SUKABUMIUPDATE.com - Pada bagian ketiga, kabar Ujang yang mendapat teror dari sosok tak kasat mata akhirnya sampai ke telinga kokolot Lembur (Tetua Kampung). Kokolot atau orang tua itu kemudian menjelaskan apa yang dialami Ujang dan apa yang menerornya.
Nah, apakah kokolot lembur itu mampu membebaskan Ujang dari teror sosok tak kasat mata dari Leuweung Hideung? Simak lanjutan ceritanya.
Perlu diingat jika “Sing Puriding” ini hanya cerita fiktif dan tidak juga didasarkan pada kejadian nyata, jadi murni hanya sebuah karangan belaka. Nah, untuk cerita SIng Puriding yang pertama ini, kita akan mengangkat cerita yang terinspirasi dari sebuah urban legend yang cukup terkenal di Sunda yaitu “Sandekala”.
Baca Juga: Sing Puriding Cerpen Sunda “Sandekala di Leuweung Hideung” Bagian ka 3
Sandekala sendiri adalah mitos yang sudah lama menyebar dari mulut ke mulut mengenai makhluk halus atau jin yang keluar saat peralihan sore ke malam (wanci sareupna) atau saat maghrib. Sosok ini diyakini sering mengganggu anak-anak yang masih bermain di luar rumah saat hari mulai gelap.
“Sandekala di Leuweung Hideung (Bagian Akhir)”
Malam itu terasa panjang.
Tidak ada yang benar-benar tidur.
Semua duduk diam di ruang tengah, ditemani lampu minyak yang cahayanya bergoyang pelan.
Setelah ketukan di pintu belakang berhenti…
Suasana jadi sangat sunyi.
Terlalu sunyi.
Orang tua kampung itu menutup mata.
Seperti sedang menimbang sesuatu.
Lalu ia berkata:
“Moal angkat… lamun teu dipulangkeun.”
(Tidak akan pergi… kalau tidak dikembalikan.)
Ibunya Ujang bingung.
“Naon anu kudu dipulangkeun…?” (Apa yang harus dipulangkan?)
Orang tua itu menatap ke arah Ujang.
“Nu dicokot di leuweung.”
(Apa yang diambil dari hutan.)
Ujang langsung teringat.
Ranting pohon tua itu.
Yang ia patah… tanpa izin.
Malam itu juga, meski rasa takut menyelimuti, mereka memutuskan satu hal:
Mengembalikan apa yang bukan milik mereka.
Menjelang dini hari, sebelum fajar…
Ujang, ibunya, dan orang tua kampung berjalan menuju hutan.
Udara dingin menusuk.
Kabut turun rendah.
Mereka sampai di tempat itu.
Pohon tua dengan akar besar itu berdiri diam.
Seperti menunggu.
Ujang gemetar.
Tangannya memegang potongan ranting yang dibawanya.
“Simpen deui…”
(Simpan kembali…)
Dengan tangan bergetar, Ujang meletakkan ranting itu di dekat akar.
Orang tua kampung itu berbisik:
“Hapunten…”
(Mohon maaf…)
Semua ikut menunduk.
Diam.
Angin tiba-tiba berhembus.
Pelan.
Tapi terasa berbeda.
Daun-daun bergerak.
Bukan karena angin…
Tapi seperti ada yang lewat.
Dan untuk pertama kalinya sejak kejadian itu…
Tidak ada suara “kres… kres…”
Tidak ada panggilan.
Hutan kembali sunyi.
Sunyi yang “normal”.
Mereka pulang tanpa berkata apa-apa.
Hari-hari berikutnya…
Ujang kembali seperti biasa.
Tidak ada lagi suara.
Tidak ada lagi tikar.
Tidak ada lagi yang memanggil namanya.
Tapi…
Beberapa minggu kemudian…
Seorang warga kampung lain bercerita.
Ia melihat sesuatu di pinggir hutan.
Saat waktu Sandekala.
Sebuah tikar.
Tergulung.
Diam.
Lalu…
bergerak sedikit.
Seperti menunggu.
Dan dari dalamnya…
Terdengar suara pelan.
“…saha deui…”
(“…siapa lagi…”)
Sejak itu, orang kampung semakin sering mengingatkan:
“Ulah sembarangan di leuweung…
ulah nyokot lamun lain milik…
jeung… ulah ngabales lamun aya nu nyebut ngaran.”
(“Jangan sembarangan di hutan…
jangan mengambil yang bukan milik kita…
dan…jangan membalas akalau ada yang menyebut nama.”)
TAMAT




