Fenomena Ledakan Orang Kaya, Tapi Miskin Spiritual, Ini Respons Muhsinin Club

Sukabumiupdate.com
Selasa 24 Feb 2026, 09:34 WIB
Fenomena Ledakan Orang Kaya, Tapi Miskin Spiritual, Ini Respons Muhsinin Club

Dewa Eka Prayoga (pendiri Muhsisin Club) bersama Jamil Azzaini (pendiri Yayasan Kampoong Ecopreneur) menyampaikan materi tentang kepedulian terhadap sesama di acara Muhsinin Club Conference, di Hotel Aston Priority, Jakarta.

SUKABUMIUPDATE.com - Fenomena meningkatnya jumlah orang kaya di tengah masyarakat seringkali diiringi dengan paradoks: kemakmuran materi tidak selalu sejalan dengan kekayaan spiritual. Menyikapi kondisi ini, Muhsinin Club hadir memberikan respons dengan menekankan pentingnya keseimbangan antara keberhasilan duniawi dan keteguhan spiritual.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas IPB, Prof. Irfan Syauqi Beik, menyatakan saat ini ada dua fenomena yang memprihatinkan. “Yang pertama adalah fenomena banyak orang kaya tapi miskin spiritual. Yang kedua adalah sudah miskin materi, miskin pula spiritualnya,” ujar Prof. Irfan di acara Muhsinin Club Conference Club yang dihadiri banyak tokoh Muslim di Hotel Aston Priority Simatupang, Jakarta. “Yang kedua itulah  yang disebut miskin kuadrat,” katanya.

Soal miskin spiritual ini, kata Prof. Irfan, belum banyak menjadi perhatian pemerintah maupun publik. Menurut dia, tingginya kemiskinan spiritual itu bisa menyebabkan hilangnya keharmonisan hidup dan hilangnya keinginan untuk peduli dan berbagi. Dia mencontohkan tingginya kecurigaan antarwarga, bunuh diri anak SD sebagai bukti adanya kemiskinan spiritual.

Baca Juga: Menu MBG Ramadan Berisi Singkong Dikeluhkan Ortu Siswa di Sukabumi: Rasanya Asam dan Licin

Guru besar IPB yang meraih banyak penghargaan itu mengajak masyarakat untuk tidak hanya peduli pada kemiskinan materi saja. Saat ini, menurut pemerintah, orang yang mengalami kemiskinan materi di Indonesia ada 23,85 juta jiwa atau 8,47% dari penduduk Indonesia. “Tapi belum ada catatan berapa jumlah penduduk Indonesia yang miskin spiritual,” katanyanya lagi.

Dewa Eka Prayoga, pendiri Muhsinin Club, menyambut baik pendekatan baru alat ukur kemiskinan yang memasukkan unsur spiritual itu.  Sejak Muhsinin Club pada tahun 2022, Muhsinin Club mengajak orang-orang yang berkelimpahan harta untuk semakin peduli kepada masyarakat. Komunitas ini, kata Dewa, dulu mengajak setiap anggotanya bersedekah minimal Rp 10 juta per bulan atau Rp 120 juta per tahun. Dana itu digunakan untuk memberikan makan bergizi para santri, membangun masjid dan pesantren, membagikan berton-ton daging sapi, membangun hunian di tanah bencana, serta memberangkatkan 158 santri penghafal Qur’an umrah. Total dana yang sudah disalurkan Rp 22 miliar. 

“Kita butuh lebih banyak orang kaya yang peduli pada sesama,” ujar pengusaha usa 34 tahun yang memiliki 48 perusahaan itu. Itulah sebabnya di Ramadan ini komunitas ini menggelar acara Muhsinin Club Conference bekerja sama dengan Yayasan Kampoong Ecopreneur yang berbasis di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Dewa juga bercerita tentang pengalamannya yang koma berhari-hari hampir mati dan itu kemudian melahirkan kesadaran yang dia tularkan: “Perbanyak wakaf sebelum wafat.”

Baca Juga: Viral Pekerja Migran Asal Tegalbuleud Dirawat di Dubai, Diduga Disiksa dan Tak Digaji Majikan

Dalam kesempatan itu, pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, menegaskan bahwa orang-orang baik itu perlu berkolaborasi, karena kejahatan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan. Karena itu, dia mengajak orang-orang yang mampu berkolaborasi dalam kebaikan, salah satunya lewat Muhsinin Club dan Kampoong Ecopreneur.  Salah satu program Kampoong Ecopreneur adalah One Family One Ecopreneur (satu keluarga, satu pebisnis berbasis lingkungan). Lewat program ini, Kampoong Ecopreneur akan mengajak penduduk untuk menanam ubi dan kopi yang bertujuan diekspor ke Malaysia dan Singapura.

 “Tahun ini kami menargetkan program itu sudah berjalan,” kata Jamil, Minggu (22/02/2026) . “Doakan kami agar program ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik secara materi maupun spiritual. Kami ingin melahirkan Nabi-nabi Sulaiman baru versi manusia biasa, yang kaya dan punya pengaruh. ” (*)



Berita Terkait
Berita Terkini