Kapolri Ungkap Kunci Sukses Pengungkapan Penyelundupan Sabu 1 Ton

Sukabumiupdate.com
Kamis 20 Jul 2017, 05:48 WIB
Kapolri Ungkap Kunci Sukses Pengungkapan Penyelundupan Sabu 1 Ton

SUKABUMIUPDATE.com - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan kerjasama antar instansi atau lembaga menjadi kunci pengungkapan penyelundupan sabu-sabu seberat satu ton di Anyer, Banten pada Kamis (13/7/2017) lalu. Ia mengatakan kerjasama itu akan diteruskan ke depannya dengan harapan dapat memotong supply narkoba yang masuk ke Indonesia.

"Itu adalah hasil kerja sama antara tiga instansi, yaitu Polri, Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, serta BNN. Jadi dari segi informasi, kita sharing antar ketiga instansi dan di lapangan kita juga bekerja sama," kata Tito di Balai Pertemuan Polda Metro Jaya, Kamis (20/7/2017).

Ia mengatakan sabu-sabu yang disita merupakan sabu-sabu kelas satu. Jumlahnya pun terhitung merupakan penangkapan dengan barang bukti terbesar sepanjang sejarah kepolisian Indonesia.

Jaringan yang ditangkap berasal dari Taiwan dan merupakan salah satu bandar utama. Setelah mendapat informasi dari kepolisian Taiwan, Tito mengatakan intansi gabungan berhasil melacak kapal Wander Lust yang membawa narkoba itu.

"Alhamdulillah kapal-kapal pengejar dari Dirjen Bea dan Cukai bersama Direktorat Pol Air Polri berhasil mengejar dan menangkap kapalnya. Sekarang kapalnya sudah di Batam," kata Tito.

Menteri Keuangan Sri Mulyani yang hadir dalam rilis itu, mengatakan Dirjen Bea dan Cukai mengerahkan dua kapal Bea Cukai 7005 dan BC 8006 untuk mengejar kapal Wander Lust. Hingga akhirnya radar kapal BC 7005 menangkap sebuah objek di daerah Tanjung Berakit yang diduga merupakan kapal Wander Lust yang membawa metaphetamine.

"Tim patroli laut dari Dirjen Bea Cukai membawa kapal tersebut ke gudang tangkapan KPU bea dan cukai Batam di Tanjung Kucang," kata Sri Mulyani.

Sri mengatakan Kapal Wander Lust telah menjadi target operasi di 4 negara selama 2 bulan terakhir. Ia mengatakan sistem distribusi narkoba jaringan ini kerap dilakukan dengan cara kapal ke kapal. Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap aktivitas mencurigakan.

"Kalau nelayan kita memang mengetahui dan melihat adanya kegiatan-kegiatan yang mencurigakan, untuk bisa menyampaikan kepada aparat yang berwajib. Apakah itu bea cukai, BNN, maupun Polri dan TNI," kata Sri Mulyani.

Sementara itu Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Inspektur Jenderal Arman Depari mengatakan Indonesia harus lebih waspada terhadap supply narkoba dari luar. Pasalnya, tindakan tegas Pemerintah Filipina membuat bandar narkoba mengalihkan target konsumennya ke Indonesia.

"Segitiga emas yang awalnya jadi asal barang-barang narkoba yang masuk ke Indonesia bergeser ke sungai Mekong," kata Arman.

Arman mengatakan para bandar ini tidak lagi menjual heroin atau psikotropika alami. Mereka beralih ke psikotropika aktif seperti sabu-sabu dan ekstasi. "Kita akan hancurkan sindikat ini dengan kekuatan yang kita miliki dan senjata yang ada," kata Arman.

Sumber: Tempo

Berita Terkini