SUKABUMIUPDATE.com – Hari ini, jika melintasi Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, yang tampak hanyalah bentang alam pedesaan, perkebunan, dan sebagian lahan yang telah berganti menjadi kebun sawit. Sulit membayangkan bahwa lebih dari satu abad silam, kawasan sunyi di kaki Gunung Salak itu pernah menjadi pusat perhatian dunia.
Dari lereng gunung inilah jutaan pucuk daun teh dipetik, diolah, lalu dikirim menyeberangi samudra menuju Eropa. Di ruang-ruang minum teh kaum bangsawan Belanda, Prancis hingga Inggris, nama Parakansalak pernah menjadi simbol kualitas. Bahkan, pada awal abad ke-20, nama perkebunan di Sukabumi itu berkali-kali muncul dalam iklan surat kabar dan majalah di Eropa, menandakan tingginya gengsi komoditas yang berasal dari tanah Priangan.
Namun, sejarah besar itu perlahan menghilang. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa Parakansalak pernah menjadi salah satu perkebunan teh paling bergengsi di dunia. Bangunan-bangunan tua mulai lapuk, jejak perusahaan nyaris lenyap, sementara kisah kejayaannya hanya bertahan dalam arsip dan ingatan segelintir orang.
Sejarawan Sukabumi, sekaligus penulis buku Soekaboemi The Untold Story, Irman Firmansyah, menyebut perjalanan menuju kejayaan itu tidak terjadi dalam semalam. Semuanya bermula dari ambisi pemerintah Hindia Belanda yang tengah mencari komoditas ekspor baru untuk menopang perekonomian kolonial.
Sekitar tahun 1828, bibit teh asal China didatangkan ke Pulau Jawa. Penanaman dilakukan di sejumlah wilayah, seperti Bogor dan Cikajang, Garut. Namun hasilnya belum memuaskan. Daun teh yang dihasilkan belum mampu memenuhi standar pasar internasional.
Di tengah upaya itu, Parakansalak justru belum masuk dalam daftar kawasan yang diproyeksikan menjadi sentra perkebunan teh.
"Awalnya Parakansalak bahkan tidak diizinkan untuk ditanami teh. Sebelumnya wilayah itu dikelola Andreas de Wilde, tetapi karena ada persoalan dengan Pemerintah Hindia Belanda, lahannya dijual kembali kepada pemerintah kolonial," ujar Irman kepada sukabumiupdate.com belum lama ini.
Percobaan penanaman sempat dilakukan dalam skala kecil. Namun hasilnya belum menunjukkan kualitas yang menjanjikan. Baru ketika keluarga pengusaha perkebunan asal Belanda, Van der Hucht, mengambil alih pengelolaan kawasan tersebut, arah sejarah mulai berubah.
Bersama keluarga Moon dan Kerckhoven, mereka membangun sistem perkebunan modern yang kemudian menjadi salah satu penggerak industri teh di Priangan.
Namun, menurut Irman, titik balik sesungguhnya terjadi ketika varietas teh Assam dari India mulai diperkenalkan di Parakansalak.
Jenis teh ini memiliki karakter yang jauh lebih kuat dibandingkan teh China. Ia tahan terhadap suhu pegunungan, lebih produktif, serta menghasilkan cita rasa yang disukai pasar Eropa.
"Teh Assam lebih kuat, tahan terhadap cuaca dan sangat cocok di daerah pegunungan. Sejak saat itu produksi teh meningkat dan Teh Parakansalak mulai dikenal luas di Eropa karena kualitasnya," katanya.
Nama Parakansalak Mulai Mendunia
Di Eropa, budaya minum teh sedang berkembang pesat. Permintaan terhadap teh berkualitas terus meningkat. Jawa menjadi salah satu pemasok utama, dan dari tanah Priangan, Parakansalak menjelma menjadi nama yang paling banyak dibicarakan.
Rentang 1900 hingga 1930 menjadi masa keemasan perkebunan tersebut. Nama Teh Parakansalak menghiasi berbagai iklan di surat kabar dan media Eropa. Merek itu dipasarkan sebagai teh premium dari Hindia Belanda, menandakan bahwa kualitasnya telah diakui di pasar internasional.
"Ketika orang Eropa mengingat teh, yang pertama mereka ingat adalah Parakansalak. Kualitasnya dianggap paling baik dibandingkan daerah lain," ungkap Irman.
Kemasan merek Teh Parakansalak pada masa kejayaannya.
Namun, kejayaan Parakansalak ternyata tidak hanya diukur dari komoditas teh.
Di balik deretan tanaman teh yang membentang di lereng Gunung Salak, tumbuh pula kehidupan sosial dan budaya yang unik. Perkebunan pada masa kolonial bukan sekadar tempat bekerja, tetapi juga menjadi sebuah "kota kecil" yang memiliki sekolah, pasar, tempat hiburan, hingga sistem ekonomi sendiri.
Para pekerja menerima upah menggunakan uang token yang hanya berlaku di lingkungan perkebunan. Mereka berbelanja di toko milik perusahaan, tinggal di rumah-rumah yang disediakan onderneming, dan menghabiskan sebagian besar hidup mereka di dalam kawasan perkebunan.
Untuk menghibur ribuan pekerja yang bekerja enam hari dalam sepekan, perusahaan membentuk kelompok-kelompok kesenian.
Gamelan Sari Oneng Ikut Mengharumkan Nama Parakansalak
Selain terkenal melalui komoditas teh, Parakansalak juga dikenal lewat kesenian tradisional Gamelan Sari Oneng yang pernah tampil di Amsterdam dan Paris pada masa kolonial.
Irman menjelaskan, hampir setiap perkebunan besar saat itu memiliki kelompok hiburan untuk para pekerja. Gamelan Sari Oneng menjadi salah satu kelompok kesenian paling terkenal dari kawasan Parakansalak dan Sinagar.
Saat pemerintah kolonial mengikuti pameran di Eropa, kelompok kesenian tersebut turut dibawa untuk memperkenalkan budaya dari wilayah jajahan Belanda.
"Orang-orang Eropa sangat menyukai pertunjukan Gamelan Sari Oneng. Mereka juga membawa tiga penari dari Parakansalak yang kemudian menginspirasi puisi hingga karya para komposer di Prancis," ujarnya.
Potret Gamelan Sari Oneng.
Ia juga mengungkapkan peristiwa unik ketika para seniman Parakansalak melakukan aksi protes di Amsterdam karena menerima bayaran yang dinilai terlalu rendah.
"Mereka sempat menolak tampil sebelum upahnya diperbaiki. Bisa jadi itu merupakan salah satu bentuk demonstrasi pertama yang dilakukan pekerja asal Indonesia di luar negeri pada masa kolonial," katanya.
Keberadaan Gamelan Sari Oneng saat ini belum diketahui secara pasti. Irman menyebut gamelan tersebut terakhir diketahui berada di Sumedang setelah sebelumnya dikembalikan kepada keluarga Bupati Sukabumi terdahulu, R.A.A Soeria Danoeningrat.
Simbol Modernitas di Kaki Gunung Salak
Para pengusaha perkebunan membangun sekolah bagi masyarakat sekitar. Mereka mengimpor kuda dari Australia untuk pacuan kuda, mendatangkan gajah dari Sumatera sebagai bagian dari koleksi perkebunan, hingga membawa sepeda roda tiga dari Eropa untuk anak-anak keluarga pengelola.
"Parakansalak saat itu menjadi simbol modernitas sehingga banyak orang dari luar negeri datang berkunjung ke kawasan tersebut," kata Irman.
Kejayaan Bertahan Lebih dari Satu Abad
Irman menyebut masa kejayaan Perkebunan Teh Parakansalak berlangsung sejak sekitar 1841 hingga nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda pada 1959.
Memasuki masa pendudukan Jepang, sebagian lahan teh mulai dialihfungsikan menjadi tanaman pangan dan tanaman penghasil minyak untuk kebutuhan perang sehingga produksi teh mengalami penurunan.
Potret para pekerja di Pabrik Teh Parakansalak pada masa kejayaannya.
Setelah Indonesia merdeka, perusahaan perkebunan masih sempat dikelola pihak Belanda hingga akhirnya dinasionalisasi pada 1959 akibat konflik Indonesia-Belanda terkait Irian Barat.
"Setelah dinasionalisasi, pengelolaannya beralih kepada Indonesia. Namun, perlahan mengalami penurunan hingga akhirnya sebagian besar lahan berubah menjadi perkebunan sawit," katanya.
Asal Usul Nama Parakansalak
Di balik nama Parakansalak, bahkan tersimpan sejarah tentang asal-usul wilayah tersebut. Irman menjelaskan bahwa kata "parakan" dalam bahasa Sunda merujuk pada aliran sungai yang dikeringkan lalu dialirkan menjadi danau kecil. Sementara "Salak" bukan berasal dari buah salak, melainkan dari kata Salaka, yang berarti perak.
"Dulu Gunung Salak dari kejauhan tampak berkilau seperti perak. Jadi nama Salak bukan berasal dari buahnya, melainkan dari kata Salaka yang berarti perak," jelasnya.
Menurut Irman, sejarah Parakansalak bukan sekadar nostalgia tentang sebuah perkebunan teh. Ia adalah pengingat bahwa Sukabumi pernah memiliki komoditas kelas dunia, melahirkan kebudayaan yang menggema hingga Eropa, sekaligus menjadi simbol kemajuan pada masanya.
Kini, ketika sebagian besar jejak fisiknya mulai menghilang, yang tersisa hanyalah pertanyaan besar: apakah kita akan membiarkan sejarah itu lenyap bersama waktu, atau mulai merawatnya sebagai warisan yang pernah mengharumkan nama Indonesia di mata dunia?
Kesaksian Mantan Pekerja Era Nasionalisasi Pabrik Teh Parakansalak
Di hadapan bangunan tua yang kini nyaris roboh, Dawang sesekali menghentikan langkahnya. Tatapannya mengarah ke bekas kawasan pabrik yang kini sunyi tanpa suara mesin. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa tempat yang pernah menjadi sumber kehidupan ribuan warga itu kini tinggal menyisakan puing-puing.
Bagi Dawang, Perkebunan Teh Parakansalak bukan sekadar tempat bekerja. Di sanalah ia tumbuh, belajar, dan menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya.
"Saya dibesarkan oleh teh," ucapnya pelan.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Di baliknya tersimpan kisah tentang bangkitnya kembali Perkebunan Teh Parakansalak setelah era nasionalisasi, masa ketika negara berupaya menghidupkan kembali kejayaan perkebunan yang pernah tersohor hingga ke Eropa.
Membangun Kembali Perkebunan
Dawang mulai bekerja pada 1986, saat Perkebunan Teh Parakansalak memasuki babak baru.
Menurutnya, ketika itu kawasan perkebunan yang sebelumnya didominasi tanaman karet mulai dikonversi menjadi kebun teh. Seluruh pekerja baru ditempatkan di lapangan untuk membuka lahan dan menanam bibit.
"Semuanya karyawan baru itu pasti dipekerjakan di kebun. Produksi belum ada karena baru ditanam. Jadi kami membuka lahan, menanam pohon teh sampai tiga tahun sebelum akhirnya belajar produksi," kenangnya.
Selama tiga tahun pertama, para pekerja tidak hanya menjadi buruh kebun, tetapi juga ikut membangun masa depan perkebunan.
Mereka menyiapkan lahan, merawat tanaman yang masih muda, hingga menunggu pucuk-pucuk teh pertama siap dipanen.
Ketika tanaman mulai menghasilkan pada 1989, hasil panen belum dapat diolah di Parakansalak karena pabrik belum berdiri. Seluruh pucuk teh saat itu dijual ke perusahaan swasta. Baru pada tahun yang sama pembangunan pabrik dimulai dan selesai pada 1990.
Potret kondisi Pabrik Teh Parakansalak yang saat ini sudah tidak beroperasi.
Setelah pabrik beroperasi, Dawang dipindahkan ke bagian teknik.
"Nah baru saya pindah ke teknik di mesin," katanya.
Menjadi Tulang Punggung Ekonomi Warga
Pada masa itu, luas keseluruhan areal perkebunan mencapai sekitar 1.200 hektare. Sekitar 800 hektare di antaranya ditanami teh, sementara sisanya telah menjadi permukiman, sawah, dan penggunaan lain. Produksi perdana mencapai sekitar 15 hingga 40 ton pucuk teh per hari.
Menurut Dawang, seluruh hasil panen langsung diolah di pabrik sebelum dipasarkan sebagai komoditas ekspor. Saat itu, katanya, kualitas Teh Parakansalak masih sangat diperhitungkan.
"Hasil produksi langsung diolah di sini. Komoditasnya ekspor dan berkualitas," ujarnya.
Kehadiran perkebunan juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Ribuan warga menggantungkan hidup sebagai pemetik teh, pekerja pabrik, tenaga teknik, hingga buruh angkut.
"Yang paling diuntungkan pasti masyarakat karena perkebunan menyerap banyak tenaga kerja," katanya.
Setiap pagi kawasan perkebunan dipenuhi pekerja yang berangkat ke kebun. Siang hari, kendaraan pengangkut pucuk teh berdatangan ke pabrik. Mesin pengolahan bekerja hampir tanpa henti.
"Itu ramai sekali. Pabrik hidup, masyarakat juga hidup," kenangnya.
Kejayaan Mulai Memudar
Namun, menurut Dawang, suasana itu perlahan berubah. Sekitar 2010, produksi mulai menurun. Ia menilai salah satu penyebab utama adalah semakin sulit mendapatkan tenaga kerja khusus pemetik teh.
Mayoritas pemetik merupakan perempuan, sedangkan generasi muda lebih memilih bekerja di pabrik garmen.
"Perempuan muda sudah tidak mau lagi jadi pemetik teh. Mereka lebih memilih kerja di garmen. Lama-lama tenaga pemetik berkurang," ujarnya.
Selain faktor tenaga kerja, Dawang menduga perubahan arah kebijakan perusahaan ikut memengaruhi nasib perkebunan.
Ia tidak menampik kemungkinan adanya pertimbangan manajemen yang menilai komoditas sawit lebih menguntungkan dibanding teh.
"Sukamaju sudah diganti sawit, Cibungur juga. Kemungkinan perusahaan melihat sawit lebih menguntungkan," katanya.
Sekitar 2014, keputusan itu mulai dijalankan.
Tanaman teh satu per satu ditebang dan digantikan dengan kelapa sawit. Bagi Dawang, keputusan tersebut menjadi awal berakhirnya sejarah panjang Perkebunan Teh Parakansalak.
Kehilangan yang Tak Tergantikan
Perubahan itu tidak hanya mengubah bentang alam. Menurut Dawang, suhu udara di Parakansalak ikut berubah.
"Dulu waktu masih ditanami teh, di sini dingin. Sekarang terasa lebih panas setelah jadi sawit," ujarnya.
Ia juga menyaksikan perlahan bangunan-bangunan bersejarah menghilang. Mesin-mesin pabrik dipindahkan ke unit lain yang masih beroperasi dan bangunan pabrik mulai rusak. Gedong Panggung yang menjadi salah satu bangunan bersejarah akhirnya dirubuhkan.
"Mesinnya sudah tidak ada. Bangunannya juga sebagian besar rusak. Yang terakhir dirubuhkan itu Gedong Panggung," katanya.
Menurutnya, pembongkaran tersebut kemungkinan terjadi karena minimnya pemahaman mengenai nilai sejarah bangunan-bangunan peninggalan perkebunan.
"Saya Dibesarkan oleh Teh"
Pada 2017, Dawang mengakhiri masa kerjanya. Saat itu, hamparan kebun teh yang dahulu ia tanam telah berubah menjadi perkebunan sawit. Baginya, kehilangan teh bukan sekadar pergantian komoditas. Ia merasa kehilangan bagian dari hidupnya sendiri.
"Banyak kenangannya. Saya dibesarkan oleh teh. Dari mulai menanam, memetik sampai produksi saya tahu semua. Dulu setiap hari penuh aktivitas, penuh keceriaan. Sekarang sudah tidak ada lagi," tuturnya.
Kesaksian Dawang menjadi potongan penting dalam sejarah Perkebunan Teh Parakansalak. Ia menyaksikan sendiri bagaimana negara berupaya menghidupkan kembali kebun teh yang pernah berjaya, bagaimana perkebunan itu menjadi sandaran ekonomi ribuan keluarga, hingga akhirnya perlahan kehilangan denyut kehidupannya.
Kini, yang tersisa hanyalah jejak-jejak bangunan, kenangan para pekerja, dan harapan agar sejarah panjang Perkebunan Teh Parakansalak tidak ikut hilang bersama hamparan teh yang pernah menutupi lereng Gunung Salak.
Ibnu Sanubari berkontribusi dalam penulisan artikel ini













