SUKABUMIUPDATE.com - Atap kayu sirap merupakan salah satu jenis penutup atap yang telah digunakan sejak zaman dahulu. Meski kini penggunaannya mulai banyak tergantikan oleh material yang dianggap lebih praktis, seperti genteng, spandek, dan beton, atap sirap masih dapat ditemukan di sejumlah rumah di Jawa Barat.
Atap sirap terbuat dari kepingan kayu berukuran relatif kecil yang disusun secara bertumpuk dan teratur untuk menutupi seluruh permukaan atap. Susunan kepingan kayu tersebut menghasilkan tampilan khas dan menjadi salah satu ciri arsitektur tradisional.
Dalam dunia konstruksi, atap sirap juga memiliki nilai estetika tersendiri. Setiap kepingan kayu dapat memiliki bentuk dan karakter berbeda, mulai dari persegi, meruncing, hingga membulat pada bagian tertentu. Ketika disusun, kepingan-kepingan tersebut menciptakan pola yang unik.
Meski tergolong material lama, penggunaan seng atau kayu sirap ternyata masih digunakan di sejumlah wilayah Jawa Barat.
Baca Juga: Kasus Gerebek Kamar Kost Mencuat, Karyawati Perumda TJM Sukabumi Disanksi Administratif
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai persentase rumah tangga menurut kabupaten/kota dan jenis atap terluas di Jawa Barat pada 2025, rata-rata penggunaan atap berbahan seng atau kayu sirap di Jawa Barat mencapai 1,62 persen.
Data tersebut berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025. Angka tersebut memang jauh lebih kecil dibandingkan penggunaan genteng yang mencapai 78,49 persen dan asbes sebesar 15,59 persen. Namun, terdapat perbedaan penggunaan seng atau kayu sirap antara wilayah perkotaan dan kabupaten.
Kota Bogor dan Kota Sukabumi Catat Penggunaan Tertinggi
Di antara kabupaten/kota di Jawa Barat, Kota Bogor mencatat persentase rumah tangga dengan penggunaan atap seng atau kayu sirap tertinggi, yakni 7,24 persen.
Posisi berikutnya ditempati Kota Sukabumi dengan persentase 7,06 persen. Selain kedua daerah tersebut, sejumlah kota lain juga mencatat penggunaan seng atau kayu sirap yang relatif tinggi yaitu Kota Cirebon: 4,99 persen, Kota Bandung: 4,74 persen dan Kota Bekasi: 4,29 persen.
Baca Juga: “Office Ageing”, Fenomena Terlalu Lama di Kantor Bikin Kulit Kusam dan Terlihat Tua
Perbedaan Kota Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi
Data BPS juga menunjukkan perbedaan cukup mencolok antara Kota Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi. Jika Kota Sukabumi mencatat penggunaan seng atau kayu sirap sebesar 7,06 persen, Kabupaten Sukabumi hanya berada di angka 0,57 persen.
Di Kabupaten Sukabumi, penggunaan atap rumah masih didominasi oleh genteng sebesar 78,79 persen dan asbes sebesar 17,62 persen.
Sementara itu, penggunaan seng atau kayu sirap paling rendah tercatat di Kabupaten Majalengka, yakni hanya 0,01 persen. Kabupaten Ciamis berada setelahnya dengan angka 0,22 persen.
Genteng Masih Jadi Pilihan Utama
Secara umum, genteng masih menjadi material penutup atap yang paling banyak digunakan rumah tangga di Jawa Barat. Berdasarkan data Susenas Maret 2025, penggunaannya mencapai 78,49 persen.
Baca Juga: Keberagaman di Kabupaten Sukabumi: Islam Terbanyak di Cicurug, Protestan di Cikembar
Selanjutnya, atap berbahan asbes digunakan oleh 15,59 persen rumah tangga, beton 4,09 persen, seng atau kayu sirap 1,62 persen, serta bahan alami seperti bambu, jerami, atau rumbia sebesar 0,21 persen.
Tingginya penggunaan seng atau kayu sirap di sejumlah wilayah perkotaan, termasuk Kota Bogor dan Kota Sukabumi, menjadi gambaran menarik mengenai keberagaman material penutup atap yang masih digunakan masyarakat Jawa Barat.















