SUKABUMIUPDATE.com – Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BP Mektan) Provinsi Jawa Barat melalui Satuan Pelayanan (Satpel) Plumbon, Kabupaten Cirebon, terus mengoptimalkan program pompanisasi guna membantu petani menjaga ketersediaan air irigasi selama musim kemarau.
Kepala Satpel Plumbon BP Mektan Jabar, Yayat Supriyatna, mengatakan pompanisasi menjadi program prioritas karena persoalan utama yang dihadapi petani saat ini bukan lagi pengolahan lahan, melainkan keterbatasan pasokan air untuk mengairi sawah.
"Saat ini paling urgen adalah pompanisasi. Baik pompa kecil maupun besar, karena di beberapa wilayah sumber airnya cukup jauh dari lahan pertanian," ujar Yayat, Sabtu 1 Agustus 2026.
Menurutnya, BP Mektan telah menyalurkan sekitar 75 unit pompa di Kabupaten Cirebon untuk membantu petani mempertahankan aktivitas budidaya padi selama musim kemarau.
Ia menjelaskan, seluruh bantuan pompa tersebut terus dipantau pemanfaatannya agar dapat digunakan secara optimal. Jika terdapat pompa yang sementara tidak digunakan oleh satu kelompok tani, alat tersebut akan dialihkan ke wilayah lain yang tengah mengalami kekeringan.
"Apabila terdapat pompa yang sementara tidak dipakai oleh satu kelompok tani, peralatan itu akan dipindahkan ke lokasi lain yang sedang mengalami kekeringan," katanya.
Selain memperkuat program pompanisasi, BP Mektan juga mengoptimalkan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), khususnya traktor roda empat (TR4), untuk mempercepat proses pengolahan lahan.
Yayat menuturkan, traktor roda empat dinilai lebih efektif digunakan pada lahan yang mengeras setelah panen menggunakan combine harvester. Dengan kemampuan olah tanah yang lebih baik dibandingkan traktor roda dua, alat tersebut dapat membantu petani menghemat waktu, tenaga, dan biaya produksi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan kebutuhan pompa di setiap wilayah berbeda-beda, tergantung kondisi topografi serta jarak sumber air dengan lahan pertanian. Di sejumlah daerah, petani bahkan membutuhkan dua hingga tiga unit pompa untuk mengalirkan air hingga ke area persawahan.
Untuk memastikan penanganan dampak kekeringan berjalan optimal, BP Mektan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari penyuluh pertanian, petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (OPT), hingga Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) di tingkat provinsi maupun kabupaten.
"Semua pihak yang mendukung harus berkesinambungan. Apa yang dibutuhkan petani, kita kontribusikan secara bahu-membahu," pungkasnya. (adv)















