesehatan berbasis riset.
Ke depan, tim peneliti BRIN akan melanjutkan penelitian pada tahap formulasi produk serta uji penerapan pada pangan fermentasi dan suplemen probiotik. Penelitian lanjutan juga akan difokuskan untuk memastikan aspek keamanan, stabilitas, dan efektivitas bakteri probiotik tersebut sebelum dapat dikembangkan dalam skala industri.
Hasil penelitian ini juga dipublikasikan dalam jurnal internasional Antonie van Leeuwenhoek dan International Microbiology, serta telah memperoleh pendaftaran paten dengan nomor S00202605018.





