Wapres Gibran Jenguk Ojol Asal Sukabumi Korban Brutalitas Aparat di Jakarta

Sukabumiupdate.com
Sabtu 30 Agu 2025, 13:57 WIB
Wapres Gibran Jenguk Ojol Asal Sukabumi Korban Brutalitas Aparat di Jakarta

Wapres Gibran Rakabuming Raka menjenguk Moh. Umar Amarudin (30 tahun) di RS PELNI, Jakarta Barat, pada 29 Agustus 2025 malam. | Foto: Istimewa

SUKABUMIUPDATE.com - Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming Raka menjenguk Moh. Umar Amarudin (30 tahun), driver ojek online atau ojol asal Kabupaten Sukabumi yang ikut menjadi korban luka akibat kebrutalan aparat saat kericuhan demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, pada 28 Agustus 2025.

Mengutip cnnindonesia.com, Gibran menemui Umar di RS PELNI, Jakarta Barat, 29 Agustus 2025 malam. Ia berbincang dengan Umar, menanyakan kondisinya serta bertanya mengapa ia melewati area rawan saat kericuhan terjadi. Umar menjawab bahwa ia terpaksa melintasi jalan tersebut karena banyak akses lain yang ditutup karena unjuk rasa.

Gibran kemudian berpesan kepada Umar agar beristirahat dengan cukup. "Istirahat yang cukup tiga hari pulang," ucap dia yang juga menjenguk korban lain di bilik sebelah Umar. Pria tersebut menceritakan kondisinya yang mengalami luka di kepala dan pusing setelah menjadi korban saat dalam perjalanan pulang kerja.

Umar merupakan driver ojol asal Kampung Sukamukti RT 01/01 Desa/Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Ia tengah menjalani perawatan intensif di RS PELNI. Kondisinya dilaporkan membaik setelah sempat dikabarkan kritis. Hal ini disampaikan Kepala Desa Cikidang, Suhendra, Sabtu (30/8/2025) kepada sukabumiupdate.com.

Baca Juga: Ojol Asal Sukabumi Korban Kebrutalan Aparat: Setalah Salat Magrib, Kena Gas Air Mata hingga Pukulan

Suhendra mengatakan perbaikan kondisi Umar bahkan sudah bisa dirasakan oleh pihak keluarga. Pada 29 Agustus 2025, Umar dapat berkomunikasi melalui panggilan video dengan keluarganya di Sukabumi. Dalam percakapan itu, ia sempat memberikan keterangan awal terkait apa yang dialaminya. Meski terbatas, kesaksiannya cukup memberi gambaran bagaimana warga sipil yang tengah beraktivitas justru terjerumus dalam pusaran kekerasan aparat.

"Sudah membaik, kemarin pihak keluarga video call langsung sama korban. Bisa dimintai keterangan, bisa ngobrol. Belum (rencana pulang atau dipindahkan dari RS PELNI ke Sukabumi). Jadi untuk sementara masih dirawat di RS PELNI," kata dia.

Menurut penuturan keluarga yang diterima Suhendra, Umar berada di sekitar lokasi aksi bukan sebagai peserta demonstrasi. Ia baru saja menurunkan penumpang dan sempat menunaikan salat magrib di masjid terdekat. Setelah keluar dari masjid, Umar mendengar keributan dan tiba-tiba merasakan perih pada matanya, diduga akibat gas air mata.

"Narik penumpang, begitu menurunkan penumpang, bahkan sempat ke masjid dulu, sembahyang magrib. Mungkin dengar keramaian, pas keluar mata perih, mungkin kena gas air mata. Gak tahu pastinya. Tahu-tahu langsung dipukuli dan dilempar. Sampai pingsan," ujarnya menjelaskan.

Akibat kekerasan itu, Umar dilaporkan mengalami patah tulang dan pergeseran rahang. Luka tersebut masih dalam proses pemeriksaan lanjutan, termasuk rontgen, untuk menentukan tindakan medis berikutnya. Opsi pemulangan ke Sukabumi baru akan dipertimbangkan setelah kondisi stabil dan ada rekomendasi medis.

Sempat beredar kabar Umar meninggal karena dilindas kendaraan taktis atau rantis barracuda Brimob Polda Metro Jaya. Namun, informasi tersebut terkonfirmasi keliru. Korban yang meninggal akibat dilindas adalah Affan Kurniawan, sesama pengemudi ojol. Umar masih berjuang di rumah sakit, menanggung derita berat akibat kekerasan yang menimpanya.

Berita Terkait
Berita Terkini