10 Kebiasaan Orang Sunda Saat Memperingati Maulid Nabi yang Masih Lestari Sampai Sekarang

Sukabumiupdate.com
Kamis 20 Agu 2026, 12:15 WIB
10 Kebiasaan Orang Sunda Saat Memperingati Maulid Nabi yang Masih Lestari Sampai Sekarang

Ilustrasi - Beberapa kebiasaan masyarakat Sunda saat menyambut dan memperingati momen Maulid Nabi Muhammad SAW. (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Ada banyak tradisi masyarakat Sunda ketika menyambut dan memperingati momen Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bentuk pelaksanaannya sendiri bisa berbeda-beda menurut daerah masing-masing, jadi tidak semua kebiasaan berlaku untuk seluruh masyarakat Sunda.

Berikut ini beberapa kebiasaan yang menarik untuk orang Sunda dalam memperingati Maulid Nabi dikutip dari berbagai sumber.

Baca Juga: 11 Prompt AI Untuk Membuat Gambar Maulid Nabi dengan Berbagai Desain Menarik

Baca Juga: 20 Ucapan Maulid Nabi Muhammad SAW, Penuh Doa dan Pesan Islami

1. Muludan atau Marhaba’an

Ini merupakan sebutan yang sangat umum untuk kegiatan memperingati Maulid Nabi di lingkungan masyarakat Sunda. Acara biasanya diadakan di masjid, musala, atau rumah warga dan dapat berlangsung secara bergiliran selama bulan Rabiul Awal.

2. Membaca Shalawat dan Riwayat Nabi

Salah satu kegiatan utama adalah membaca shalawat serta riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW. Di sejumlah daerah Sunda, masyarakat membaca kitab seperti Syaraful Anam, Barzanji, atau Ad-Diba'i, kemudian dilanjutkan dengan ceramah keagamaan.

3. Ngariung

Ngariung atau berkumpul bersama menjadi bagian penting dalam suasana muludan. Warga berkumpul untuk mengikuti pembacaan shalawat, mendengarkan ceramah, berdoa, sekaligus mempererat hubungan antar tetangga.

4. Membawa Makanan dari Rumah

Di beberapa daerah setiap keluarga membawa makanan untuk kemudian dikumpulkan dan dinikmati bersama. Bentuknya bisa berupa nasi, lauk-pauk, makanan tradisional, atau makanan ringan. Di Kampung Naga, misalnya, terdapat tradisi membawa makanan dari rumah untuk kemudian ngaliwet bareng.

5. Ngaliwet Bareng

Ngaliwet menjadi salah satu gambaran kuat tentang kebersamaan masyarakat Sunda. Dalam konteks muludan, kegiatan makan bersama bukan sekadar soal makanan, tetapi juga menjadi sarana membangun silaturahmi dan rasa kebersamaan.

6. Sedekah atau Berbagi Makanan

Semangat berbagi juga dapat muncul dalam peringatan Maulid. Masyarakat menyiapkan makanan untuk jamaah atau berbagi kepada tetangga dan orang yang membutuhkan. Tradisi semacam ini dapat ditempatkan sebagai bentuk syukur dan kepedulian sosial.

7. Cangkaruk Mulud

Ini salah satu istilah yang sangat menarik kalau kamu ingin artikel yang lebih khas. Dalam tradisi tertentu, cangkaruk mulud berkaitan dengan mengambil sebagian nasi dari tumpeng setelah pembacaan doa dan shalawat. Tradisi ini memiliki makna simbolis dan tata cara yang berbeda menurut komunitas yang melaksanakannya.

8. Santunan Anak Yatim

Peringatan Maulid juga dapat diisi dengan kegiatan sosial, salah satunya memberikan santunan kepada anak yatim. Dengan demikian, peringatan kelahiran Nabi tidak hanya berupa acara seremonial, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama.

9. Tradisi Nyangku

Kalau membahas tradisi Sunda pada bulan Maulud, Nyangku di Panjalu, Ciamis. Nyangku merupakan upacara adat untuk membersihkan pusaka peninggalan leluhur yang dilaksanakan pada bulan Maulud.

10. Ngumbah atau Ngalungsur Pusaka

Di beberapa daerah Jawa Barat juga terdapat tradisi membersihkan benda pusaka pada momentum Maulid. Contohnya seperti di Sumedang dikenal ngumbah pusaka, sementara di Garut terdapat ngalungsur pusaka. Tradisi ini bersifat lokal dan tidak bisa dianggap sebagai kebiasaan semua orang Sunda.

Itulah beberapa kebiasaan masyarakat Sunda saat menyambut dan memperingati momen Maulid Nabi Muhammad SAW.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini