Anak Krakatau Masuk Fase Inkubasi, BRIN Ungkap Potensi Longsoran dan Tsunami pada 2036

Sukabumiupdate.com
Senin 28 Sep 2026, 11:02 WIB
Anak Krakatau Masuk Fase Inkubasi, BRIN Ungkap Potensi Longsoran dan Tsunami pada 2036

Kondisi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026). | Foto: PVMBG

SUKABUMIUPDATE.com - Gunung Anak Krakatau kini sedang dalam masa pemulihan atau fase siklusnya adalah inkubasi, setelah erupsi besar pada 4-6 September 2026. Berdasarkan komposisi magma, struktur bawah permukaan seperti kedalaman dapur magma, dan pola erupsinya, Anak Krakatau kembali ke tahap awal maturasi gunung api.

Mengutip tempo.co, peneliti di Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aditya Pratama menjelaskan, magma Anak Krakatau sedikit mengandung gas sulfur dioksida (SO2) pada fase inkubasi ini, yang akan bertambah banyak saat menuju tahap maturasi. Menurutnya, Anak Krakatau akan sering meletus namun dengan intensitas lebih kecil di fase inkubasi sekarang ini.

Dari beberapa model yang dibuat Aditya dan tim risetnya serta peneliti lain, di bawah Anak Krakatau terdapat kantong-kantong magma di kedalaman dangkal. Ketika mencapai maturasi, kantong-kantong kecil magma itu bergabung membentuk dapur magma besar di kedalaman dangkal hingga dalam. "Sehingga, kebalikan dengan tahap inkubasi, sekali meletus skalanya besar,” kata dia kepada Tempo pada 18 September 2026.

Diterangkannya, dapur magma Gunung Anak Krakatau yang tergolong dangkal berada di kedalaman kurang dari 10 kilometer dari puncak gunung. Kedalaman menengah berkisar antara 7-15 kilometer, sedangkan dapur magma yang dalam berada 22-25 kilometer.

Baca Juga: Daratan Baru Muncul Benarkah Cucu Krakatau? Ini Penjelasan Ahli dan Analisis Badan Geologi

Dari hasil diskusi dengan para peneliti gunung api lainnya, Aditya mengungkapkan, yang mereka khawatirkan bukan letusan besar itu. Tapi, potensi longsoran dari gunung api di laut ini yang bisa menghasilkan tsunami seperti yang terjadi pada erupsi 2018 lalu.

Berdasarkan hasil pemodelan terbaru yang dikerjakan tim di BRIN bekerja sama dengan ITB, PVMBG, University of Birmingham, Penn State Univerity, British Geological Survey, dan University of Oxford, diperkirakan longsoran yang sama bakal terjadi pada 2036.

Basis perhitungan antara lain riwayat gunung api di Selat Sunda itu yang pernah meletus ekstrem pada 1883, dan ada perkiraan lain yang datanya masih memerlukan bukti tambahan yaitu Krakatau juga pernah erupsi besar pada 416. Kemudian, ada perubahan kecepatan pertumbuhan Anak Krakatau setelah letusan 2018.

“Setelah erupsi besar 4–6 September lalu, bisa saja perubahan itu jadi lebih cepat lagi sehingga erupsi dengan longsoran akan lebih awal lagi daripada 2036," ujar Aditya. Dia menambahkan, "Di pemodelan yang kami lakukan belum mengakomodir potensi letusan besar seperti kemarin.”

Gunung Anak Krakatau yang sedang membangun tubuhnya kembali lewat erupsi dan pembentukan lava juga disampaikan peneliti lainnya di Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani. “Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan: erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali,” katanya di laman BRIN, 22 September 2026.

Dini menuturkan, Anak Krakatau muncul di permukaan laut pada 1927 setelah runtuh akibat erupsi 1883. Pada periode awal itu pusat erupsi masih berada di bawah atau sangat dekat dengan permukaan laut sehingga interaksi magma panas dengan air laut menghasilkan erupsi Surtseyan berupa ledakan uap, abu, dan material vulkanik.

Endapan yang terus terakumulasi kemudian membentuk daratan Anak Krakatau yang muncul secara permanen di atas permukaan laut pada Agustus 1930. Hingga 1959, aktivitas didominasi erupsi freatomagmatik akibat interaksi magma dan air. “Erupsi berulang dengan lontaran material dan kolom abu secara perlahan memperbesar tubuh Anak Krakatau.”

Memasuki periode 1959–2018, ketika kawah semakin terisolasi dari laut, aktivitas bergeser menjadi lebih dominan Strombolian–Vulcanian dan efusif. Letusan menghasilkan material pijar, bom vulkanik, abu, serta aliran lava. Akumulasi produk erupsi tipe ini selama puluhan tahun membuat kerucut Anak Krakatau tumbuh hingga kini mencapai ketinggian sekitar 330 meter.

Perubahan besar pertumbuhan terjadi pada 22 Desember 2018 ketika bagian di sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik. Sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut hilang, ketinggian gunung turun menjadi 120 meter, serta memicu tsunami di Selat Sunda.

Dini mengatakan sistem erupsi Anak Krakatau juga mengalami perubahan karena tekanan pada saluran magma berkurang. Sementara air laut masuk ke kawah yang terbuka. Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas berubah cepat dari erupsi Strombolian menjadi Surtseyan yang lebih eksplosif. Interaksi kembali antara magma dan air laut juga membentuk ulang morfologi kawah Anak Krakatau.

Saat ini Gunung Anak Krakatau berstatus Waspada per 21 September lalu. Statusnya telah kembali diturunkan dari semula Siaga per 2 Juli.

Sumber: Tempo.co

Berita Terkait
Berita Terkini