SUKABUMIUPDATE.com - Kantor SAR Jakarta resmi menutup operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap tiga penambang liar (gurandil) yang dilaporkan hilang di kawasan pertambangan emas Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor, pada Minggu (18/1/2026).
Operasi tersebut dihentikan setelah tim SAR gabungan tidak menemukan jejak maupun tanda-tanda keberadaan para korban yang diduga terdampak peristiwa asap mengepul di dalam lubang tambang milik PT Antam UBPE Pongkor tersebut.
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menyatakan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan hasil evaluasi teknis setelah penyisiran maksimal di medan ekstrem. Operasi dinilai sudah tidak lagi efektif karena seluruh area yang dicurigai telah diperiksa namun membuahkan hasil nihil.
Kendala Medan dan Gas Beracun
Dalam pelaksanaannya, Tim SAR Gabungan membagi personel menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU). Fokus utama tim adalah menyisir lubang galian tradisional atau "lubang tikus" yang berada di area PT Antam UBPE Pongkor.
"Penyisiran dilakukan hingga kedalaman kurang lebih 200 meter dengan diameter lubang yang sangat sempit, hanya 50 hingga 70 sentimeter," ujar Desiana dalam keterangannya, Rabu (21/1).
Baca Juga: Duka di Balik Kepulan Asap Tambang Emas Pongkor: 5 Gurandil Tewas, 3 Diduga Masih Terjebak
Selain ruang gerak yang terbatas, tim penyelamat dari Kantor SAR Jakarta dan Basarnas Special Group (BSG) juga harus menghadapi risiko tinggi berupa paparan gas beracun di dalam lubang. Personel diwajibkan menggunakan alat bantu pernapasan dan perlengkapan khusus untuk mencapai titik terakhir yang ditunjukkan saksi mata.
Evaluasi Bersama Keluarga
Sebelum penutupan operasi per Selasa malam (20/1/2026) , tim telah melakukan debriefing bersama para pemangku kepentingan (stakeholder), saksi mata, dan keluarga korban pada Selasa sore. Berdasarkan keterangan saksi, titik yang dicurigai telah disisir sepenuhnya oleh tim rescue, namun target tetap tidak ditemukan.
Menanggapi kejadian ini, Desiana memberikan peringatan keras kepada masyarakat untuk mematuhi aturan terkait Objek Vital demi keselamatan jiwa. Ia meminta warga tidak mendekat atau masuk ke area yang telah diberi tanda larangan.
"Karena hal itu untuk bukti bahwa negara melindungi segenap manusia dengan memberikan tanda-tanda peringatan. Dan jika melanggar, maka konsekwensi yang timbul dari hal tersebut menjadi menjadi kelalaian pada diri kita sendiri," tegasnya.
Dengan ditutupnya operasi ini, seluruh unsur SAR yang terlibat telah dikembalikan ke kesatuan masing-masing.
Sumber: Suarabogor.id




