SUKABUMIUPDATE.com - Dentang palu memecah kesunyian siang di Kampung Cipurut, Cijangkar, Cipeuteuy, dan Cidangdeur, Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Matahari September sedang garang-garangnya. Panas menyengat kulit, debu batu beterbangan, sementara udara terasa kering di tengah musim kemarau.
Namun, puluhan perempuan paruh baya tetap bertahan di sisi tumpukan batu. Sebagian berteduh di bawah pohon. Sebagian lainnya hanya mengandalkan pelepah kelapa yang disandarkan seadanya sebagai atap. Di hadapan mereka, batu-batu besar menunggu dihantam palu.
Tak ada mesin pemecah batu. Hanya palu besi, sarung tangan kain, bangku kayu pendek atau jojodok, dan tenaga yang mereka kumpulkan sejak pagi.
Palu kembali menghantam batu. Sedikit demi sedikit, bongkahan batu berukuran besar itu retak, pecah, lalu berubah menjadi pecahan-pecahan kecil berukuran split.
Bagi emak-emak di Purwasedar, pekerjaan tersebut bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Memecah batu menjadi salah satu cara mereka bertahan ketika pekerjaan di sawah berhenti.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Nusa Putra Sukabumi Edukasi Siswa SMP Islam Mekarjaya tentang HIV dan AIDS
Sawah Mengering, Palu Jadi Sandaran
Musim kemarau atau yang biasa disebut warga sebagai halodo membuat aktivitas pertanian ikut menurun. Ketika lahan sawah belum memasuki musim tanam, pekerjaan menjadi semakin sulit dicari, di saat itulah tumpukan batu di pinggir jalan menjadi sumber penghasilan alternatif.
Marni (45), warga Kampung Cidangdeur, mengatakan pekerjaan memecah batu biasanya dilakukan ketika aktivitas pertanian sedang sepi.
“Saat ini sedang musim kemarau, jadi tidak ada kerjaan tani. Kalau nanti sudah masuk musim tanam, pekerjaan di sawah kan banyak, jadi kuli memecah batu ini libur dulu,” ujar Marni kepada Sukabumiupdate.com, Sabtu (26/9/2026).
Batu-batu berukuran besar itu didatangkan oleh pemasok dan ditumpuk di pinggir jalan aspal. Para perempuan kemudian mengolahnya secara manual hingga menjadi batu split. Hasilnya akan diambil kembali oleh pemasok sesuai kebutuhan.
“Nanti kalau bos butuh, batu splitnya diambil. Harganya Rp1.200 per pengki,” kata Marni.
Nominal itu mungkin terlihat kecil. Namun bagi mereka, setiap pengki yang terisi berarti ada tambahan uang untuk dapur yang harus tetap mengepul. Pekerjaan dimulai ketika sebagian orang mungkin baru menyelesaikan sarapan.
Baca Juga: Keluhan Limbah SPPG Parungseah Sukabumi, Warga Minta Aliran Pembuangan Tak Lewati Permukiman
Nepah (57), warga Kampung Cipeuteuy, mengaku mulai memecah batu sekitar pukul 07.00 WIB, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Tangannya kemudian kembali bekerja hingga sore.
“Mulai aktivitas tadi pagi sesudah beres-beres di rumah, sekitar pukul 07.00 WIB, sampai selesai sore hari pukul 16.00 WIB. Kadang-kadang dibantu sama cucu kalau mereka lagi ada waktu senggang,” tutur Nepah.
Delapan jam berada di dekat tumpukan batu bukan perkara mudah. Palu yang terus diayunkan membuat tangan dan bahu bekerja tanpa henti. Debu batu menempel di pakaian dan kulit. Serpihan batu pun sewaktu-waktu dapat melesat ketika bongkahan dihantam.
Namun pekerjaan itu tetap mereka jalani. Tidak ada target produksi yang benar-benar sama setiap hari. Banyaknya batu yang berhasil dipecahkan bergantung pada ukuran dan karakter bahan yang datang.
Jika bongkahan terlalu besar, pekerjaan menjadi lebih berat karena batu harus dibelah terlebih dahulu sebelum dipecah menjadi ukuran split.
15, 20, hingga 30 Pengki Sehari
Hati (42), salah seorang buruh pemecah batu, mengatakan hasil yang diperoleh dari pagi hingga sore cukup beragam. Dalam sehari, ia bisa mengumpulkan belasan hingga puluhan pengki batu split.
“Kalau hasilnya dari pagi hingga sore itu relatif, ada yang dapat 15, 20, sampai 30 pengki. Tergantung bahan batunya. Kalau bahan batunya besar-besar, itu kan harus dipecahkan dulu jadi ukuran lebih kecil supaya mudah dibikin ukuran split,” jelas Hati.
Baca Juga: Bantah Gelapkan TR4, Tani Merdeka Sukabumi: Alat Dipinjamkan ke Petani yang Membutuhkan
Batu-batu itu nantinya digunakan sebagai material bangunan, mulai dari campuran beton hingga pengerasan jalan.
Ironisnya, material yang kelak menopang kokohnya berbagai bangunan tersebut lebih dulu melewati tenaga perempuan-perempuan yang bekerja dalam senyap di pinggir jalan.
Mereka tidak mengenakan seragam. Tidak pula bekerja di ruangan berpendingin udara. Yang mereka punya hanyalah palu, batu, dan kemauan untuk terus bekerja.
Upah untuk Dapur dan Sekolah Anak
Di balik pekerjaan kasar itu, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Ada uang belanja dapur. Ada kebutuhan sekolah anak. Ada bumbu masakan yang harus dibeli. Ada pula kebutuhan rumah tangga yang tidak bisa menunggu sampai musim tanam tiba. Karena itu, setiap pengki yang berhasil mereka pecahkan memiliki arti tersendiri.
“Ya, lumayan buat jajan anak sekolah, beli bumbu dapur, dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” pungkas Hati.
Kalimat sederhana itu menggambarkan alasan mereka tetap bertahan di tengah panas, debu, dan kerasnya batu. Bagi mereka, memecah batu bukan pekerjaan yang mudah. Tetapi selama tangan masih mampu mengayunkan palu, ada penghasilan yang bisa dibawa pulang.
Baca Juga: Guruh Soekarnoputra, Putra Bungsu Soekarno, Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun
Dentang Palu dan Ketangguhan Perempuan Purwasedar
Menjelang sore, matahari perlahan mulai condong. Tumpukan batu yang sejak pagi menggunung sedikit demi sedikit berubah menjadi pecahan split. Dentang itu mungkin hanya terdengar seperti suara pekerjaan kasar di pinggir jalan.
Namun bagi emak-emak Purwasedar, setiap dentang menyimpan cerita tentang bertahan hidup. Tentang perempuan yang setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga masih harus mengadu tenaga dengan batu.
Tentang ibu-ibu yang memanfaatkan musim kemarau untuk mencari penghasilan ketika sawah belum bisa digarap. Dan tentang keluarga yang tetap harus berjalan, meski musim sedang membuat sebagian pekerjaan berhenti.














