Karhutla di Jampangtengah Sukabumi Sulit Padam, Bara Masih Tersisa di Lahan Pinus

Sukabumiupdate.com
Senin 10 Agu 2026, 11:23 WIB
Karhutla di Jampangtengah Sukabumi Sulit Padam, Bara Masih Tersisa di Lahan Pinus

Kondisi lahan Perhutani BKPH Bojonglopang, RPH Nangka Tepus, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, pascakebakaran hutan dan lahan (karhutla), Senin (10/8/2026). (Sumber Foto: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghanguskan sekitar 18 hektare kawasan Perum Perhutani BKPH Bojonglopang, RPH Nangka Tepus, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan belum padam sepenuhnya.

Hingga Senin pagi (10/8/2026) masih ditemukan sejumlah titik yang mengeluarkan asap dan bara kecil dari sisa tunggul serta kayu bekas tebangan di lokasi kebakaran.

Sebelumnya, karhutla tersebut diketahui terjadi pada Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 18.00 WIB dan membakar area hutan produksi Perhutani di kawasan Gunung Gubug.

Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Jampangtengah, Dadi Supardi, mengatakan berdasarkan laporan dari Tagana dan pihak Perhutani, api sudah tidak lagi merambat ke area lain.

“Api sudah tidak merambat ke lokasi lain, tetapi apinya masih menyala di area yang terbakar. Kemungkinan kecil merambat ke tempat lain karena sudah habis, tinggal tersisa sisa-sisa api dari tunggul kayu,” ujar Dadi kepada sukabumiupdate.com, Senin pagi (10/8/2026).

Baca Juga: Karhutla Hanguskan 18 Hektare Lahan Perhutani di Jampangtengah Sukabumi, Api Masih Berkobar

Sementara itu, Kepala Desa Bojongjengkol, Nirwana menambahkan, lahan yang terbakar merupakan area bekas penebangan pohon pinus yang masih menyisakan banyak ranting, daun kering, dan potongan kayu yang mudah terbakar saat musim kemarau.

“Lahannya bekas penebangan kemarin. Biasanya sesudah lahan terbakar, bekasnya akan digarap untuk bercocok tanam. Kemungkinan dibakar sama orang jahil begitu,” kata Nirwana.

Ia menjelaskan, kepulan asap sempat terlihat selama hampir dua hari. Namun kobaran api tidak meluas ke kawasan lain dan hanya terjadi di sekitar area bekas penebangan.

Menurut Nirwana, kawasan tersebut sebelumnya merupakan hamparan hutan pinus yang cukup luas. Sebagian area kini telah dibuka dan dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan pertanian.

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sembarangan, terutama di tengah kondisi cuaca yang kering.

“Namanya juga sudah dilarang, jadi harus hati-hati, jangan sampai ada yang membakar karena sekarang sedang musim kemarau. Namanya juga masyarakat, mungkin ada saja yang iseng, kemudian membakar dan akhirnya menjadi repot,” ujarnya.

Meski terjadi di kawasan hutan, Nirwana memastikan kebakaran tidak mengancam permukiman warga. Lokasi kejadian berada cukup jauh dari kampung dan berada di kawasan perbukitan dengan medan yang terjal.

“Kalau untuk ke kampung, aman karena lokasinya jauh dari permukiman,” katanya.

Baca Juga: Ancaman Kekeringan dan Karhutla, Bayu Permana Soroti Tata Kelola Lingkungan Sukabumi

Ia menambahkan, material yang terbakar didominasi sisa kayu hasil penebangan, ranting, dan dedaunan kering. Beberapa titik yang masih mengeluarkan asap diduga berasal dari tunggul pohon pinus yang menyimpan bara di bagian dalam.

Proses penanganan kebakaran juga menghadapi kendala akses. Mobil pemadam kebakaran tidak dapat menjangkau lokasi karena tidak tersedia jalan kendaraan menuju titik kebakaran.

“Untuk pemadaman menggunakan mobil pemadam kebakaran mana bisa masuk lewat jalan itu. Tidak ada akses ke hutan, medannya berupa hutan yang terjal dan berlereng,” ungkapnya.

Hingga berita ini diterbitkan, sukabumiupdate.com masih menunggu keterangan resmi dari Perum Perhutani terkait penyebab pasti kebakaran serta data final luas lahan yang terdampak.

Berita Terkait
Berita Terkini