Tak Hanya Menjaga Pesisir Sukabumi, Mangrove Geopark Ciletuh Serap 37,7 kg CO₂eq

Sukabumiupdate.com
Jumat 09 Okt 2026, 10:22 WIB
Tak Hanya Menjaga Pesisir Sukabumi, Mangrove Geopark Ciletuh Serap 37,7 kg CO₂eq

Menanam mangrove di pesisir Geopark Ciletuh Sukabumi (Sumber: dok Forestry Lestari)

SUKABUMIUPDATE.com - Dibalik nama besar Geopark Ciletuh ada perjuangan mangrove mempertahankan daratan pesisir Sukabumi yang terus terkikis abrasi. Tak hanya menjadi benteng terakhir daratan, hutan Mangrove pesisir geopark ciletuh Sukabumi juga mampu menyerap 37,7 kg CO₂eq, mengurangi pemanasan global dari berbagai jenis gas rumah kaca.

Sebagai destinasi dengan lanskap indah perbukitan dan bebatuan, Geopark Ciletuh juga mempunyai wilayah pesisir atau pantai. Kawasan yang rentan abrasi, longsor dan erosi, sehingga tak hanya mengancam keindahan pantai tapi juga keselamatan warga setempat. 

Data organisasi Forestry Lestari mengungkap sekitar tahun 2012, kondisi vegetasi mangrove di Geopark Ciletuh, khususnya di Pantai Cikadal dan Palangpang masih relatif rapat. Namun di 2018 dan 2019, kondisi mangrove menurun akibat tekanan alam seperti erosi dan longsor serta aktivitas manusia, penebangan untuk kayu bakar dan lainnya.

Ketua Forestry Lestari, Prasetia Diputra menjelaskan saat itu kondisi mangrove pesisir di sepanjang Pantai Minajaya, Ujung Genteng, Ciemas, Palangpang, hingga Palabuhanratu mengalami abrasi dan erosi, tanpa pengelolaan khusus. Kondisi ini yang mendorong Pras bersama masyarakat mulai mengembangkan persemaian mangrove secara mandiri di Desa Mandrajaya Kecamatan Ciemas.

Baca Juga: Bahaya Gigi Berlubang jika Dibiarkan, Dari Sakit Gigi hingga Infeksi

Bersama Pokmasi Mandrajaya Nusantara, Forestry Lestari bekerja untuk menjaga kelestarian area pesisir Geopark Ciletuh. Keduanya digerakkan oleh jaringan masyarakat lokal yang sama, dimana Forestry Lestari menjadi wadah yang lebih umum dan tidak terbatas pada satu wilayah, termasuk menjadi penghubung dengan pihak luar, sementara Pokmasi Mandrajaya Nusantara lebih banyak beroperasi di lapangan, berfokus pada pengelolaan persemaian dan penanaman mangrove di pesisir Cikadal dan Palangpang.

Pada tahun 2025, Pokmasi dan Forestry Lestari menjalin kolaborasi dengan LindungiHutan, sebuah perusahaan rintisan (startup) berbasis teknologi di Indonesia yang bergerak di bidang konservasi hutan dan lingkungan melalui aksi penghijauan serta penanaman pohon.

Ada dua jenis mangrove yang ditanam, yaitu bakau (Rhizophora apiculata) yang mengisi sekitar 70% dari total penanaman, dan api-api (Avicennia) yang mengisi sisa 30%. Kedua dipilih karena dinilai paling cocok dengan karakteristik tanah dan kondisi perairan di Cikadal dan Palangpang.

Tantangan

Perjalanan konservasi mangrove juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari faktor alam hingga manusia. Kondisi topografi wilayah yang curam dan berada di dataran bawah membuat kawasan mangrove di Pantai Cikadal dan Palangpang rentan terkena abrasi, erosi, serta rawan banjir. 

Baca Juga: BPJS Non Aktif Gegara Desil, Dinkes Kabupaten Sukabumi Sisir Pasien Penyakit Katastropik

Kemudian, musim turut mempengaruhi keberhasilan penanaman. Saat musim kemarau, tingkat kematian bibit mangrove lebih tinggi dan membutuhkan perawatan yang lebih intensif karena aliran sungai yang mengairi mereka menyusut. Sedangkan, pada musim hujan, tanah menjadi lebih subur untuk tumbuh, tetapi akses jalan menjadi lebih sulit. 

Faktor manusia seperti deforestasi juga menjadi tantangan. Deforestasi dinilai menjadi salah satu penyebab bencana banjir dan longsor di Sukabumi.  Selain itu, pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mangrove dan persemaian juga masih minim, terutama di kalangan nelayan yang fokus utamanya adalah hasil tangkapan ikan saja.  

Warga tanam mangrove di pesisir Geopark Ciletuh SukabumiWarga tanam mangrove di pesisir Geopark Ciletuh Sukabumi

Pras dan kawan-kawan melakukan pendekatan yang informal dan kekeluargaan kepada masyarakat, seperti diskusi santai sambil ngopi atau makan bersama di warung.  Pendekatan ini membuahkan hasil positif. 

“Saat ini sekitar 80 persen masyarakat sudah mendukung program konservasi mangrove ini.  Bahkan, sebagian warga yang memiliki lahan kosong mulai berinisiatif menawarkan lahannya untuk ditanami,” jelasnya dikutip dari platform lindungihutan. 

Baca Juga: Mengering, Bilik Mandi hingga Lapang Bola Muncul di Tengah Sungai Cibuni Tegalbuleud Sukabumi

Progres 

Upaya konservasi mangrove di Geopark Ciletuh mulai menuju perubahan. Dari aspek keanekaragaman hayati, berbagai satwa mulai muncul seperti elang jawa, kupu-kupu, amfibi dan reptil. Penyu hijau, yang walaupun area konservasinya jauh dari lokasi mangrove, juga terlihat mampir. 

Kegiatan penanaman mangrove yang dilakukan bersama LindungiHutan juga mulai memberikan dampak positif. Hingga Agustus 2026, pohon-pohon yang ditanam telah menyerap sekitar 37,7 kg CO₂eq.  

CO₂eq adalah Satuan pengukuran standar yang digunakan untuk menyatakan dampak pemanasan global dari berbagai jenis gas rumah kaca ke dalam jumlah yang setara dengan karbon dioksida (CO₂). Satuan ini menggabungkan berbagai gas rumah kaca (seperti metana, dinitrogen oksida, dan gas fluorinasi) ke dalam satu unit ukuran.

Meskipun begitu, Pras mengatakan bahwa perbaikan kondisi area pesisir baru mencapai sekitar 30 hingga 40 persen dari keseluruhan. Ia mengatakan pemulihan lingkungan pesisir membutuhkan proses jangka panjang dan bukan hasil yang instan.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Super League 2026/2027 Pekan Keempat, Persib vs Dewa United dan Persija vs PSIM

Harapan

Walaupun konservasi mangrove sudah berjalan selama beberapa tahun dan memberi dampak, tapi masih banyak yang perlu dikerjakan.  “Di samping bantuan materi, kami berharap ada lebih banyak lagi peran dari berbagai pihak untuk mendukung konservasi, utamanya dalam mengedukasi masyarakat,” sambung Pras.

Mereka kawan berencana mengembangkan ekowisata mangrove dan mendirikan UMKM berbasis olahan mangrove. Agenda ke depan lainnya adalah menjadikan Geopark Ciletuh tidak hanya dikenal dunia karena keindahan bebatuan purbanya, tetapi juga karena keberhasilan konservasi mangrove yang mendukung ekosistem pesisirnya.

“Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa mangrove milik kita bersama, oleh karena itu mari kita jaga bersama-sama,” pungkas Pras.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini