Skandal Formula: Megachurches di AS Dikecam Keras Usai Tolak Permohonan Darurat Bantuan Susu Formula Bayi

Sukabumiupdate.com
Minggu 30 Nov 2025, 06:52 WIB
Skandal Formula: Megachurches di AS Dikecam Keras Usai Tolak Permohonan Darurat Bantuan Susu Formula Bayi

Nikalie Monroe, Fenomena "Eksperimen Sosial Formula Bayi" yang menjadi perbincangan utama dan memicu kontroversi ini mulai merebak dan menjadi sangat viral di platform TikTok, Skandal Formula (Tangkapan layar tiktok)

SUKABUMIUPDATE.com  - Gelombang kritik keras menghantam sejumlah megachurches (gereja besar) di Amerika Serikat menyusul viralnya sebuah eksperimen sosial yang jujur dan menyayat hati. Dalam konten yang menjamur di TikTok, para kreator konten terutama yang dipelopori oleh tokoh seperti Nikalie Monroe berakting sebagai orang tua yang putus asa, memohon bantuan mendesak berupa satu kaleng susu formula bagi bayi mereka yang kelaparan. Hasilnya? Mayoritas institusi yang sering kali memiliki kekayaan melimpah tersebut justru dilaporkan menolak memberikan bantuan cepat.

Fenomena "Eksperimen Sosial Formula Bayi" yang menjadi perbincangan utama dan memicu kontroversi ini mulai merebak dan menjadi sangat viral di platform TikTok sepanjang paruh kedua Tahun 2024, khususnya pada periode Agustus hingga Oktober 2024, ketika video-video pertama dari kreator seperti Nikali Monroe mulai menarik jutaan penonton dan liputan media. Secara geografis, insiden dan panggilan telepon yang direkam dalam eksperimen ini berfokus pada kota-kota besar di Amerika Serikat, menargetkan kantor dan pelayanan sejumlah megachurches ternama yang tersebar di berbagai negara bagian, dengan lokasi yang paling disorot mencakup gereja-gereja di Texas (termasuk Dallas dan Houston), Louisiana (Baton Rouge), dan wilayah lain di AS yang dikenal memiliki institusi keagamaan berskala besar.

Meskipun beberapa megachurches telah mengeluarkan klarifikasi dan janji untuk mereformasi protokol pelayanan mereka, perdebatan mengenai Eksperimen Sosial Formula Bayi ini hingga hari ini masih menjadi perbincangan panas di berbagai platform media sosial dan forum etika. Isu ini telah melampaui sekadar kritik terhadap gereja, di kahir tahun 2026 ini ia bertransformasi menjadi diskusi kritis yang lebih luas mengenai akuntabilitas institusi besar, kesenjangan antara retorika kemanusiaan dan tindakan nyata, serta bagaimana citizen journalism melalui TikTok berhasil memaksa entitas kuat untuk menghadapi cermin realitas sosial

Baca Juga: Prabowo Diminta Segera Tetapkan Darurat Bencana Nasional untuk Banjir Aceh-Sumatera

Inti dari eksperimen ini sangat sederhana namun kuat. Para TikToker menghubungi puluhan gereja yang dikenal memiliki sumber daya finansial dan logistik yang besar. Skenarionya selalu sama, di mana seorang ibu yang menangis meminta formula bayi segera, sering kali dibarengi dengan backsound suara tangisan bayi palsu di latar belakang untuk menekankan urgensi.

Penolakan yang terekam mulai dari alasan bahwa mereka tidak menyimpan stok formula hingga harus melalui birokrasi pengajuan bantuan yang memakan waktu berminggu-minggu langsung memicu kemarahan publik negara barat. Reaksi ini kontras tajam dengan citra megachurches sebagai pusat kemurahan hati dan aksi sosial.

"Ini bukan hanya tentang formula. Ini tentang respon cepat manusiawi di tengah kondisi darurat. Ketika Anda memiliki gedung senilai jutaan dolar, tetapi tidak bisa menyediakan $20 untuk menyelamatkan bayi dari kelaparan, itu adalah masalah etika yang serius," ujar seorang komentator di platform tiktok.

Fenomena ini mengangkat perdebatan filosofis yang mendalam tentang tujuan donasi, praktik charity modern, dan apakah institusi besar sudah terlalu jauh dari kebutuhan nyata komunitas di sekitarnya. Kritik diarahkan pada perbedaan antara sumbangan besar untuk proyek ambisius gereja versus kebutuhan dasar pangan yang mendesak.

Baca Juga: Bencana Agam-Padang Puluhan Jiwa Melayang, Kerugian Material Capai Puluhan Miliar

Kontroversi Formula dan Relevansi Skandal Produk

Eksperimen ini juga secara tidak terduga relevan dengan isu yang lebih luas, krisis dan skandal yang melanda pasokan susu formula. Mengingat kekhawatiran masyarakat AS yang masih tinggi pasca-skandal kontaminasi produk formula dan isu botulism yang melibatkan merek seperti ByHeart, eksperimen ini menekankan betapa penting dan mendesaknya produk formula bagi jutaan keluarga, terutama yang berpenghasilan rendah. Kelangkaan atau masalah pasokan produk formula dapat dengan cepat menjadi krisis hidup-mati bagi bayi yang bergantung padanya.

Meskipun beberapa gereja memberikan respons positif dengan cepat menghubungkan pemohon dengan bank makanan atau memberikan dana darurat proporsi penolakan yang tinggi menjadi sorotan utama. Respons yang dingin ini telah mendorong advokat sosial untuk menyerukan audit yang lebih transparan atas penggunaan dana charity oleh lembaga keagamaan.

Peran TikTok dalam menyebarkan eksperimen ini tidak dapat diabaikan. Platform ini berfungsi sebagai arena akuntabilitas publik yang cepat, memaksa institusi besar untuk menghadapi kritik secara real-time. Eksperimen sosial, meskipun kadang dikritik karena memanipulasi emosi, terbukti efektif dalam memunculkan diskusi etika. Ini menjadi bukti bahwa para kreator konten kini berperan sebagai "jurnalis warga" yang kritis, menggunakan metode yang lebih langsung untuk mengungkap kesenjangan sosial.

Viralitas konten ini memberikan pelajaran berharga bagi institusi mana pun di era digital, belas kasih harus dibuktikan, bukan sekadar diucapkan, dan birokrasi tidak boleh menjadi penghalang bagi bantuan kemanusiaan yang mendesak.

Baca Juga: Libur Akhir Pekan 29 November, Arus Lalulintas di Exit Tol Parungkuda Alami Lonjakan

Ketika Megachurches Didesak oleh Kamera TikTok

Menyusul gelombang kemarahan publik atas video viral "Eksperimen Sosial Formula Bayi" yang dipimpin oleh TikToker Nikali Monroe, beberapa megachurches yang menjadi sasaran telah angkat bicara. Respon yang muncul sangat bervariasi, mulai dari permintaan maaf yang tulus dan pengakuan kesalahan, hingga dugaan adanya "konspirasi" dan pembelaan diri yang kritis terhadap Monroe.

Salah satu tanggapan paling signifikan datang dari Abundant Church. Pendeta Utama gereja tersebut, Jared Nieman, secara terbuka membahas video Monroe dalam khotbah Minggu. Nieman menyatakan rasa "malu dan terhina" atas penanganan telepon yang tidak menunjukkan urgensi yang dibutuhkan.

"Kami melakukan kesalahan dan saya meminta maaf. Saya harap Anda tahu hati gereja kami adalah untuk membantu orang. Kami tidak akan pernah menolak membantu ibu atau bayi yang putus asa," ujar Nieman.

Nieman juga mengumumkan bahwa gereja tersebut telah menangani masalah ini secara internal dan sedang meninjau ulang protokol serta respons pelayanan mereka untuk memastikan bahwa kebutuhan mendesak ditangani dengan cepat, bukan dengan birokrasi yang berlarut-larut. Pernyataan ini mencerminkan pengakuan bahwa proses "benevolence ministry" (pelayanan kemurahan hati) yang kaku dapat menghambat aksi kemanusiaan di saat genting.

Baca Juga: Kaleidoskop 2025: Bencana Ekologi Tahun Terberat Ekosistem Indonesia

Di sisi lain, beberapa gereja yang dicantumkan dalam video memilih untuk membela diri atau meragukan niat dari eksperimen Monroe:

  1. First Baptist Church of Dallas: Juru bicara gereja ini memberikan pernyataan yang mengklaim bahwa Monroe sebelumnya telah menghubungi gereja dan menutup telepon setelah diberikan informasi mengenai sumber daya yang tersedia. Mereka juga menyatakan bahwa panggilan tersebut dianggap "mencurigakan". Hal ini memicu perdebatan balik di kalangan netizen, yang mempertanyakan mengapa dugaan kecurigaan lebih diutamakan daripada potensi risiko kelaparan bayi.
  2. Lakewood Church (Gereja Joel Osteen): Gereja raksasa di Houston ini menjadi salah satu yang paling dikritik. Dalam rekaman panggilan, staf Lakewood mengarahkan Monroe pada proses aplikasi benevolence ministry yang dapat memakan waktu "beberapa hari atau minggu" jawaban yang dianggap mengejutkan mengingat aset dan kekayaan gereja yang sangat besar. Lakewood Church sendiri dilaporkan tidak memberikan tanggapan langsung mengenai eksperimen Monroe, memilih bungkam di tengah badai kritik.

Reaksi paling ekstrim dan kontroversial datang dari seorang pendeta di Living Faith Christian Church di Baton Rouge, Bishop Raymond Johnson. Dalam khotbahnya, ia menyebut Monroe sebagai "penyihir" dan tindakannya sebagai "perbuatan kotor", menuduhnya mencoba mempermalukan gereja. Tuduhan ini semakin memicu perdebatan online, dengan banyak pihak menilainya sebagai respons yang defensif dan tidak mencerminkan semangat memaafkan.

Baca Juga: Perjalanan Hidup dan Karier Muhammad Gary Iskak Aktor Serba Bisa Penuh Perjuangan

Pembeda Kontras yang Mendalam

Menariknya, eksperimen ini juga mengungkap kontras mencolok. Beberapa institusi lain termasuk gereja-gereja kecil pedesaan, beberapa gereja yang beranggotakan mayoritas kulit hitam, dan pusat-pusat Islam (Mosque) justru dengan cepat dan tanpa ragu menawarkan bantuan langsung. Seorang pria dari sebuah pusat Islam dilaporkan langsung menawarkan untuk pergi membelikan formula tersebut sendiri. Kontras ini telah digunakan oleh kritikus untuk berargumen bahwa empati dan kesediaan untuk membantu sering kali ditemukan di komunitas yang termarjinalisasi atau yang lebih memahami perjuangan ekonomi.

Viralitas eksperimen ini telah berhasil memaksa beberapa megachurches untuk meninjau kembali prioritas dan praktik mereka, menjadikannya kasus langka di mana citizen journalism melalui media sosial berhasil menuntut akuntabilitas institusi besar. Sumber inti berita ini berasal dari video rekaman langsung yang diunggah oleh Nikali Monroe di TikTok, yang menangkap respons mentah staf megachurches saat dihadapkan pada permohonan formula bayi yang mendesak, berfungsi sebagai bukti utama pemicu skandal. Kedua, laporan ini didukung oleh analisis media berita independen (seperti yang diterbitkan oleh The Washington Post atau media lokal di Texas/Louisiana) yang menyediakan konteks verifikasi, mencakup permintaan maaf resmi dari gereja-gereja yang bersangkutan (misalnya Abundant Church), serta tanggapan pembelaan diri yang kritis dari pihak institusi.

Kesuksesan Nikali Monroe dan TikTokers lainnya bukanlah terletak pada seberapa banyak susu formula yang mereka distribusikan, melainkan pada keberanian mereka menekan tombol rekam yang berfungsi sebagai tombol pengubah kebijakan, media sosial kini secara efektif menjadi hakim etika publik, yang membuktikan bahwa transparansi dan desakan netizen jauh lebih cepat dan tegas dalam menuntut empati dan akuntabilitas daripada birokrasi institusional manapun. Pelajaran yang tertanam dari episode ini jauh melampaui isu formula bayi semata; ini adalah pengingat tajam bahwa di era digital, reputasi sebuah organisasi tidak lagi dibangun di atas janji-janji, melainkan pada kecepatan dan kehangatan responsnya terhadap penderitaan yang paling mendasar. Kegagalan untuk menanggapi panggilan darurat yang sederhana ini telah mengajarkan para pemimpin institusi baik agama, sosial, maupun bisnis bahwa di mata publik, birokrasi yang dingin akan selalu kalah melawan kehangatan satu tindakan kemanusiaan yang tulus.

Ke depan, tantangan bagi megachurches dan institusi besar lainnya adalah bagaimana mereka mengintegrasikan pembelajaran dari kritik ini ke dalam praktik sehari-hari, bergerak dari sekadar meninjau ulang protokol menjadi menciptakan budaya organisasi yang secara inheren peka terhadap krisis dan tanggap darurat, tanpa menunggu panggilan telepon TikTok berikutnya. Kisah ini menjadi tolok ukur baru tentang apa artinya menjadi entitas berbasis kemurahan hati di abad ke-21, di mana setiap panggilan adalah ujian, dan setiap penolakan direkam untuk keabadian digital.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini