SUKABUMIUPDATE.com – Pembangunan sembilan unit jembatan pada ruas jalan nasional mulai dari Cisolok-Cibareno, Surade-Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi hingga Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, yang dibiayai melalui anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) senilai sekitar Rp140 miliar, dikabarkan menyisakan persoalan terkait pembayaran dana talangan dan biaya operasional lapangan.
Proyek yang dikerjakan oleh PT Galih Medan Persada KSO PT Padi Raya Cemerlang tersebut mulai dikontrak pada Juni 2023. Pekerjaan fisik dimulai pada Agustus 2023 dan dinyatakan rampung pada Oktober 2025.
Sejumlah jembatan yang dibangun dalam proyek tersebut di antaranya: Jembatan Cibalandongan sepanjang 22 meter di Desa Kademangan Kecamatan Surade. Jembatan Cipangparangan sepanjang 6 meter. Jembatan Cibugel sepanjang 40 meter dan Jembatan Cibabi sepanjang 8,4 meter di Desa Sumberjaya. Jembatan Cibatu sepanjang 16 meter di Desa Buniasih. Jembatan Cileleuy di Desa Tegalbuleud. Dan Jembatan Ciogong-Ciujung di wilayah Sindangbarang Kabupaten Cianjur.
Namun, setelah seluruh pekerjaan selesai dan jembatan telah dimanfaatkan masyarakat, muncul keluhan dari sejumlah mantan karyawan lapangan yang mengaku belum menerima penggantian dana talangan yang mereka keluarkan selama proyek berlangsung.
Baca Juga: Disnakertrans Sukabumi Dorong Pekerja SPPG Terdaftar BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan
Salah seorang mantan karyawan bagian logistik berinisial RG mengungkapkan, pada periode Oktober hingga Desember tahun 2024 saat dilakukan percepatan progres pekerjaan, tim lapangan mengalami keterbatasan biaya operasional sehingga terpaksa menggunakan uang pribadi demi menjaga kelancaran pekerjaan. Ia menyebut pengeluaran dana talangan tersebut diketahui langsung oleh kuasa KSO.
"Jadi dulu bulan Oktober sampai Desember 2024 ada percepatan progres. Kami di lapangan dikejar target, sedangkan operasional di lapangan tidak ada. Makanya saya dan teman-teman lainnya berinisiatif menggunakan dana talangan pribadi untuk kebutuhan operasional," ujar RG kepada sukabumiupdate.com, Rabu (3/6/2026).
Menurut RG, dana pribadi tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan lapangan seperti pembayaran lembur pekerja, pembelian bahan bakar kendaraan operasional, hingga kebutuhan teknis lainnya agar pekerjaan tetap berjalan sesuai target.
"Khusus saya pribadi, dana talangan itu dipakai untuk operasional lapangan saja. Sementara kebutuhan lain seperti material, upah pekerja, sewa alat dan kebutuhan lainnya juga ditalangi oleh teman-teman di lapangan," katanya.
RG menyebut pihaknya sudah berupaya menagih ke pihak perusahaan. Namun hingga kini pihak perusahaan tidak memberikan kepastian pembayaran dana talangan tersebut. "Bukti kwitansi ada.nanti sya fotokan..Dan itu diketahui sama HRDnya langsung," kata dia.
Baca Juga: Ayah Mahasiswa yang Viral di PNJ Bersujud Sambil Menangis: Saya Mohon Maaf
Keluhan serupa disampaikan mantan karyawan lapangan lainnya berinisial ZK. Ia menyebutkan total tagihan dana talangan dan penggantian biaya yang belum dibayarkan oleh pihak kontraktor mencapai Rp476.281.672.
Adapun rincian dana talangan yang dikeluarkan untuk pembayaran:
- Pekerjaan Wilayah 1 Ciujung-Cisolok-Cibareno sebesar Rp25.526.000,
- Pekerjaan Wilayah 2 Surade-Tegalbuleud sebesar Rp48.089.500,
- Pembayaran pekerja Defry dan Fatoni sebesar Rp290.796.172,
- Pembayaran kepada PT Astri Sidiq Jaya sebesar Rp36.120.000,
- Material pasir dan batu sebesar Rp3.400.000,
- Pengadaan pasir sebesar Rp6.000.000,
- Sewa water barrier Dinas Perhubungan periode Januari - Juli 2024 sebesar Rp28.000.000,
- Sewa water barrier Dinas Perhubungan periode Agustus 2024 sebesar Rp4.000.000,
- Sewa water barrier Dinas Perhubungan periode September 2024 sebesar Rp4.000.000,
- Sewa water barrier Dinas Perhubungan periode Oktober 2024 sebesar Rp4.000.000,
- Serta upah operator excavator periode Mei hingga Agustus 2025 sebesar Rp26.350.000.
"Hingga detik ini seluruh tagihan tersebut belum juga dibayarkan oleh pihak kontraktor," ujar ZK.
Sementara itu, Andi, warga Surade yang turut bekerja dalam pembangunan Jembatan Cibalandongan, membenarkan kondisi di lapangan saat proyek berlangsung. Ia mengatakan banyak pekerja dan pelaksana lapangan yang menggunakan uang pribadi untuk menjaga kelancaran pekerjaan.
"Saya mengetahui langsung kondisi saat itu. Memang ada karyawan lapangan yang mengeluarkan uang pribadi untuk dana talangan, mulai dari upah pekerja, kebutuhan BBM hingga penyewaan alat. Saya juga kaget setelah berkomunikasi dengan mereka ternyata sampai sekarang belum dibayarkan oleh pihak kontraktor," kata Andi.
Baca Juga: Reses di Pondokkaso Landeuh, Teddy Setiadi Serap Aspirasi Infrastruktur Dan Penanganan Bencana
Para mantan karyawan berharap pihak kontraktor segera memberikan kejelasan dan menyelesaikan kewajiban pembayaran yang mereka klaim masih tertunggak. Mereka juga meminta adanya itikad baik serta tanggung jawab dari perusahaan terhadap biaya-biaya yang telah dikeluarkan selama proyek berlangsung.
Hingga berita ini diterbitkan, sukabumiupdate.com masih berupaya konfirmasi kepada pihak PT Galih Medan Persada KSO PT Padi Raya Cemerlang guna memperoleh keterangan resmi terkait keluhan tunggakan pembayaran dana talangan tersebut.






