Menuju Ekonomi Global Berbasis Kelautan

Sukabumiupdate.com
Rabu 30 Sep 2026, 20:39 WIB
Menuju Ekonomi Global Berbasis Kelautan

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. (Sumber Foto: Istimewa.)

Oleh: Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. (Guru Besar Emiritus IPB University Bogor/Komisi IV DPR RI/Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004)

Selama berabad-abad, laut dipandang sebagai pemisah antarpulau dan antarbangsa. Kini cara pandang itu berbalik. Laut adalah penghubung, sekaligus lumbung pangan, energi, obat-obatan, dan peradaban baru. Dunia sedang bergerak menuju ekonomi global berbasis kelautan, dan Indonesia semestinya berdiri di barisan terdepan.

Modal kita nyaris tak tertandingi. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai yang sangat panjang, dan dua pertiga wilayahnya berupa laut. Di dalamnya tersimpan keanekaragaman hayati laut yang termasuk paling kaya di planet ini, dari terumbu karang, hutan bakau, dan padang lamun hingga ribuan spesies ikan dan biota lain.

Namun kekayaan yang besar belum otomatis menjadi kesejahteraan yang besar. Tantangan kita adalah mengubah potensi menjadi kemakmuran tanpa merusak sumbernya.

Perikanan dan Budidaya: Dari Volume ke Nilai

Sektor perikanan adalah pintu masuk paling nyata. Potensi produksi akuakultur Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 100,06 juta ton per tahun, sementara produksi pada 2025 baru sekitar 18,41 juta ton. Selisih yang lebar ini menunjukkan ruang pengembangan yang luar biasa, baik budidaya laut, tambak, maupun perairan darat, untuk udang, ikan, rumput laut, kerang, lobster, dan biota lainnya.
Namun, mengejar tonase saja tidak cukup.

Dalam forum The 13th International Conference on Fisheries and Aquaculture (ICFA) 2026 di Miri, Sarawak, Malaysia, pada 29–30 September 2026, saya menegaskan bahwa budidaya perikanan harus bergerak melampaui peningkatan produksi, menuju sistem yang produktif, menguntungkan, kompetitif, inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Kuncinya ada pada praktik budidaya terbaik (Best Aquaculture Practices): benih unggul, pengelolaan pakan, kualitas air, biosekuriti, dan pengendalian penyakit. Teknologi digital seperti kecerdasan buatan, Internet of Things, big data, blockchain, dan drone dapat membantu pembudidaya bekerja lebih efisien dan mengurangi risiko usaha. Semua itu harus ditopang rantai pasok terpadu dari hulu ke hilir, mulai dari benih, pakan, pembesaran, pengolahan, pengemasan, dan transportasi hingga pasar. Tanpa keterpaduan itu, nilai tambah akan lari ke pihak lain, sementara pembudidaya kecil tetap berada di posisi paling lemah.

Energi dan Sumber Daya Mineral: Fondasi yang Perlu Dikelola Bijak

Laut juga menyimpan sumber daya nonhayati. Minyak dan gas bumi lepas pantai telah lama menjadi penyumbang penting energi dan penerimaan negara. Ke depan, tantangannya ganda: mengelola cadangan yang ada secara bertanggung jawab, sekaligus mempersiapkan transisi ke energi yang lebih bersih.

Di sinilah gagasan energi biru menemukan relevansinya. Arus laut, gelombang, pasang surut, angin lepas pantai, hingga bioenergi dari rumput laut dan mikroalga adalah sumber energi terbarukan yang belum tergarap optimal. Bagi negara kepulauan dengan banyak pulau kecil dan terpencil, energi terbarukan berbasis laut dapat menjawab persoalan kelistrikan yang selama ini mahal dan sulit dijangkau jaringan konvensional.

Mutiara, Rumput Laut, dan Farmasi: Kekayaan yang Bernilai Tinggi

Tidak semua kekayaan laut bernilai karena volumenya. Sebagian bernilai karena kualitasnya. Mutiara laut selatan, misalnya, telah lama dikenal sebagai komoditas mewah, dan budidayanya menghidupi masyarakat pesisir di sejumlah wilayah. Produk seperti ini menunjukkan bahwa laut dapat menghasilkan nilai ekonomi tinggi dengan tekanan ekologis yang relatif rendah, asalkan kualitas perairan terjaga.

Rumput laut menawarkan peluang yang lebih luas lagi. Ia dapat diolah menjadi bahan baku pangan, farmasi, kosmetik, bioenergi, hingga biomaterial. Inilah hilirisasi yang saya maksudkan: bukan sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan membangun industri pengolahan di dalam negeri agar nilai tambah, lapangan kerja, dan peluang usaha tinggal di Indonesia.

Bioteknologi kelautan membuka lapisan berikutnya. Organisme laut menghasilkan senyawa bioaktif yang berpotensi menjadi bahan obat, suplemen, dan produk kesehatan.

Dari sinilah lahir apa yang disebut produk farmasi biru (blue pharmaceuticals). Selain itu ada pupuk hayati biru dan bahan biomaterial pengganti plastik. Kesemuanya menjadikan laut sumber inovasi industri masa depan, bukan hanya sumber ikan.

Pariwisata Bahari dan Jasa Lingkungan

Keindahan bawah laut dan garis pantai Indonesia adalah aset pariwisata kelas dunia. Wisata selam, wisata pantai, wisata pulau kecil, dan wisata budaya pesisir dapat menggerakkan ekonomi daerah dari ujung barat hingga timur. Namun pariwisata bahari memiliki paradoks: ia hidup dari keindahan yang bisa rusak oleh pariwisata itu sendiri. Terumbu karang yang rusak oleh jangkar, limbah, dan pembangunan tak terkendali akan menghapus alasan wisatawan datang.

Karena itu, pariwisata harus diselaraskan dengan daya dukung ekosistem. Hutan bakau dan padang lamun pun perlu dilihat sebagai infrastruktur alam yang melindungi pantai dari abrasi dan gelombang, menyimpan karbon, dan menjadi tempat berkembang biak berbagai biota. Nilai jasa lingkungan ini sering luput dari hitungan ekonomi, padahal manfaatnya nyata.

Jalur Pelayaran dan Diplomasi Maritim

Posisi geografis Indonesia di antara dua benua dan dua samudra menjadikan perairan kita salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia. Pelabuhan, galangan kapal, logistik maritim, dan konektivitas antarpulau adalah tulang punggung ekonomi kelautan yang sering kurang mendapat perhatian.

Di sisi lain, laut adalah ruang diplomasi. Kehadiran Indonesia dalam forum internasional seperti ICFA 2026 merupakan kesempatan memperkuat kontribusi ilmiah dan diplomasi maritim kita, sekaligus mendorong kolaborasi global menuju masa depan perikanan dan akuakultur yang berkelanjutan. Pengetahuan, data, dan teknologi kelautan akan bernilai lebih besar jika dibagikan dan dikembangkan bersama, terutama di antara negara-negara Selatan yang menghadapi tantangan serupa.

Enam Langkah ke Depan

Agar potensi ini tidak berhenti sebagai wacana, ada enam langkah yang menurut saya perlu ditempuh.

Pertama, berinvestasi dalam ilmu kelautan dan inovasi dengan membangun lebih banyak pusat riset dan pengembangan biru, inkubator usaha, serta mekanisme pembiayaan.

Kedua, mengarusutamakan pengelolaan pesisir terpadu (Integrated Coastal Management/ICM) dalam rencana pembangunan nasional, didukung landasan hukum, perencanaan tata ruang, dan strategi ketahanan pesisir.

Ketiga, memperkuat dan memperluas penerapan ICM yang sudah berhasil sebagai model percontohan pengembangan ekonomi biru berkelanjutan.

Keempat, mendorong kolaborasi Selatan-Selatan dan global melalui berbagi praktik terbaik, data, dan teknologi.

Kelima, mendukung komunitas pesisir lewat penguatan kapasitas, pembagian manfaat yang adil, dan tata kelola partisipatif.

Keenam, mendidik generasi berikutnya dengan menumbuhkan literasi pesisir dan kelautan, kewirausahaan biru, serta kepemimpinan pemuda.

Dari Produksi ke Keberlanjutan, dari Inovasi ke Dampak

Ekonomi kelautan bukan sekadar menambah daftar komoditas. Ia adalah cara berpikir baru: memandang laut sebagai sistem hidup yang produktif selama dijaga. Perikanan, energi, mutiara, pariwisata, farmasi, dan biomaterial saling terhubung dan saling bergantung pada satu hal, yaitu kesehatan ekosistem laut.

Pesan yang ingin saya sampaikan dapat diringkas dalam satu kalimat: dari produksi menuju keberlanjutan, dari inovasi menuju dampak. Indonesia memiliki laut, ilmuwan, dan pelaku usaha yang mampu mewujudkannya. Yang dibutuhkan adalah keberanian politik, konsistensi kebijakan, dan kolaborasi lintas sektor. Jika itu terwujud, Indonesia bukan hanya menjadi peserta dalam ekonomi global berbasis kelautan, melainkan salah satu pemimpinnya.

Berita Terkini