Pengamat Sebut Dua Faktor Ini yang Mendongkrak Suara PKS

Pengamat Sebut Dua Faktor Ini yang Mendongkrak Suara PKS

SUKABUMIUPDATE.com - Hasil hitung cepat atau quick count sementara di sejumlah lembaga survei menunjukkan bahwa Partai Kesejahteraan Sosial (PKS) mampu mencapai angka 8 persen. Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Adi Prayitno menilai ada dua faktor yang menjadi alasan naiknya suara PKS.

"Pertama posisi PKS yang konsisten berada di barisan depan kubu oposisi pemerintah," ujar Adi saat dihubungi, Kamis, 18 April 2019.

Perolehan suara PKS pada Pemilu 2019 ini diprediksi naik dibandingkan pemilu sebelumnya. Pemilu 2014, PKS meraih suara 6,79 persen.

Menurut Adi, PKS dan Partai Gerindra mendapat berkah elektoral karena berada di kelompok posisi. Akan tetapi, dua partai pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat tidak mendapatkan berkah yang sama. Alasannya, kata Adi, kedua partai itu setengah hati mendukung pasangan nomor urut 02.

Adi menilai, meski PAN dan Demokrat kerap mengkritik kinerja pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi, tetapi di sisi lain mereka juga acap kali menunjukkan berpihak ke pemerintah. "Nah, kalau PKS tidak begitu. PKS ambil garis yang cukup tegas dengan pemerintah," tutur Adi.

Ia menambahkan, faktor kedua yang membuat PKS meraup suara banyak karena sebagian besar pemilih Islam yang tergabung dalam Persatuan Alumni 212 merupakan pendukung paslon 02. Sehingga, di mata pemilih Islam, PKS pun bukan hanya partai yang dianggap murni menentang pemerintah.

"Mereka juga melihat PKS memiliki warna Islam yang serupa. Muslim perkotaan, kelompok terpelajar," kata Adi.

Berdasarkan hasil penghitungan cepat saat ini, PKS mendapatkan suara sekitar 8-9 persen. Quick count Litbang Kompas menunjukkan PKS mendapat suara 8,56 persen, Indo Barometer mencatat PKS meraup 9,66 persen, dan LSI Denny JA merilis PKS memperoleh 8,04 persen.

Sumber: Tempo

Editor:Yusuf
Berita Terkini
Ilustrasi - Tulisan ini mengajak kita merenungkan ironi tentang sensitivitas terhadap yang masuk ke perut, tetapi sering abai terhadap yang masuk ke rekening. (Sumber : AI/Gemini).

Lebih Takut Daging Babi daripada Uang Korupsi?

Seorang office boy panik usai tak sengaja memakan daging babi. kisah itu, muncul refleksi tajam tentang korupsi, uang haram, dan mengapa manusia sering lebih takut pada makanan terlarang daripada harta yang diperoleh tidak halal.

07 Nov 2026, 17:18 WIB