Komunikasi Hijau: Sebuah Ikhtiar Merawat Peradaban Digital

Sukabumiupdate.com
Jumat 25 Sep 2026, 14:10 WIB
Komunikasi Hijau: Sebuah Ikhtiar Merawat Peradaban Digital

Turangga Anom (Sumber: dok anom)

Oleh: Turangga Anom (Anak Muda Suka Menulis - Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Insan Cita Indonesia)

Tidak ada zaman dalam sejarah manusia yang menghasilkan informasi sebanyak hari ini. Ironisnya, belum pernah pula kepercayaan publik terasa serapuh sekarang. Setiap hari kita dibanjiri berita, unggahan media sosial, video pendek, hingga konten yang dihasilkan kecerdasan buatan. Informasi bergerak tanpa henti, tetapi tidak selalu melahirkan pemahaman. Di tengah kelimpahan informasi, kepercayaan justru menjadi barang yang kian langka.

Marshall McLuhan mengingatkan bahwa media bukan sekadar saluran penyampai pesan, melainkan ikut membentuk cara manusia memahami realitas. Di era digital, peringatan itu terasa semakin relevan. Algoritma tidak hanya menentukan apa yang tampil di layar, tetapi juga mempengaruhi apa yang dibaca, dipercaya, bahkan diperdebatkan. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan komunikasi tidak lagi sebatas memastikan pesan sampai kepada khalayak. Yang lebih mendasar ialah memastikan komunikasi tetap memperkuat kehidupan bersama. Sebab, komunikasi yang menarik perhatian tidak selalu membangun kepercayaan.

Indikator Efektivitas Tidak Lagi Cukup

Selama ini, keberhasilan komunikasi kerap diukur dari luasnya jangkauan pesan, tingginya keterlibatan audiens, atau besarnya pengaruh terhadap perilaku. Ukuran itu tetap relevan, tetapi tidak lagi memadai.

Baca Juga: Lionel Messi Segera Jalani Laga Perpisahan Bersama Argentina, Lionel Scaloni Buka Suara

Kita terlalu sering bertanya seberapa cepat informasi menyebar, tetapi jarang mempertanyakan seberapa lama dampaknya bertahan. Padahal, informasi yang hidup hanya dalam hitungan detik dapat meninggalkan jejak sosial yang bertahan bertahun-tahun. Tidak semua jejak manusia tampak di ruang fisik; sebagian tertinggal di ruang digital melalui kata-kata yang dibagikan, dipercaya, dan diulang.

Karena itu, komunikasi tidak cukup dinilai dari efektivitasnya, melainkan juga dari kemampuannya menjaga kepercayaan, memperluas dialog, dan menghadirkan dampak yang berkelanjutan.

Mengapa Komunikasi Hijau?

Sejak Laporan Brundtland (1987) memperkenalkan gagasan pembangunan berkelanjutan, konsep keberlanjutan meluas ke berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga tata kelola lingkungan. Namun, satu pertanyaan penting masih jarang diajukan: bagaimana jika praktik komunikasinya sendiri juga dituntut untuk berkelanjutan?

Dari pertanyaan itulah Komunikasi Hijau diperkenalkan sebagai gagasan: cara pandang yang menempatkan keberlanjutan, tanggung jawab, dan dampak jangka panjang sebagai prinsip utama dalam praktik komunikasi. Komunikasi hijau tidak hanya membahas apa yang dikomunikasikan, tetapi juga bagaimana pesan itu diproduksi, disebarkan, dan dampak sosial apa yang ditinggalkannya.

Baca Juga: Gegara Tumis Buncis Daging Giling, Menu MBG di SDN Cibungur 1 Sukabumi Viral

Gagasan ini berbeda dari komunikasi lingkungan yang berfokus pada isu ekologis, maupun komunikasi berkelanjutan yang digunakan untuk mendukung agenda pembangunan. Komunikasi hijau justru menyoroti dimensi yang lebih mendasar: bahwa setiap tindakan komunikasi membawa konsekuensi sosial yang tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab etis.

Sebagai contoh, sebuah potongan video yang diunggah tanpa konteks dapat dengan cepat membentuk persepsi keliru dan memicu kemarahan publik sebelum klarifikasi sempat muncul. Dalam hitungan jam, ruang digital dipenuhi reaksi yang belum tentu berdasar fakta utuh. Situasi ini menunjukkan bahwa komunikasi tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang meluas bahkan sebelum kebenarannya dipastikan.

Dengan demikian, perhatian tidak berhenti pada isi pesan, tetapi bergeser pada dampak jangka panjang yang ditinggalkan komunikasi dalam kehidupan sosial. Komunikasi bukan sekadar proses penyampaian informasi, melainkan tindakan sosial yang membentuk cara manusia berpikir dan berhubungan satu sama lain.

Dari Polusi Menuju Keberlanjutan Komunikasi

Dalam perspektif ini, ruang publik dapat mengalami apa yang dapat disebut sebagai polusi komunikasi. Sebagaimana sungai tercemar oleh limbah, ruang informasi dapat tercemar oleh hoaks, disinformasi, fitnah, manipulasi visual, budaya clickbait, dan ujaran kebencian. Bedanya, pencemaran ini tidak berwarna dan tidak berbau, tetapi perlahan mengikis kepercayaan, memperdalam polarisasi, dan melemahkan kualitas dialog publik.

Baca Juga: Aries Budiman Meninggal Dunia, Fedi Nuril: Gue Gak Bakal Lupa Pertama Kali Kita Ketemu

Sebaliknya, setiap tindakan komunikasi meninggalkan jejak komunikasi. Informasi yang akurat memperkuat kredibilitas. Pernyataan yang bertanggung jawab membangun kepercayaan. Sebaliknya, informasi yang keliru dapat terus berulang, dikutip, dimaknai ulang, dan membentuk persepsi publik jauh setelah ia pertama kali muncul. Di ruang digital, hampir tidak ada pesan yang benar-benar hilang.

Karena itu, keberhasilan komunikasi tidak cukup diukur dari daya jangkaunya, tetapi juga dari kontribusinya dalam menjaga kesehatan ekosistem informasi.

Merawat Peradaban Digital

Pada akhirnya, peradaban digital tidak hanya ditopang oleh teknologi, tetapi juga oleh kebiasaan komunikasi yang kita praktikkan setiap hari. Ketika seseorang memilih memeriksa kebenaran sebelum membagikan informasi, mengutamakan dialog ketimbang caci maki, atau mendahulukan fakta di atas sensasi, ia sesungguhnya sedang merawat ruang publik.

Jika pembangunan berkelanjutan mengajarkan pentingnya menjaga bumi agar tetap layak dihuni, maka komunikasi hijau mengingatkan pentingnya menjaga ruang publik agar tetap layak dipercaya. Sebab, peradaban tidak hanya diwariskan melalui teknologi yang diciptakannya, tetapi juga melalui kualitas percakapan yang dibangunnya.

Baca Juga: Dulu Tak Suka Matematika, Catherine Siswi SMK di Cicurug Sukabumi Ini Justru Raih Medali Emas

Barangkali, krisis terbesar masyarakat digital bukanlah banjir informasi, melainkan surutnya kepercayaan. Dalam konteks itulah komunikasi hijau menemukan relevansinya: sebagai ikhtiar mengembalikan komunikasi pada tujuan dasarnya, yakni membangun manusia, memperkuat kepercayaan, dan merawat peradaban digital yang sehat, sadar, dan berkelanjutan—sebuah ruang bersama yang tidak hanya terhubung oleh teknologi, tetapi juga oleh tanggung jawab moral dalam setiap kata yang kita pilih untuk disebarkan.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini