BGN Temukan Stok Susu Kedaluwarsa di SPPG Cibadak 02, 39 Siswa SDN Bojongkoneng Keracunan

Sukabumiupdate.com
Rabu 29 Jul 2026, 20:57 WIB
BGN Temukan Stok Susu Kedaluwarsa di SPPG Cibadak 02, 39 Siswa SDN Bojongkoneng Keracunan

Firman Juliansyah, Koordinator BGN Wilayah Kabupaten Sukabumi | Foto : Ibnu Sanubari

SUKABUMIUPDATE.com - Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan telah menerima laporan terkait puluhan siswa SDN Bojongkoneng, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG). Menyusul laporan tersebut, BGN langsung menurunkan tim untuk melakukan pengecekan ke lapangan dan menyiapkan langkah mitigasi.

Koordinator BGN Wilayah Kabupaten Sukabumi, Firman Juliansyah, mengatakan laporan diterima pada Selasa (28/7/2026) siang. Setelah itu, pihaknya meminta koordinator kecamatan segera menuju lokasi untuk memastikan penanganan terhadap siswa yang terdampak.

Menurut Firman, menu MBG yang disajikan pada Selasa (28/7/2026) berasal dari SPPG Sukabumi Cibadak 02, yang mulai beroperasi sejak 19 Agustus 2025. Pada hari itu, menu yang dibagikan kepada penerima manfaat terdiri dari nasi liwet, telur asam manis, tumis wortel jagung, susu, dan buah lengkeng.

"Sudah diterima per kemarin siang. Kemarin pun langsung saya minta koordinator kecamatan, Kang Gusoy, untuk segera mengecek ke lokasi dan menyiapkan langkah-langkah mitigasi, terutama bagi siswa yang terdampak," kata Firman, Rabu (29/7/2026).

Baca Juga: Prabowo Kalah dari Dedi Mulyadi Jika Pemilu Digelar Saat Ini Menurut Survei SMRC

Firman menjelaskan, SPPG Cibadak 02 melayani sebanyak 1.821 penerima manfaat. Khusus di SDN Bojongkoneng terdapat 218 penerima manfaat yang menerima menu pada hari tersebut.

Saat tim SPPG melakukan koordinasi ke SDN Bojongkoneng sekitar pukul 09.20 WIB, Kepala SPPG memperoleh informasi adanya beberapa produk susu yang telah melewati tanggal kedaluwarsa. Menindaklanjuti temuan itu, seluruh susu di sekolah langsung ditarik dan diganti dengan produk baru sebanyak 218 kemasan, sesuai jumlah penerima manfaat di sekolah tersebut.

"Memang ada beberapa susu yang terindikasi sudah kedaluwarsa. Jadi bukan total semuanya, hanya beberapa karton. Yang lainnya keburu ditarik. Nah, untuk sekolah ini karena sudah telanjur dikonsumsi sehingga terjadi kejadian itu," ujarnya.

Firman mengatakan, sekitar pukul 09.45 WIB pihaknya menerima laporan awal dari sekolah bahwa terdapat 10 siswa yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi susu. Setelah dilakukan observasi, jumlah tersebut bertambah menjadi 17 siswa pada hari yang sama.

Ia menyebut, berdasarkan hasil penelusuran sementara, susu yang ditemukan melewati masa kedaluwarsa merupakan susu UHT rasa cokelat dengan tanggal kedaluwarsa 28 Juni 2026.

"Kurang lebih sebulan, karena tertanggal 28 Juni di labelnya," katanya.

Baca Juga: Asrama Ponpes Assalafoah Nurul Hikmah Parungkuda Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp20 Juta

Pada hari pertama kejadian, dari 17 siswa yang terdampak, sebanyak 16 orang mengalami gejala ringan, sementara dua siswa mengalami gejala yang lebih berat berupa muntah dan diare. Satu siswa dibawa ke puskesmas secara mandiri oleh orang tuanya karena mengalami sesak napas, sedangkan siswa lainnya mendapatkan penanganan di rumah.

Firman mengatakan, pihaknya langsung berkoordinasi dengan tenaga kesehatan untuk memberikan penanganan awal kepada siswa yang terdampak, di antaranya dengan menyediakan air kelapa, obat-obatan, serta melakukan kunjungan berkala ke rumah siswa. Selain itu, dua siswa juga sempat menjalani pemeriksaan oleh bidan.

Perkembangan kondisi siswa terus dipantau. Hingga Rabu (29/7/2026) pagi, jumlah siswa yang dilaporkan mengalami keluhan bertambah menjadi 39 orang. Dari jumlah tersebut, 16 siswa telah dinyatakan pulih, sementara 22 siswa masih mengalami gejala ringan dan menjalani perawatan di rumah.

"Terakhir tadi pagi tinggal 22 orang siswa yang masih bergejala. Yang lainnya sudah pulih kembali, bahkan ada yang sudah kembali ke sekolah. Satu orang yang kemarin mengalami demam juga sudah ditangani dan sudah kembali ke rumah," ujarnya.

Sementara itu, satu siswa yang mengalami suhu tubuh tinggi dan memiliki riwayat kejang dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Baca Juga: 1.139 Pemilih Disabilitas, Bagaimana Menjaga Hak Politik yang Setara di Kota Sukabumi

Firman menjelaskan, secara prosedur distribusi telah berjalan sesuai standar operasional. Namun, ia mengakui terdapat kelemahan pada proses pemeriksaan saat barang diterima di dapur.

"Distribusi normatif sesuai SOP. Namun ada kelemahannya di pengecekan ketika susu itu datang. Dari sekian karton, ada beberapa karton yang terindikasi memang sudah kedaluwarsa. Itu yang mungkin luput dari pengecekan. Ini sudah kami evaluasi," ucapnya.

Terkait tanggung jawab atas kualitas pangan yang didistribusikan, Firman mengatakan mitra penyelenggara dan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki tanggung jawab karena penentuan pemasok merupakan kewenangan mitra.

"Tentunya mitra dan Kepala SPPG juga harus bertanggung jawab. Penentuan supplier itu kewenangan mitra dan mitra harus memastikan supplier yang bekerja sama dapat menjamin kualitas keamanan pangannya," ujarnya.

Sementara itu, operasional SPPG Cibadak 02 masih tetap berjalan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Namun, khusus distribusi MBG ke SDN Bojongkoneng, sementara dialihkan ke SPPG lain untuk menghindari trauma pada para penerima manfaat.

"Untuk sekolah khusus SDN Bojongkoneng, per hari ini sudah dialihkan ke SPPG lain. Sejauh ini operasional masih berjalan," jelasnya.

Baca Juga: Air Terjun, Kolam Alami, dan Jalur Trekking Mudah Jadi Daya Tarik Curug Leuwi Asih

Firman mengatakan sampel makanan dan minuman telah diambil oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda), sedangkan tim penelusuran dari Dinas Kesehatan juga telah turun ke lapangan. Hasil uji laboratorium diperkirakan baru dapat diketahui paling cepat sekitar dua minggu.

"Nanti kita tunggu hasil pengujian. Apakah benar dari dugaan yang kita lihat pada susu atau mungkin ada faktor lain. Paling cepat hasilnya biasanya sekitar dua minggu," katanya.

Sebagai tindak lanjut, BGN juga meminta seluruh SPPG memperketat pengawasan terhadap bahan pangan melalui sistem pemeriksaan berlapis. Pemeriksaan dilakukan sejak bahan datang, saat pencatatan ke kartu stok, hingga proses pemorsian. Sebelum didistribusikan, Kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, dan koordinator pemorsian juga wajib melakukan uji organoleptik untuk memastikan makanan dan minuman layak dikonsumsi.

"Kita sampaikan agar selalu cek dan recheck, bahkan bisa melakukan triple check. Kalau dirasa tidak aman, tidak boleh didistribusikan pada hari itu," tegasnya.

Baca Juga: Eks Bek Persib Bandung Federico Barba Kembali ke Italia, Gabung Palermo FC

Firman mengimbau masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

"Kami sesuai prosedur tetap menunggu hasil pemeriksaan dari Labkesda dan tim Dinas Kesehatan. Karena dari total penerima manfaat, hanya sebagian yang mengalami keluhan, sementara yang lain tidak terdampak. Jadi kita tunggu hasil pemeriksaannya," pungkasnya.

Berita Terkait
Berita Terkini