SUKABUMIUPDATE.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diminta untuk dihentikan sementara selama Ramadan. Permintaan tersebut disampaikan oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI).
Mengutip dari tempo.co, JPPI menghitung program makan bergizi gratis (MBG) selama bulan puasa apabila dihentikan bisa menghemat sedikitnya Rp 36 triliun uang negara.
Koordinator JPPI Ubaid Matraji mengatakan angka itu didapatkan dengan menjumlahkan estimasi biaya MBG setiap harinya yang mencapai Rp 1,2 triliun. “Jika biaya MBG sebesar Rp 1,2 triliun per hari, maka meliburkan program selama 30 hari akan menyelamatkan uang negara sebesar Rp 36 triliun,” kata dia kepada Tempo pada Selasa, 20 Januari 2026.
Menurut JPPI, berkaca pada penyaluran MBG saat Ramadan tahun lalu atau setiap kali musim liburan, kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa dan penerima manaaf jauh dari standar. Seperti makanan kemasan, nasi keras, sayur layu, dan pelbagai makanan tidak layak konsumsi lainnya.
Karena itu, JPPI menilai jeda satu bulan puasa itu lebih baik digunakan pemerintah untuk mengevaluasi mitra-mitra MBG yang selama ini masih bermasalah. “Kita butuh jeda untuk memastikan bahwa setelah lebaran, tidak ada lagi anak yang diberi makanan tak layak bahkan beracun,” ucap dia.
Baca Juga: Lagi Hits, Ramai-ramai Cover hingga Aransemen Lagu Ciptaan KDM “Rindu Purnama”
Ubaid menjelaskan, anggaran Rp 36 triliun yang digunakan untuk membiayai MBG selama satu bulan itu bukan sekadar angka semata. Ia menuturkan uang dengan nominal tersebut bisa mengubah wajah pendidikan nasional jika digunakan dengan benar.
Dengan uang itu, kata Ubaid, negara bisa menyelesaikan masalah anak putus sekolah yang saat ini berjumlah 4 juta orang. Dengan demikian, jika betul dana MBG Rp 36 triliun itu dialihkan, maka setiap anak sekolah di Indonesia bisa mendapatkan Rp 9 juta. “Itu lebih dari cukup untuk membiayai mereka kemabli ke sekolah, membeli seragam, buku, hingga alat penunjang belajar."
Perbandingan lain, Ubaid menghitung dana MBG Rp 36 triliun bisa memperbaiki sedikitnya 36 ribu satuan pendidikan di seluruh pelosok Indonesia, dengan asumsi biaya rehabilitasi Rp 1 miliar per sekolah.
“Daripada uang Rp 36 triliun habis hanya untuk membiayai program yang impelementasinya karut-marut, penuh dugaan korupsi, dan memberikan makanan asal ada, jauh lebih bijak pemerintah mengambil jeda Ramadan untuk refleksi,” tutur dia.
Tanggapan BGN
Masih mengutip tempo.co, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan skema penyaluran menu makan bergizi gratis atau MBG pada bulan suci Ramadhan mendatang akan serupa dengan yang diberlakukan tahun sebelumnya.
Untuk daerah dengan mayoritas penganut agama Islam, menu MBG akan tetal disalurkan pada jam sekolah, namun baru bisa disantap jelang waktu berbuka puasa di rumah. "Skema penyaluran saat Ramadan seperti tahun lalu," kata Dadan di Kompleks DPR, MPR, DPD Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Januari 2026.
Baca Juga: Vinicius Jr Ungkap Masa Depanya di Real Madrid setelah Mengalami Masa Sulit
Dadan menuturkan, karena makanan hanya bisa disantap di rumah pada waktu berbuka puasa, maka menu MBG yang akan disalurkan akan disajikan dengan bahan baku yang lebih tahan lama. "Tahan sampai 12 jam," ujar dia.
Sementara untuk daerah dengan mayoritas penganut agama selain Islam, Dadan mengatakan, skema penyaluran MBG akan tetap dijalankan seperti biasa. "Untuk daerah yang mayoritas tidak puasa, pelayanan normal," ucap Guru besar IPB University itu.





