Dulu Kuasai Pasar Eropa dan Timur Tengah, Mengenang Kejayaan Teh Parakansalak Sukabumi

Sukabumiupdate.com
Senin 27 Jul 2026, 10:18 WIB
Dulu Kuasai Pasar Eropa dan Timur Tengah, Mengenang Kejayaan Teh Parakansalak Sukabumi

Pabrik teh Parakansalak Sukabumi yang kini tak lagi berfungsi (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Di balik rencana penerbitan buku Jejak Aroma Teh Parakansalak Sukabumi, tersimpan kisah para pekerja yang pernah menjadi bagian dari masa kejayaan Perkebunan Teh Parakansalak di Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, yang saat itu dikelola PTPN VIII. Salah satunya Dawang, mantan karyawan yang mengaku ikut membuka lahan sejak awal pengembangan kebun teh pada 1986 hingga menyaksikan pabrik berdiri dan berproduksi.

Dawang menceritakan, saat pertama kali diterima bekerja pada 1986, seluruh karyawan baru ditempatkan di kebun untuk membuka lahan dan menanam teh. Saat itu, lahan yang sebelumnya ditanami karet mulai dialihkan menjadi perkebunan teh.

"Semuanya karyawan baru itu pasti dipekerjakan di kebun. Dari komoditi karet diganti sama komoditi teh. Produksi tehnya belum ada, baru ditanam. Semua karyawan baru ikut membuka lahan dan menanam pohon teh," kata Dawang kepada SukabumiUpdate.com, Sabtu (25/7/2026).

Baca Juga: Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo Mengundurkan Diri, Hari Ini Rp 17.972 Per Dolar AS

Menurutnya, proses penanaman hingga tanaman mulai menghasilkan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Selama periode 1986 hingga 1989, hasil panen teh belum diolah di Parakansalak karena pabrik belum dibangun.

"'89 baru ada pembangunan pabrik, selesai sekitar 1990. Nah, baru saya pindah ke teknik di situ karena memang saya teknik," ujarnya.

Dawang mengatakan, luas keseluruhan areal perkebunan saat itu mencapai sekitar 1.200 hektar. Namun, lahan yang ditanami teh sekitar 800 hektar, sedangkan sisanya telah menjadi pemukiman dan sawah.

Baca Juga: Head to Head Timnas Indonesia vs Kamboja: Garuda Dominan Jelang Laga Perdana Piala AFF 2026

Setelah pabrik beroperasi, produksi teh Parakansalak terus meningkat. Dalam sehari, hasil produksi berkisar antara 15 hingga 40 ton, terutama pada masa panen puncak. "Produksinya 15 sampai 40 ton per hari. Sampai tahun 2000, bahkan sekitar 2007, produksinya masih besar," katanya.

Ia menjelaskan, keberadaan perkebunan teh saat itu memberikan dampak besar bagi masyarakat sekitar karena mampu menyerap banyak tenaga kerja. "Yang paling menguntungkan wilayah setempat adalah masyarakat. Tenaga kerja bisa menyerap banyak pekerja," ujarnya.

Selain diproses di pabrik Parakansalak, hasil produksi teh sebagian besar dipasarkan ke luar negeri. "Produksinya ekspor ke Eropa dan Timur Tengah. Parakansalak memang menghasilkan teh hitam," katanya.

Baca Juga: Rekonstruksi Kasepuhan Ciptamulya Pascakebakaran Bisa Gunakan BTT Pemkab Sukabumi

Dawang menambahkan, Teh Parakansalak telah dikenal sejak masa perkebunan jaman Belanda, Guillaume Louis Jaques van der Hucht dan kemudian diteruskan Adrianus Walrave Holle. "Teh Parakansalak ini semenjak didirikan oleh Van der Hucht dan diteruskan Adrianus Walrave Holle sudah punya nama di Eropa," ungkapnya.

Menurut Dawang, keberhasilan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah panjang Perkebunan Teh Parakansalak yang pernah menjadi salah satu perkebunan teh di Sukabumi dengan kapasitas produksi besar sebelum akhirnya mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya.

Krisis Pemetik Teh

Masa kejayaan Perkebunan Teh Parakansalak di Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, mulai memudar sejak 2010. Menurut Dawang, penurunan produksi dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari sulitnya mencari tenaga pemetik teh hingga perubahan komoditas menjadi kelapa sawit.

Baca Juga: Kebakaran Lahan di Sekarwangi Cibadak: Luas 5 Ribu Meter Bekas Pabrik

Dawang yang bekerja di Perkebunan Teh Parakansalak sejak 1986 mengatakan, produksi teh mulai menurun secara bertahap pada 2010. Kondisi tersebut terus berlanjut hingga sekitar 2014, saat operasional perkebunan teh berhenti. "2010 mulai sedikit-sedikit. Bertahan sampai 2014. Tahun 2014 stop total," kata Dawang kepada sukabumiUpdate.

Menurutnya, salah satu penyebab yang paling dirasakan saat itu adalah semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja, khususnya pemetik teh yang didominasi perempuan. "Untuk karyawan petik susah. Karena didominasi oleh perempuan. Sementara perempuan yang muda-muda sudah tidak mau lagi jadi pemetik teh. Mereka ke garmen," ujarnya.

Selain faktor tenaga kerja, Dawang menilai kemungkinan terdapat faktor lain, termasuk pengelolaan perusahaan. Namun, ia menegaskan hal tersebut merupakan pandangan pribadinya.

Baca Juga: Aksi Bersih-bersih di Sungai Cipamatutan, Warga Minta Pemkab Sukabumi Lakukan Normalisasi

"Mungkin manajemen dan lain sebagainya. Meskipun itu PTPN perusahaan besar, tidak mustahil ada kesalahan manajemen. Itu mungkin," ucapnya.

Di tengah kondisi tersebut, kata Dawang, muncul rencana dari direksi untuk mengganti komoditas teh menjadi kelapa sawit. Menurutnya, saat itu terdapat anggapan bahwa sawit dinilai lebih menguntungkan. "Akhirnya ada perencanaan dari direksi untuk mengganti komoditi. Mungkin asumsinya sawit lebih menguntungkan," katanya.

Meski demikian, Dawang berpendapat kondisi geografis Parakansalak kurang sesuai untuk pengembangan kelapa sawit. "Sebenarnya topografi kita tidak untuk sawit," ujarnya.

Baca Juga: PLN Indonesia Power UBP Jabar 2 Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya

Ia memperkirakan penanaman sawit mulai dilakukan secara bertahap sekitar 2014, sementara sebagian tanaman teh masih dipertahankan. Perubahan komoditas tersebut kemudian berlanjut hingga beberapa tahun berikutnya. "2014 sudah mulai sawit, teh masih ada. Jadi tidak semua langsung diganti. Bertahap. Sekitar 2017 sudah ke sawit," kata Dawang.

Bagi Dawang, perubahan tersebut meninggalkan kesan mendalam. Sebab, sejak awal bekerja ia ikut membuka lahan dan menanam pohon teh yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. "Sedih, karena dari dulu ikut menanam pohon tehnya. Sekarang sudah tidak ada," tuturnya.

Menurutnya, perubahan komoditas juga berdampak terhadap kondisi lingkungan. Ia merasakan suhu di kawasan Parakansalak menjadi lebih panas dibanding saat masih didominasi tanaman teh. "Perubahan suhu sangat signifikan. Dulu Parakansalak tidak panas seperti sekarang. Ketika sudah diganti sawit, panas," ungkapnya.

Baca Juga: Geger Kematian Misterius Penjaga Rumah Eks Jampidsus, Tewas dengan Mulut Berbusa

Selain lingkungan, ia menyebut keberadaan perkebunan teh pada masanya mampu menjadi sumber penghidupan bagi banyak masyarakat karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. "Dulu masyarakat Parakansalak memang bergantung kepada perkebunan. Banyak orang dari mana-mana bekerja di Perkebunan Parakansalak," pungkasnya.

 

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini