Ruang Kelas MTs di Lengkong Ambruk, 92 Pelajar Belajar Bergiliran di Musala hingga LAB

Sukabumiupdate.com
Senin 14 Sep 2026, 17:48 WIB
Ruang Kelas MTs di Lengkong Ambruk, 92 Pelajar Belajar Bergiliran di Musala hingga LAB

Kondisi ruang belajar MTs Bumi Persada di Kampung Sodong, Desa Langkapjaya, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, yang ambruk pada Senin (14/9/2026). (Sumber : Istimewa.)

SUKABUMIUPDATE.com - Satu ruang belajar di MTs Bumi Persada, Kampung Sodong RT 20/05, Desa Langkapjaya, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, ambruk pada Senin (14/9/2026) sekitar pukul 10.30 WIB. Ambruknya bangunan tersebut sempat mengejutkan para guru dan pelajar yang berada di lingkungan sekolah.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Saat bangunan ambruk, para pelajar tengah beristirahat dan berada di lapangan upacara sehingga tidak berada di dalam ruangan.

Kepala MTs Bumi Persada, Dadan, mengaku bersyukur karena kejadian tersebut berlangsung ketika para pelajar berada di luar kelas.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Anak-anak sedang istirahat, berada di lapangan upacara dan belum masuk lagi ke kelas,” kata Dadan, kepada Sukabumiupdate.com.

Baca Juga: Khansa Nisa Arrosid, Remaja Cicurug Bermimpi Gabung Timnas U-17 Usai Tampil di Srikandi Merdeka Cup

Namun, rasa lega itu bercampur dengan kekhawatiran. Pasalnya, bangunan yang ambruk bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi sekolah.

Dadan mengatakan, terdapat sedikitnya delapan ruangan yang mengalami kerusakan berat yang membutuhkan rehabilitasi. Dari jumlah tersebut, empat ruangan mengalami kerusakan hingga ambruk, termasuk satu ruang yang ambruk pada Senin (14/9/2026) pagi tadi.

Bahkan, satu ruangan lainnya yang digunakan sebagai ruang kepala sekolah juga berada dalam kondisi memprihatinkan.

“Rehab semuanya dengan kerusakan berat ada 8 ruangan dan kondisi yang mengalami ambruk ada 4 kelas 7, kelas 8, kelas 9 termasuk ruang kepala sekolah,” ucapnya.

Baca Juga: Kedalaman 10 Km, Gempa M:5.6 di Jalur Megathrust: Warga di Palabuhanratu: Ngarieug

Sebelumnya, ruang kelas yang digunakan pelajar kelas 9 juga telah lebih dulu ambruk sekitar Juli-Agustus 2026.

Kondisi tersebut membuat pihak sekolah harus mencari cara agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Sejumlah ruangan yang masih dapat digunakan pun dialihkan untuk kegiatan belajar pelajar.

Saat ini, siswa MTs Bumi Persada harus belajar secara bergiliran. Kelas 7 menggunakan musala sekolah, kelas 8 menempati ruang laboratorium, sedangkan kelas 9 harus menumpang di ruang belajar MA atau Madrasah Aliyah Bumi Persada.

Persoalan baru muncul karena MA Bumi Persada sendiri hanya memiliki tiga ruang belajar, masing-masing untuk kelas 10, 11 dan 12.

Baca Juga: Diduga Lapuk dan Terdampak Gempa, Rumah Janda Lansia di Surade Sukabumi Ambruk

Ruang-ruang tersebut akhirnya harus digunakan bergantian oleh siswa MTs. Kondisi itu membuat proses belajar mengajar menjadi jauh dari ideal.

“MA juga hanya punya tiga ruang, untuk kelas 10, 11 dan 12. Jadi yang ada terpaksa dipakai bergantian oleh kelas 9, karena bingung harus menggunakan ruangan yang mana lagi,” tuturnya.

Dadan mengaku prihatin melihat kondisi para pelajar, baik MTs maupun MA. Keterbatasan ruang membuat sebagian pelajar harus belajar di tempat yang sempit.

Bahkan, musala sekolah yang ukurannya diperkirakan hanya sekitar 3 x 4 meter terpaksa digunakan sebagai ruang belajar.

Baca Juga: Siswi SMK Diduga Dilecehkan Oknum Pejabat Dishub Sukabumi Saat PKL

“Kasihan juga anak-anak Aliyah, siswa dan siswinya. Mereka belajar di ruangan sempit. Musala ukuran sekitar 3 x 4 meter juga digunakan untuk belajar, termasuk kelas 12,” katanya.

Kekhawatiran terbesar kini justru menghadapi musim hujan. Sebab, sejumlah ruangan yang masih dapat digunakan pada musim kemarau dinilai tidak lagi aman apabila hujan mulai turun.

“Kalau musim hujan sudah tidak bisa ditempati. Kalau musim kemarau, dari empat ruang yang tersisa masih bisa digunakan seperti sekarang. Cuma saya sudah bingung nanti kalau musim hujan. Saya sudah takut dari sekarang,” ungkapnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, Dadan tetap berusaha mempertahankan keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut.

MTs Bumi Persada saat ini memiliki sekitar 92 pelajar. Jumlah tersebut belum mencapai 100 siswa.

Baca Juga: Sambut 2.034 Maba UMMI, Pemkab Sukabumi Serahkan Beasiswa Bupati "Generasi Mencrang"

Menurut Dadan, sejak awal keberadaan sekolah, orientasinya bukan sekadar mengejar jumlah peajar, tetapi memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga yang kurang mampu agar tetap bisa mengenyam pendidikan dan mendapatkan ijazah.

“Saya dari awal lebih memilih menolong orang yang tidak mampu daripada mereka tidak sekolah. Daripada anak-anak tidak punya ijazah,” katanya.

Ia menyebut, sebagian masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi biasanya memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah lain. Namun, MTs Bumi Persada tetap menjadi pilihan bagi anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi.

“Sekarang pendidikan kan bukan hanya enam atau sembilan tahun, tapi 12 tahun. Jadi saya tetap menolong anak-anak supaya mereka bisa sekolah,” ujarnya.

Baca Juga: Purbaya Out! Prabowo Lantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan, Ini profilnya

Kini, setelah tiga ruang kelas ambruk, perjuangan itu menghadapi ujian baru. Sebanyak 92 pelajar MTs Bumi Persada harus belajar dengan fasilitas seadanya, berpindah dari musala, laboratorium hingga ruang kelas MA.

Bagi Dadan, persoalannya bukan hanya tentang bangunan yang runtuh. Ada kekhawatiran yang lebih besar yakni bagaimana memastikan anak-anak tetap bisa belajar dengan aman ketika musim hujan tiba.

 

Berita Terkait
Berita Terkini