Daratan Baru Muncul Benarkah Cucu Krakatau? Ini Penjelasan Ahli dan Analisis Badan Geologi

Sukabumiupdate.com
Kamis 24 Sep 2026, 09:34 WIB
Daratan Baru Muncul Benarkah Cucu Krakatau? Ini Penjelasan Ahli dan Analisis Badan Geologi

Daratan baru yang disebut sebagai Cucu Krakatau. (Sumber : X@lampunggehh).

SUKABUMIUPDATE.com – Kemunculan daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, belakangan memicu perhatian publik. Fenomena tersebut bahkan menimbulkan spekulasi bahwa Selat Sunda tengah membentuk gunung api baru yang dijuluki sebagai “cucu Krakatau”.

Namun, kemunculan daratan tersebut belum dapat disebut sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, dalam media sosialnya menjelaskan, daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau pada dasarnya merupakan akumulasi material vulkanik hasil aktivitas erupsi, seperti abu, batuan, material piroklastik, dan lava yang mengendap di perairan.

Material tersebut menumpuk secara bertahap seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga sebagian endapannya muncul ke permukaan laut.

“Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut,” kata Daryono.

Baca Juga: Cuaca Jabar 24September 2026, Sukabumi Potensi Cerah Berawan di Pagi Hari

Menurutnya, terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung dipengaruhi kombinasi faktor geologis dan oseanografis.

Dasar laut di kawasan tersebut merupakan bagian dari kaldera purba yang terbentuk akibat letusan besar Krakatau pada 1883. Kondisi dasar laut yang relatif dangkal membuat material hasil erupsi lebih mudah menumpuk hingga membentuk gundukan yang kemudian terlihat seperti daratan baru.

Selain itu, lontaran material piroklastik dan aliran lava selama erupsi juga berperan dalam pembentukan endapan. Dinamika arus dan gelombang laut Selat Sunda turut memindahkan material berukuran lebih ringan ke lokasi tertentu yang relatif tenang sehingga kemudian mengendap.

Bisa Membesar, Bisa Hilang Kembali

Daryono mengatakan, keberadaan daratan baru tersebut belum tentu bersifat permanen. Perkembangannya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara pasokan material vulkanik dan proses erosi oleh laut.

Jika Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dan terus memasok material, daratan tersebut berpotensi bertambah luas.

Baca Juga: Prabowo Terbitkan Perpres 82/2026, Operasional Kopdes Merah Putih Resmi Dipercepat

Strukturnya juga dapat menjadi lebih kuat apabila tertutup aliran lava yang kemudian membeku menjadi batuan keras.

Sebaliknya, jika aktivitas erupsi berhenti, gelombang dan abrasi dapat mengikis material yang masih berupa pasir atau endapan lepas. Kondisi itu dapat menyebabkan daratan tersebut menyusut atau bahkan kembali tenggelam.

“Longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini dalam waktu singkat,” ujarnya.

Belum Bisa Disebut Gunung Api Baru

Daryono menjelaskan, untuk menyebut sebuah daratan sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri, diperlukan sejumlah bukti geologi.

Pertama, harus terdapat saluran magma mandiri yang terhubung dengan dapur magma melalui rekahan baru dan terpisah dari kawah induknya.

Kedua, daratan tersebut harus memiliki aktivitas erupsi magmatik sendiri, dengan magma atau gas keluar dari kawahnya, bukan sekadar menerima material dari gunung api di sekitarnya.

Baca Juga: 1,12 Juta Orang Naik Kereta Bogor-Sukabumi, Stasiun Sukabumi Catat Penumpang Terbanyak

Ketiga, harus terdapat struktur geologi dan deformasi yang menunjukkan aktivitas tersendiri, seperti gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat di bawah daratan tersebut.

Karena itu, kemunculan gundukan atau daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau belum cukup untuk menyimpulkan bahwa telah lahir gunung api baru.

Badan Geologi Temukan Penambahan Daratan 32,8 Hektare

Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga melakukan analisis terhadap perubahan bentuk tubuh Gunung Anak Krakatau setelah erupsi menerus pada 4-6 September 2026.

“Penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau di sektor barat laut - barat - barat daya sebagai akibat pengendapan material piroklastik dan aliran lava hasil erupsi menerus tanggal 4 - 6 September 2026. Badan Geologi menghitung  penambahan luasan sebesar 32.8 ha,” ujar Kepala PVMBG, Badan Geologi, Kementerian ESDM, S.S Rita Susilawati dalam keterangannya.

Selain penambahan daratan pada tubuh utama Gunung Anak Krakatau, citra Sentinel juga menunjukkan adanya dua gundukan kecil yang tampak seperti pulau, masing-masing di sebelah barat laut dan tenggara tubuh gunung api.

Badan Geologi menduga kemunculan kedua gundukan tersebut berkaitan dengan erupsi menerus selama sekitar 25 jam.

Baca Juga: Indonesia Belum Raih Medali Emas di Asian Games 2026, Kemenpora Tetap Bidik 4 Emas

Interpretasi sementara menunjukkan magma yang relatif encer keluar melalui jalur bukaan yang memanjang dari arah barat laut ke tenggara. Material hasil erupsi kemudian diduga membentuk daratan pada lokasi lain sehingga terlihat seperti dua gundukan atau pulau kecil.

Namun, Badan Geologi menegaskan bahwa interpretasi tersebut masih bersifat sementara dan perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan lapangan.

Badan Geologi akan membandingkan citra satelit sebelum dan sesudah erupsi serta melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan proses pembentukan kedua gundukan tersebut.

Dengan demikian, kemunculan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau untuk saat ini lebih tepat dipahami sebagai fenomena pembentukan endapan vulkanik akibat aktivitas erupsi. Apakah gundukan tersebut akan berkembang menjadi struktur permanen atau kembali terkikis laut masih membutuhkan pemantauan dan verifikasi lebih lanjut.

 

Berita Terkait
Berita Terkini