AI Masuk Redaksi: Antara Efisiensi, Akurasi, dan Batas Jurnalisme

Sukabumiupdate.com
Rabu 01 Apr 2026, 13:50 WIB
AI Masuk Redaksi: Antara Efisiensi, Akurasi, dan Batas Jurnalisme

Showcasing Google AI Tools di Jakarta, Selasa 31 Maret 2026, diikuti perwakilan dari  media online. (Sumber : Istimewa.).

SUKABUMIUPDATE.com - Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di ruang redaksi kian meluas. Sejumlah media di daerah mulai mengintegrasikan teknologi ini ke dalam proses produksi konten, dari penulisan hingga distribusi. Namun, di balik efisiensi yang ditawarkan, para pelaku industri tetap menegaskan satu hal: AI bukan pengganti jurnalis.

General Manager harapanrakyat.com, Subagja Humara, mengakui redaksinya sempat bereksperimen dengan berbagai platform AI. Hasilnya tak selalu memuaskan. Mulai dari performa SEO yang kurang optimal hingga ilustrasi dan video yang tidak ramah algoritma. “Percuma cepat, tapi tidak ada distribusi,” ujarnya dalam kegiatan Showcasing Google AI Tools di Jakarta.

Pengalaman itu sempat membuat timnya kembali ke cara manual. Namun, setelah mengikuti pelatihan penggunaan AI dari Google, mereka menemukan pendekatan baru. AI kini dimanfaatkan bukan hanya di ruang redaksi, tetapi juga oleh wartawan di lapangan. Fokusnya bukan hanya mengejar kecepatan produksi, melainkan menyelaraskan konten dengan algoritma distribusi di berbagai platform seperti Google, TikTok, hingga Instagram.

Baca Juga: Di Balik Adopsi AI, Redaksi Tetap Menjaga Prinsip Verifikasi

Berbeda dari Harapan Rakyat, Kalesang.id sejak awal menggunakan AI secara terbatas, yaitu hanya untuk verifikasi dan pengecekan typo. Media Director Kalesang.id, Wendi Wambes, mengatakan perubahan terjadi setelah timnya mengenal tools seperti Google NotebookLM dan Google Pinpoint. Keduanya dinilai membantu dalam pengolahan data untuk liputan mendalam.

Meski begitu, Wendi menegaskan batas yang tidak boleh dilanggar. “AI bukan pengganti jurnalis. Kerja lapangan tetap tidak tergantikan,” katanya.

Di Kalesang, AI justru diposisikan sebagai alat untuk “membebaskan jurnalis dari belenggu administrasi”, sehingga mereka bisa lebih fokus pada peliputan dan verifikasi di lapangan. Prinsip ini menjadi salah satu dari sejumlah pilar utama yang mereka jaga dalam adopsi teknologi.

Baca Juga: Ditengah Penghematan Anggaran, Warga Sukabumi Lintasi Jembatan Uji Nyali

Sementara itu, di Sumatra Barat, Langgam.id melihat AI sebagai jawaban atas keterbatasan sumber daya manusia. Manager Langgam.id, Mukhtar Syafi’i, menyebut kegelisahan redaksinya berangkat dari keinginan menghadirkan liputan mendalam dan multimedia dengan tim yang terbatas.

Sebelum menggunakan AI, proses produksi, mulai dari transkrip, dubbing, hingga pembuatan skrip media sosial, dilakukan secara manual dan memakan waktu. Kini, berbagai tools seperti Google NotebookLM, Google Pinpoint, hingga fitur text-to-speech membantu mempercepat alur kerja, termasuk dalam produksi podcast dan video.

Namun, proses jurnalistik tetap dijaga. Naskah yang dihasilkan AI tidak langsung dipublikasikan, melainkan melalui penyuntingan dan verifikasi oleh editor. “Dalam prosesnya tidak langsung diunggah. Tetap dengan proses jurnalisme,” ujar Mukhtar.

Baca Juga: WFH Sektor Swasta Segera Berlaku? Airlangga: Tunggu SE dari Kemenaker

Langgam juga mulai menyusun standar operasional prosedur (SOP) penggunaan AI di redaksi, mulai dari pembuatan ilustrasi hingga dubbing. Bahkan, pelatihan internal digelar untuk memastikan jurnalis memahami cara kerja dan batasan teknologi ini.

Meski begitu, kekhawatiran soal “halusinasi” AI tetap ada. Mukhtar mengakui risiko tersebut, namun menilai penggunaan data berbasis hasil liputan lapangan mampu meminimalkan kesalahan.

Di tengah derasnya adopsi teknologi, benang merah dari ketiga media ini serupa. AI dipandang sebagai asisten, bukan pengganti. Teknologi ini mempercepat kerja, merapikan proses, dan memperluas distribusi. Namun, akurasi, verifikasi, dan kerja lapangan tetap menjadi fondasi yang tak tergantikan.

Baca Juga: Ragu Soal Harga BBM: Pemerintah Akhirnya Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, 50 Liter Per Hari

Di ruang redaksi, masa depan jurnalisme mungkin akan semakin terdigitalisasi. Tapi satu hal tidak berubah, yaitu bahwa berita yang kredibel tetap bergantung pada manusia yang memproduksinya.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Pusat Citra Dyah Prastuti menekankan bahwa AI seharusnya diperlakukan sebagai "asisten intern" di newsroom. "Dalam pekerjaan newsroom, manusianya tetap harus terlibat," ujarnya. Ia menyebutkan, sebanyak 40 media telah mengikuti program fellowship sebagai bagian dari upaya transformasi bersama agar industri media tetap bertahan di tengah perubahan teknologi.

Dari sisi teknologi, Google News Partner Manager, Yos Kusuma, menyatakan komitmen perusahaan untuk mendorong jurnalisme berkelanjutan di Indonesia melalui kolaborasi dengan Dewan Pers dan AMSI. Ia menegaskan, meski AI dapat meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja, peran manusia tetap krusial.

Baca Juga: Banyak Acara Seru Termasuk di Sukabumi, Jadwal Event Jawa Barat April 2026

"Tujuan utama kami adalah membantu jurnalis dan profesional media," kata Yos. Ia juga menambahkan bahwa inovasi alat berbasis AI yang diperkenalkan Google dirancang untuk mendukung ekosistem berita yang lebih adaptif dan inklusif.

Sementara itu, Ketua Komisi Digital Dewan Pers, Dahlan Dahi, mengingatkan pentingnya menjaga esensi jurnalisme di tengah disrupsi teknologi. Menurutnya, pers bukan hanya berperan menyampaikan informasi, tetapi menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan. "Tanpa pers, tidak ada kontrol sosial dan tidak ada mekanisme koreksi dalam masyarakat," ujarnya.

Pada Oktober 2025, AMSI menyelenggarakan pelatihan Google AI Tools bagi 40 media, yang dilanjutkan dengan program fellowship pada November 2025 hingga Januari 2026. Di akhir program ini, AMSI menampilkan hasil pelatihan dan fellowship, termasuk manfaat penggunaan Google AI Tools di ruang redaksi.

 

 

 

Berita Terkait
Berita Terkini