SUKABUMIUPDATE.com - Kondisi bekas longsoran di Jalan Provinsi ruas Tamanjaya–Palangpang, tepatnya di kawasan Hutan Lindung Cipeucang, Desa Mekarsakti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, hingga kini belum mendapatkan penanganan permanen. Warga dan pengguna jalan berharap pemerintah segera mengambil langkah agar tidak membahayakan keselamatan pengendara.
Di lokasi longsoran masih terlihat bekas runtuhan tebing berupa tanah dan bebatuan di lereng dengan ketinggian sekitar 80 meter. Meski saat ini memasuki musim kemarau, kondisi tebing dinilai masih rawan dan dikhawatirkan kembali longsor ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Salah seorang warga Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Anwar, mengaku para pengguna jalan masih merasa waswas setiap kali melintasi titik bekas longsoran tersebut. Menurutnya, lokasi berada di jalur tanjakan dan turunan yang disertai tikungan sehingga memiliki tingkat risiko cukup tinggi.
Baca Juga: Head to Head Prancis vs Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026, Siapa yang Lebih Unggul ?
"Kalau melintas di lokasi itu masih khawatir. Bekas longsor masih terlihat dan kalau hujan deras takut terjadi longsor lagi. Apalagi posisi jalannya tanjakan, turunan, dan menikung," ujar Anwar kepada Sukabumiupdate.com, Sabtu (11/7/2026).
Ia berharap pemerintah segera melakukan penanganan permanen terhadap tebing yang longsor sekaligus memasang rambu-rambu peringatan agar pengguna jalan lebih berhati-hati saat melintas.
"Kalau bisa segera diperbaiki secara permanen. Minimal dipasang rambu-rambu peringatan supaya pengendara lebih waspada saat melintas di lokasi bekas longsor," katanya.
Baca Juga: Polisi Ungkap Kronologi Kecelakaan Maut L300 dan Vixion di Simpenan Sukabumi
Diketahui, longsor terjadi pada Minggu (24/5/2026) sekitar pukul 19.00 WIB di KM 208+800 ruas Jalan Tamanjaya–Palangpang. Tebing setinggi kurang lebih 80 meter ambrol hingga membawa material tanah, batu, dan sejumlah pohon tumbang yang menutup badan jalan sepanjang sekitar 70 meter.
Peristiwa tersebut sempat mengganggu arus lalu lintas menuju kawasan Geopark Ciletuh. Meski material longsoran telah dibersihkan sehingga kendaraan kembali dapat melintas, kondisi tebing yang belum mendapat penanganan permanen masih menjadi kekhawatiran masyarakat, terutama saat memasuki musim hujan.





