Bangkitkan Era 90-an, Sineas Sukabumi Garap Film 'Anak Ghoib Jalanan'

Sukabumiupdate.com
Jumat 06 Mar 2026, 23:10 WIB
Bangkitkan Era 90-an, Sineas Sukabumi Garap Film 'Anak Ghoib Jalanan'

Proses syuting film 'Anak Ghoib Jalanan'. (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com – Suasana nostalgia terasa kental di tengah rindangnya pepohonan dan bangunan-bangunan heritage yang tersebar di sejumlah sudut Kota Sukabumi. Namun, suasana itu bukan hanya sekadar kenangan masa lalu. Para sineas lokal kini tengah merajut ambisi besar untuk menghidupkan kembali kejayaan Sukabumi sebagai salah satu pusat visual perfilman nasional pada era 1990-an.

Melalui sebuah proyek film berjudul Anak Ghoib Jalanan, para pelaku industri kreatif di daerah ini mencoba menghadirkan kembali nuansa tersebut. Proyek ini digarap di bawah arahan sutradara senior Bara Bantara Seta, yang akrab disapa Abay.

Menurut Abay, film tersebut tidak semata-mata bertujuan mengikuti tren horor atau menghadirkan adegan jump scare. Lebih dari itu, produksi ini menjadi ajang pembuktian kapasitas talenta lokal Sukabumi di industri film.

Baca Juga: SPPG Bantah Menu MBG Ramadan di Mandrajaya Sukabumi Tak Sesuai Standar

Kolaborasi antara sineas Sukabumi dengan Production House (PH) dari Jakarta serta keterlibatan aktor nasional menjadi langkah strategis untuk menunjukkan kualitas sumber daya manusia di daerah. Abay menilai, kerja sama ini bukan sekadar mempertemukan dua wilayah, melainkan upaya memperluas ruang bagi komunitas lokal untuk tampil di level nasional.

"Ini adalah ekspansi potensi. Kami ingin menunjukkan bahwa Sukabumi memiliki SDM yang sangat mumpuni. Kolaborasi ini adalah pintu masuk agar komunitas lokal bisa berbicara banyak di panggung nasional," ujar Abay, pria yang telah mengarsiteki lebih dari 100 judul FTV sejak 1992 ini kepada awak media, Jumat (6/3/2026).

Romantisme Lokasi Syuting

Sukabumi selama ini dikenal memiliki daya tarik tersendiri bagi dunia perfilman. Keberagaman lanskap dan karakter visual kota ini membuatnya kerap menjadi pilihan lokasi syuting berbagai produksi film.

Baca Juga: DPMPTSP Sukabumi Tertibkan Izin Usaha PT Pong Codan di Cicurug

Abay menilai, kekayaan visual tersebut membuat Sukabumi mampu menghadirkan berbagai suasana, mulai dari latar horor yang mencekam hingga nuansa drama yang penuh emosi. Kondisi itu pula yang menjadikan wilayah ini sering dipilih sebagai lokasi produksi film nasional.

Ia menambahkan, jika sineas dari luar daerah saja tertarik memanfaatkan potensi tersebut hingga menghasilkan film box office, maka sudah saatnya masyarakat Sukabumi sendiri mengambil peran utama dalam mengelola dan mengembangkan potensi tersebut.

Regenerasi Bintang Film

Semangat kebangkitan perfilman di Sukabumi juga mendapat dukungan dari Lapdek Comunity Sukabumi (LCS). Komunitas ini melihat Sukabumi sebagai daerah yang pernah melahirkan sejumlah artis besar di industri hiburan nasional, seperti Wina Zufiana, Vita Mariana, Desy Ratnasari, hingga Diah Permatasari.

"Kami tidak ingin estafet itu terputus," tegas Ketua LCS, Kompol Purn Sunarya Ishak.

Baca Juga: Kenang Masa Nyantri, Wamendikdasmen Fajar Kunjungi Ponpes Sunanul Huda Sukabumi

Sunarya menjelaskan, pihaknya terus mendorong pembinaan dan kaderisasi bagi generasi muda yang memiliki minat di bidang perfilman. Upaya tersebut diharapkan mampu melahirkan aktor dan aktris baru dari Sukabumi sehingga “pabrik bintang” yang pernah ada di daerah ini dapat kembali hidup.

Selain aspek seni dan kreativitas, ia juga menilai industri film memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah. Aktivitas produksi film dapat meningkatkan okupansi hotel karena kedatangan kru dan pemain, mendorong pertumbuhan sektor kuliner serta UMKM yang memasok kebutuhan produksi, hingga berkontribusi pada pendapatan asli daerah melalui berbagai sektor jasa dan pajak.

"Kami tidak hanya bicara teori, kami langsung berkolaborasi dan melaksanakannya di lapangan," pungkas Sunarya dengan nada optimis.

Dengan berbagai upaya tersebut, Sukabumi kini kembali bersiap menarik perhatian industri perfilman nasional. Kota ini tidak hanya ingin dikenang sebagai bagian dari sejarah perfilman Indonesia, tetapi juga bertekad kembali menjadi pusat lahirnya berbagai cerita di layar lebar.

Berita Terkait
Berita Terkini