SUKABUMIUPDATE.com - Para petani di Desa Sukamukti, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, menyambut baik pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) yang dilaksanakan secara swakelola oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Garda Padi.
Program tersebut berupa peningkatan jaringan irigasi Daerah Irigasi Sukatani dengan dukungan anggaran sebesar Rp195 juta yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026.
Berdasarkan papan informasi kegiatan, pekerjaan tersebut berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan SDA Citarum. Pekerjaan dilaksanakan selama 45 hari kalender oleh P3A Garda Padi Desa Sukamukti.
Baca Juga: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026, John Herdman Bakal Dievaluasi?
Salah seorang petani setempat, Yogi (35 tahun), mengatakan keberadaan program tersebut sangat membantu masyarakat, khususnya para petani yang selama ini mengandalkan jaringan irigasi untuk memenuhi kebutuhan air persawahan.
Menurut Yogi, para petani juga merasa terbantu karena pekerjaan dilakukan secara swakelola oleh kelompok petani yang menjadi pemilik sekaligus pengguna langsung jaringan irigasi tersebut.
"Kami para petani menyambut baik dan mengucapkan terima kasih dengan adanya program P3A ini. Karena yang mengerjakan juga petani, jadi kami benar-benar tahu kebutuhan irigasi untuk sawah kami," ujar Yogi kepada Sukabumiupdate.com, Sabtu (8/8/2026).
Baca Juga: Cuaca Jawa Barat 8 Agustus 2026, Sukabumi Potensi Cerah Berawan di Akhir Pekan
Yogi menilai pembangunan secara swakelola memiliki kelebihan karena para petani tidak sekadar mengerjakan proyek, tetapi juga akan menggunakan dan merawat hasil pembangunan tersebut.
Ia berharap konstruksi jaringan irigasi yang dibangun dengan memperhatikan kebutuhan dan kualitas tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.
"Kalau kami yang mengerjakan, tidak mungkin asal-asalan. Ini untuk aliran air ke sawah kami sendiri. Harapannya bisa bertahan 20 sampai 30 tahun, karena memang kami yang akan menggunakan dan merawatnya," katanya.
Baca Juga: Ono Surono Soroti Banyak KDMP Belum Berjalan, Minta Desa Dilibatkan
Sementara itu, Ketua P3A Garda Padi, Agus Salim, menjelaskan dalam pelaksanaannya pembangunan jaringan irigasi tersebut bahkan melebihi target awal. Dari rencana pekerjaan sekitar 433 meter, realisasi pembangunan mencapai sekitar 486 meter atau bertambah kurang lebih 50 meter.
Menurut Agus, penambahan tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan di lapangan. Para petani memilih memanfaatkan pelaksanaan program untuk memperpanjang jaringan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
"Kalau dihitung dari sisi keuntungan, petani tidak mencari keuntungan dari pekerjaan ini. Yang penting kebutuhan irigasi sawah terpenuhi. Karena ini untuk kepentingan bersama," jelasnya.
Baca Juga: KDM dan Kapolda Jabar Musnahkan Barang Bukti Jutaan Butir Tramadol, Knalpot Brong hingga Miras
Selain peningkatan jaringan irigasi, masyarakat juga membangun bendung tambahan dengan panjang sekitar 6 meter, tinggi 2 meter, ketebalan bagian atas sekitar 40 sentimeter dan bagian bawah sekitar 80 sentimeter.
Agus juga membantah adanya isu mengenai potongan anggaran dalam pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, tidak adanya potongan justru terlihat dari adanya sejumlah pekerjaan tambahan yang dilakukan untuk meningkatkan manfaat pembangunan.
"Kami menepis adanya isu potongan. Sama sekali tidak benar. Buktinya, ada penambahan pekerjaan, termasuk penambahan lantai anti sedimentasi di ujung curugan akhir pekerjaan yang tidak ada dalam juknis awal," ungkapnya.
Baca Juga: Tanah Labil, TPT Proyek Jembatan Cikalomeran Warungkiara Sukabumi Ambruk Saat Pengurugan
Ia menambahkan, berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi, pelaksanaan pembangunan bahkan dinilai memiliki kelebihan pekerjaan sekitar 50 meter dibandingkan target awal.
Bendung tambahan yang dibangun tersebut memang tidak tercantum dalam petunjuk teknis awal. Namun, pembangunan dilakukan karena dinilai sangat dibutuhkan berdasarkan kondisi di lapangan.
"Memang tambahan bendung ini tidak ada dalam juknis, tetapi kami melihat sangat penting untuk membantu mengatur dan memasok air ke jaringan irigasi," katanya.
Baca Juga: Pencurian Baterai BTS di Bangbayang Cicurug Gagal, Pelaku Kabur Tinggalkan Mobil
Dengan adanya peningkatan jaringan irigasi tersebut, pasokan air diharapkan dapat menjangkau area persawahan sekitar 30 hektar di wilayah Desa Sukamukti. Agus menilai program tersebut tidak hanya memberikan manfaat berupa peningkatan infrastruktur pertanian, tetapi juga membuka aktivitas pekerjaan bagi masyarakat melalui pola padat karya.
Terlebih, saat musim kemarau sebagian petani tidak dapat bekerja secara maksimal di sawah karena keterbatasan pasokan air. "Program padat karya seperti ini sangat membantu. Ketika musim kemarau dan petani tidak bisa bekerja di sawah, adanya pekerjaan seperti ini setidaknya membantu masyarakat mendapatkan penghasilan," tuturnya.
Agus mengatakan pengerjaan jaringan irigasi saat ini telah mencapai 100 persen. Sementara itu, sisa material berupa batu dan sekitar 30 zak semen tidak dibiarkan begitu saja. Material tersebut didonasikan untuk kegiatan penambalan jalan serta pembangunan dan pemeliharaan fasilitas majelis taklim di lingkungan masyarakat.
Baca Juga: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026, 11 Pemain Naturalisasi Jadi Sorotan
Ia berharap program serupa dapat terus dilanjutkan dan menyentuh jaringan irigasi lain yang masih membutuhkan perbaikan. "Terima kasih kepada Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya Balai Besar Wilayah Sungai Citarum. Kami sebagai petani sangat terbantu dengan adanya program ini. Mudah-mudahan ke depan program seperti ini terus berlanjut," pungkasnya. (*)















