SUKABUMIUPDATE.com — Hikayat Patani merupakan salah satu karya sastra sejarah Melayu beraksara Jawi yang hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam memahami perkembangan Kerajaan Melayu Patani.
Naskah klasik ini tidak hanya memuat kisah tentang asal-usul kerajaan, tetapi juga merekam perjalanan politik, pergantian raja dan ratu, hubungan dengan Siam, hingga kehidupan budaya masyarakat Melayu masa lampau.
Dalam kajian sejarah, Hikayat Patani dipandang sebagai warisan historiografi tradisional yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Patani membangun identitas dan ingatan sejarah mereka sendiri.
Asal-usul Nama Patani dan Proses Islamisasi
Catatan dalam Hikayat Patani diawali dengan kisah berdirinya negeri Patani Darussalam. Naskah kuno tersebut menyebut seorang penguasa dari Kota Mahligai bernama Paya Tu Kerub Mahajana yang kemudian digantikan oleh putranya, Paya Tu Antara atau Paya Tu Naqpa.
Dalam cerita hikayat, Paya Tu Naqpa digambarkan sangat gemar berburu. Saat berburu di kawasan tepi laut, ia menemukan seekor pelanduk putih yang tiba-tiba menghilang di dekat tempat tinggal seorang tua bernama Encik Tani. Dari nama "Encik Tani" inilah kemudian muncul nama “Patani”.
Setelah wilayah tersebut berkembang menjadi pusat pemerintahan baru, Patani menjelma sebagai negeri perdagangan internasional sekaligus pusat penyebaran Islam di kawasan Melayu.
Baca Juga: Mengenal Nasi Kerabu: Kuliner Biru Pemersatu Melayu Serumpun di Malaysia dan Thailand Selatan
Proses Islamisasi juga menjadi bagian penting dalam isi naskah. Diceritakan bahwa Paya Tu Naqpa kemudian memeluk Islam dan memakai gelar Sultan Ismail Syah.
Perubahan tersebut menandai berkembangnya pengaruh Islam dalam sistem pemerintahan dan kehidupan masyarakat lokal. Patani pun tumbuh sebagai episentrum pendidikan Islam dan kebudayaan Melayu di kawasan Asia Tenggara pada masanya.
Silsilah Pemerintahan dan Taji Empat Ratu Patani
Berdasarkan catatan tradisi Melayu Patani, silsilah pemerintahan awal dimulai oleh beberapa sultan secara berurutan:
- Sultan Ismail Shah (1500–1530)
- Sultan Muzzaffar Shah (1530–1564)
- Sultan Mansur Shah (1564–1572)
- Sultan Patik Siam (1572–1573)
- Sultan Bahadur (1573–1574)
Hingga saat ini, jejak makam para raja tersebut masih dikenali oleh masyarakat, seperti yang berada di Kampung Pare, Kampung Bana, dan Ayutthaya.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian dalam Hikayat Patani adalah masa pemerintahan ratu-ratu perempuan. Kerajaan Patani tercatat pernah dipimpin oleh empat ratu perkasa secara berturut-turut, yaitu Raja Hijau, Raja Biru, Raja Ungu, dan Raja Kuning.
Masa kepemimpinan mereka dianggap sebagai periode emas karena Patani mengalami lonjakan perdagangan, penguatan diplomatik, serta kemajuan budaya Melayu-Islam yang masif. Pedagang dari Arab, India, Cina, hingga Eropa berbondong-bondong datang ke pelabuhan penting Asia Tenggara ini.
Keberadaan ratu-ratu ini menjadi bukti otentik bahwa perempuan memiliki posisi sentral dalam struktur politik kerajaan Melayu kuno. Kisah ini sekaligus memperlihatkan bahwa konsep kepemimpinan perempuan telah hadir jauh sebelum berkembangnya wacana modern tentang kesetaraan gender.
Konflik dengan Siam dan Rekaman Budaya Lama
Di sisi lain, Hikayat Patani juga menggambarkan dinamika politik dengan Siam (Thailand) yang kerap diwarnai ketegangan. Konflik dan peperangan dengan Siam muncul sebagai persoalan besar yang menguji stabilitas kerajaan.
Persaingan kekuasaan ini tidak hanya memperebutkan wilayah politik, tetapi juga jalur perdagangan di Semenanjung Melayu. Tekanan dari Siam inilah yang secara perlahan menyebabkan kekuatan politik Patani mengalami kemunduran.
Meskipun narasi peperangan tersebut bercampur dengan unsur legenda dan tradisi lisan, kisah ini tetap berharga untuk memahami memori kolektif masyarakat Melayu Patani terhadap konflik masa lalu.
Selain aspek politik, nilai penting lain dalam Hikayat Patani terletak pada dokumentasi budaya Melayu lama. Penggunaan bahasa Melayu klasik dengan aksara Jawi menjadi media utama penulisan naskah ini.
Di dalamnya terekam jelas tentang adat istiadat kerajaan, hubungan keagamaan Islam, sistem sosial masyarakat, hingga tata cara kehidupan kaum bangsawan.
Kesimpulan
Dalam kajian sastra dan sejarah, Hikayat Patani tidak dipahami sepenuhnya sebagai catatan sejarah modern yang bersifat kronologis dan objektif. Beberapa peneliti menyebut bahwa hikayat ini juga mengandung unsur simbolik, legenda, dan kepercayaan masyarakat Melayu lama.
Namun demikian, keberadaan unsur sastra tersebut justru menjadi kekuatan utama Hikayat Patani karena memperlihatkan cara masyarakat Melayu merekam sejarah melalui tradisi penulisan klasik. Oleh sebab itu, naskah ini tidak hanya bernilai sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai sumber penting untuk memahami identitas budaya dan sejarah Melayu Patani.





