SUKABUMIUPDATE.com – Upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai terus dilakukan melalui inovasi riset. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi kemasan makanan berbasis kertas dengan pelapis dari lemak nabati sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi pangan.
Selama ini, kemasan kertas untuk makanan dan minuman siap saji umumnya dilapisi plastik seperti polyethylene agar tahan terhadap air dan minyak. Namun, lapisan tersebut membuat kemasan sulit didaur ulang dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan akibat migrasi komponen plastik ke dalam makanan atau minuman.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Zatil Afrah Athaillah, mengatakan penggunaan pelapis berbahan plastik menimbulkan persoalan keberlanjutan sekaligus keamanan pangan.
“Lapisan pada kertas kemasan berfungsi mencegah air dan minyak merembes. Tetapi karena masih berbahan plastik, ada persoalan lingkungan dan potensi risiko terhadap keamanan pangan,” ujar Zatil saat diwawancarai Humas BRIN, Senin (19/1/2026).
Baca Juga: Program MBG Diusulkan Libur Selama Ramadan, Negara Bisa Hemat Rp 36 Triliun
Berangkat dari kebutuhan akan kemasan yang praktis, berkelanjutan, dan aman, Zatil mengembangkan metode pelapisan kertas menggunakan bahan lemak nabati. Penelitian tersebut mulai dilakukan sejak awal 2025 dengan menguji sejumlah jenis minyak nabati, di antaranya minyak walnut, kemiri, kedelai, dan linseed. Minyak-minyak ini dinilai mampu membentuk lapisan pelindung yang efektif pada permukaan kertas.
Sementara itu, minyak sawit dan zaitun juga sempat diuji, namun hasilnya belum memenuhi kriteria karena masih tembus terhadap air dan minyak.
Keberhasilan pelapisan diuji melalui berbagai tahapan, mulai dari pengujian sederhana hingga uji laboratorium lanjutan. Pada kertas tanpa pelapis, tetesan air cenderung melebar, sedangkan pada kertas berlapis lemak nabati, tetesan air terlihat lebih membulat. Hasil pengukuran menunjukkan sudut kontak air mendekati 90 derajat, menandakan permukaan kertas bersifat lebih tahan terhadap air.
Selain itu, pengujian juga dilakukan terhadap kekuatan dan kelenturan kertas menggunakan texture analyzer, analisis gugus fungsi dengan Fourier Transform Infrared (FTIR), uji kristalinitas melalui X-Ray Diffraction (XRD), analisis kekentalan minyak dan komposisi asam lemak, serta pengamatan morfologi kertas menggunakan teknik mikroskopi, termasuk Scanning Electron Microscopy (SEM).
Baca Juga: Lagi Hits, Ramai-ramai Cover hingga Aransemen Lagu Ciptaan KDM “Rindu Purnama”
“Dari sisi sifat mekanik, kertas yang dilapisi lemak nabati menunjukkan kekuatan dan kelenturan yang setara, bahkan dalam beberapa kondisi lebih baik dibandingkan kertas tanpa pelapis,” kata Zatil.
Saat ini, hasil riset masih berupa lembaran kertas berlapis dan belum diaplikasikan dalam bentuk produk kemasan seperti gelas atau wadah makanan. Meski demikian, metode pelapisan tersebut telah didaftarkan dan memperoleh paten pada 2025 melalui skema pendanaan Rumah Program Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN.
Ke depan, BRIN berencana melanjutkan penelitian dengan pengujian sensori untuk memastikan lapisan tidak memengaruhi rasa dan aroma makanan atau minuman, seperti kopi dan teh. Selain itu, pengembangan bahan pelapis dari epicuticular lipid yang berasal dari lapisan luar daun atau kulit buah juga tengah dipertimbangkan sebagai inovasi lanjutan berbasis pemanfaatan limbah.
Inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam pengembangan kemasan makanan yang lebih ramah lingkungan, aman, dan berkelanjutan tanpa ketergantungan pada plastik berbasis minyak bumi.
Sumber : brin.go.id





