SUKABUMIUPDATE.com - Seorang perempuan berinisial M (31 tahun), warga Kampung Manggis Hilir, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, mengungkap pengalaman panjang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya sejak awal pernikahan.
Korban mengaku, kekerasan tersebut bukan terjadi satu atau dua kali, melainkan telah berlangsung bertahun-tahun sejak ia menikah pada 2013. Menurutnya, kekerasan yang dialami didominasi kekerasan fisik, bukan hanya verbal.
“Kalau saya sih sudah sering, bukan sekali dua kali. Mungkin sudah lebih dari sepuluh kali. Dari awal nikah memang sudah sering main tangan,” ujarnya kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (10/1/2026).
Korban menuturkan, pada awal pernikahan, perlakuan kasar suaminya sudah terlihat dari hal-hal kecil. Ketika terjadi perbedaan pendapat atau sekadar pertanyaan sederhana, pelaku kerap bereaksi berlebihan, mulai dari meluapkan emosi hingga melakukan tindakan fisik. Kondisi tersebut semakin memburuk seiring tekanan ekonomi rumah tangga.
Baca Juga: Hasil Otopsi Belum Keluar, Polisi Bantah Kesimpulan Mayat di Curug Darismin Ciracap Tanpa Kepala
“Hal kecil bisa jadi besar. Dari soal uang, belanja, sampai urusan anak. Saya lagi makan pun pernah ditendang, makanan sampai ke wajah. Mau berangkat kerja juga pernah dipukul. Itu sudah sering,” katanya.
Puncak kekerasan terjadi pada peristiwa terakhir yang menurut korban sudah di luar batas. Ia mengaku mendapat ancaman serius dari suaminya. “Yang terakhir itu benar-benar keterlaluan. Dia bilang kalau tidak bisa sama saya, mending mati bareng. Dari situ saya benar-benar takut,” ucapnya.
Pasca kejadian tersebut, korban mengaku mengalami trauma berat. Ia merasa ketakutan berada di rumah dan enggan bertemu orang lain. Saat ini, korban berada di Jakarta karena pekerjaan dan menyebut dirinya berada di tempat yang lebih aman. Sementara suaminya disebut tidak berada di rumah di Cicurug dan tinggal di rumah temannya.
Korban juga mengungkap, kekerasan yang terjadi tidak hanya menimpa dirinya, tetapi juga anak-anak mereka. Ia menyebut anak-anaknya beberapa kali menjadi korban kekerasan fisik, bahkan menyaksikan langsung perlakuan kasar pelaku.
“Anak saya pernah ditendang sampai giginya copot. Kalau anak berantem, cara dia misahin juga dengan ditendang,” ujarnya.
Baca Juga: Terjerat Birahi, Pemuda Cisaat Diciduk Usai Terlibat Kasus Pencabulan Anak di Bawah Umur
Dampak kekerasan tersebut membuat korban memilih bekerja keras demi mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Selama beberapa tahun terakhir, ia mengaku menjadi tulang punggung keluarga, termasuk memenuhi kebutuhan anak dan orang tua mertua.
“Saya kerja supaya anak-anak aman. Saya nggak mau bergantung lagi, karena setiap kali soal uang, pasti berujung kekerasan,” katanya.
Menurutnya, dalam empat tahun terakhir ia dan suaminya tidak lagi tinggal bersama. Peristiwa kekerasan terakhir terjadi saat momen Lebaran, ketika salah satu anaknya enggan kembali ke rumah. Saat itu, pelaku disebut melampiaskan amarah dengan kekerasan yang menyebabkan luka di kepala korban. “Di situ saya merasa sudah tidak bisa bertahan lagi,” ujarnya.
Setelah kejadian tersebut, korban akhirnya membawa seluruh anaknya ke Jakarta. Ia mengaku sempat kesulitan menemui anak-anaknya karena trauma bertemu pelaku. “Saya sempat hanya bisa nengok tiga bulan sekali karena takut ketemu dia,” tuturnya.
Terkait upaya hukum, korban menyatakan telah melaporkan kasus tersebut ke kepolisian. Ia mengaku sempat diarahkan ke beberapa wilayah sebelum akhirnya menjalani visum di Palabuhanratu pada 25 Desember 2025. Namun hingga kini, ia mengaku belum mendapatkan perkembangan informasi terkait penanganan kasusnya.
Baca Juga: Tebing 30 Meter Longsor Tutupi Jalan Bagbagan-Mekarsih, Akses Warga Simpenan Terputus
“Saya sudah bolak-balik, visum sampai malam. Tapi sampai sekarang belum ada kabar soal pendampingan atau penyidik,” ucapnya.
Selama proses tersebut, korban mengaku mendapat dukungan dari teman dan adiknya yang membantu menjaga anak-anak dan mendampinginya saat kondisi kesehatan menurun. “Yang bantu saya cuma teman dan adik. Mereka benar-benar jaga saya dan anak-anak,” katanya.
Korban berharap, kasus yang dialaminya bisa menjadi pelajaran bagi perempuan lain agar tidak bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan. Ia menilai, kekerasan yang terus berulang bukanlah bentuk cinta. “Kalau sudah tidak ada rasa kasihan, mau kita kasih apa pun percuma. Kekerasan itu cuma bom waktu. Tidak berubah,” ujarnya.
Ia juga mengungkap bahwa dirinya kerap dituduh memiliki orang ketiga tanpa bukti. Bahkan belakangan, ia mengetahui suaminya secara terbuka menunjukkan kedekatan dengan perempuan lain dan mendesaknya untuk segera mengurus perceraian.
“Yang paling berat itu menerima kenyataan. Saya jalan sendiri, tanggung semuanya sendiri. Tapi saya harus kuat demi anak-anak,” pungkasnya.





