SUKABUMIUPDATE.com – Debit air di Bendungan Sungai Ciletuh yang berada di perbatasan Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, dengan Desa Caringinnunggal, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, mulai mengalami penurunan seiring berlangsungnya musim kemarau.
Bendungan yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pasokan air untuk kebutuhan pertanian dan kebutuhan rumah tangga masyarakat di Kecamatan Ciemas, Waluran, hingga sebagian wilayah Kecamatan Ciracap tersebut kini mulai menunjukkan tanda-tanda penyusutan. Selain debit air berkurang, kondisi air juga terlihat lebih keruh dibandingkan biasanya.
Warga Desa Caringinnunggal, Kecamatan Waluran, Agam Nurbuat, mengatakan Bendungan Ciletuh selama ini menjadi tumpuan masyarakat ketika musim kemarau tiba. Namun tahun ini, menurutnya, penurunan debit air terjadi lebih cepat.
"Belum sampai tiga bulan musim kemarau, debit air Bendungan Ciletuh sudah turun cukup drastis. Airnya juga sekarang terlihat keruh. Padahal bendungan ini sangat dibutuhkan masyarakat untuk mengairi sawah dan memenuhi kebutuhan air sehari-hari," ujar Agam kepada sukabumiupdate.com, Kamis (2/7/2026).
Baca Juga: Bupati Purwakarta Disomasi! Lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejad" Dinilai Merendahkan Perempuan
Menurut Agam, kondisi tersebut diduga tidak hanya dipengaruhi faktor musim kemarau, tetapi juga kerusakan lingkungan di kawasan hulu Sungai Ciletuh yang berada di kawasan Hutan Pasirpiring.
Ia menyebut masih adanya aktivitas tambang emas ilegal serta berkurangnya tutupan vegetasi akibat penebangan pohon diduga turut memengaruhi ketersediaan air dan kualitas air yang mengalir ke bendungan.
"Hulu Sungai Ciletuh ada di Hutan Pasirpiring. Di sana masih ada aktivitas tambang emas ilegal, ditambah banyak lahan yang terbuka karena penebangan. Kondisi itu diduga ikut memengaruhi ketersediaan air dan membuat air menjadi keruh," katanya.
Baca Juga: Kenali Manfaat dan Prosedur Klaim Jaminan Kecelakaan Kerja BPJS Ketenagakerjaan
Agam berharap pemerintah dan instansi terkait segera melakukan langkah-langkah penanganan, baik melalui pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak kawasan hulu maupun upaya rehabilitasi hutan secara berkelanjutan.
Menurutnya, kelestarian kawasan hulu Sungai Ciletuh menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan sumber air yang selama ini dimanfaatkan ribuan warga di tiga kecamatan.
"Kalau kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin pasokan air untuk pertanian maupun kebutuhan masyarakat akan semakin berkurang. Padahal puncak musim kemarau masih beberapa bulan lagi," pungkasnya.





