SUKABUMIUPDATE.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi menyiapkan enam strategi transformasi kesehatan sebagai langkah memperkuat pelayanan dan mencapai target kinerja sektor kesehatan dalam empat tahun ke depan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinkes Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, dalam Rapat Dinas bertajuk "Strategi Pencapaian Kinerja Dinkes melalui Pendekatan Transformatif, Out of the Box dan Profesional Menuju Kabupaten Sukabumi yang Mubarakah".
Masykur menjelaskan, transformasi pertama difokuskan pada penguatan layanan primer, terutama di tingkat Puskesmas. Saat ini, Kabupaten Sukabumi baru memiliki 58 Puskesmas, sementara kebutuhan ideal berdasarkan regulasi Permenkes mencapai 93 hingga 95 unit.
“Kita masih kekurangan Puskesmas. Dalam empat tahun ke depan, sudah kami rencanakan penambahan dengan penganggaran yang detail,” ujar Masykur, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Bupati Sukabumi Minta Dinkes dan Faskes Optimalkan Layanan Kesehatan hingga Pelosok
Selain itu, pihaknya juga menargetkan peningkatan status Puskesmas kawasan menjadi Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (DTP). Saat ini baru terdapat 10 Puskesmas DTP, dan jumlah tersebut akan terus ditingkatkan.
Transformasi kedua menyasar layanan rujukan rumah sakit. Masykur mengungkapkan, saat ini Kabupaten Sukabumi masih kekurangan sekitar 1.700 tempat tidur (bed) untuk layanan rujukan.
“Kekurangan ini bisa diatasi melalui pengembangan rumah sakit yang ada maupun pembangunan rumah sakit baru. Kami sudah menyiapkan grand design hingga 2030,” jelasnya.
Selanjutnya, Dinkes juga menyiapkan transformasi di bidang sumber daya kesehatan, termasuk peningkatan kualitas, kuantitas, dan distribusi tenaga kesehatan agar lebih merata.
Transformasi keempat berfokus pada ketahanan kesehatan. Masykur menyoroti kasus keracunan makanan yang masih menjadi pekerjaan rumah di Kabupaten Sukabumi. Ia menegaskan perlunya perubahan pendekatan dari reaktif menjadi proaktif.
“Selama ini kita cenderung reaktif. Ke depan harus proaktif dan responsif, mengkaji penyebab agar kasus serupa tidak terulang,” tegasnya.
Baca Juga: Dinkes Beberkan Capaian Kesehatan Setahun Kepemimpinan Asep Japar–Andreas
Dalam aspek pembiayaan, Dinkes juga menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah penonaktifan sekitar 164 ribu peserta PBI-APBN pada awal 2026, serta penurunan signifikan alokasi anggaran dari provinsi.
“Dari yang biasanya minimal Rp76 miliar, sekarang hanya sekitar Rp2,6 miliar. Ini menjadi tantangan serius dalam pembiayaan kesehatan,” ungkapnya.
Adapun transformasi terakhir adalah digitalisasi layanan kesehatan. Dinkes menargetkan seluruh fasilitas kesehatan, baik Puskesmas, rumah sakit, maupun klinik, terintegrasi dalam platform SATUSEHAT.
“Semua layanan harus terintegrasi dalam satu sistem. Selain itu, telemedicine juga akan terus kami revitalisasi untuk mempermudah akses layanan kesehatan masyarakat,” kata Masykur.
Ia menegaskan, seluruh program transformasi tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung visi pembangunan Kabupaten Sukabumi yang Mubarakah, serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan secara menyeluruh.
“Kami siap berkontribusi maksimal bersama seluruh fasilitas kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Sukabumi,” pungkasnya. (adv)





