SUKABUMIUPDATE.com - Ratusan keluarga penyintas bencana tanah bergerak di Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, terpaksa kembali ke rumah masing-masing meski dalam kondisi rusak dan rawan. Keputusan itu diambil setelah tidak adanya kepastian relokasi, meskipun hasil kajian menyatakan wilayah tersebut tidak aman untuk dihuni.
Bencana tanah bergerak yang terjadi pada 4 Desember 2024 lalu memaksa warga mengungsi ke tenda darurat dan SMPN 4 Purabaya. Namun, setelah sekitar satu bulan berada di tenda darurat, satu per satu warga mulai kembali ke rumah masing-masing dengan rasa waswas sambil menanti kejelasan tindak lanjut relokasi dari pemerintah.
Salah seorang warga Kampung Nangewer, Samsul Arifin (50 tahun), mengaku dilema ketika ia bersama keluarga harus kembali ke rumahnya meski kondisi bangunan sudah mengalami keretakan.
“(Saat itu) selama satu bulan mengungsi kami ingin segera kembali ke rumah, tapi belum diizinkan karena menunggu hasil kajian. Setelah dinyatakan harus direlokasi, (lalu) kami menunggu lagi, tapi 2 sampai 3 bulan tidak ada kepastian. Akhirnya dengan rasa waswas kami pulang,” ujar Samsul menceritakan alasan dirinya mengambil keputusan kembali ke rumah.
Baca Juga: Pengusaha dan 4 Saksi Diperiksa Polisi, Tragedi Maut Jetski di Pantai Buffalo Sukabumi
Ia menambahkan bahwa pihak desa sebelumnya meminta warga dievakuasi demi keselamatan. Namun, lamanya tinggal di pengungsian tanpa kejelasan membuat warga merasa jenuh. “Kalau memang tidak aman, harapannya segera direlokasi. Jangan dibiarkan seperti ini,” ungkapnya.
Sebagian warga mengaku kecewa karena merasa tidak mendapat perlakuan yang sama dengan penyintas bencana di wilayah lain. “Di kecamatan lain, warga terdampak dibangunkan hunian sementara bahkan hunian tetap. Kami justru sudah jelas hasil kajiannya harus direlokasi, tapi sampai sekarang tidak ada kabar,” keluh Samsul.“Kami hanya ingin kepastian dan keselamatan,” ucapnya.
Adapun rumah warga yang terdampak dan dihuni kembali kondisinya bervariasi, mulai dari retak ringan hingga rusak cukup parah akibat pergerakan tanah.
Kepala Desa Neglasari, Lili Rahman, membenarkan bahwa ratusan penyintas telah kembali ke rumah masing-masing karena tidak adanya kejelasan relokasi.
Menurutnya, penyintas berasal dari beberapa kampung, yakni:
• Kampung Nangewer RT 49: 55 KK
• Kampung Nangewer RT 48: 47 KK
• Kampung Karikil: 34 KK
• Kampung Jabir: 10 KK
• Kampung Udug Cirajeug: 10 KK
Baca Juga: Alasan Pemprov Jabar Tak Lagi Biayai Operasional Masjid Raya Bandung
Total terdapat ratusan kepala keluarga yang terdampak langsung. “Dari hasil kajian Badan Geologi PVMBG, wilayah ini tidak aman dan harus direlokasi. Lahan relokasi seluas empat hektare di Kampung Cikadu sudah kami siapkan dan juga sudah dikaji,” jelas Lili.
Namun hingga awal tahun 2026, realisasi relokasi tersebut belum juga terlaksana. Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret, baik dengan percepatan relokasi maupun solusi hunian yang layak dan aman.
Dari informasi yang dihimpun, dari ratusan penyintas bencana tanah bergerak hanya sebanyak 16 KK yang bertahan hampir satu di tenda darurat. Kemudian, setelah tenda darurat rusak, mereka semua kembali ke rumah masing meski diliputi rasa was was karena khawatir terjadi lagi pergerakan tanah. Sementara mereka mengetahui hasil kajian badan geologi lokasi rumah-rumah mereka tidak aman.
Berdasarkan data nominatif korban terdampak bencana pergerakan tanah dan banjir yang terjadi pada 4 Desember 2024, tercatat sebanyak 211 kepala keluarga (KK) dengan 662 jiwa yang terdampak langsung dan meninggalkan tempat tinggalnya demi keselamatan. Ratusan KK tersebut berasal dari sejumlah kampung di Desa Neglasari.





