Gedepangrango dan Odeon: Wisata Sukabumi Menuju Wonderful Indonesia Awards 2026

Sukabumiupdate.com
Rabu 29 Jul 2026, 13:28 WIB
Gedepangrango dan Odeon: Wisata Sukabumi Menuju Wonderful Indonesia Awards 2026

Ilustrasi ai. Wisata Sukabumi, Desa Gedepangrango dan Kampung Naga Odeon masuk 15 besar SWJ 2026 (Sumber: chatgpt)

SUKABUMIUPDATE.com - Dua spot wisata Sukabumi masuk daftar 15 besar Desa/Kampung Wisata Jawa Barat ajang Smiling West Java Integrated Tourism Destination Management Awards (SWJ ITDMA) 2026, kategori Pesona Pasundan. Desa Gedepangrango Kecamatan Kadudampit Kabupaten Sukabumi dan Kampung Naga Odeon Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi bersama belasan daerah lainnya menjadi rujukan wisata Jawa Barat menuju Wonderful Indonesia Awards 2026.

Ajang bergengsi ini diikuti oleh 44 desa/kampung wisata dari seluruh Jawa Barat. Penilaian dilakukan melalui platform Pesona Pasundan yang menitikberatkan pada aspek pengelolaan, inovasi, kolaborasi, serta keberlanjutan desa wisata.

Keberhasilan dua spot wisata di Sukabumi ini jadi bukti komitmen masyarakat dan pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi wisata berbasis alam, budaya, dan ekonomi lokal. Selanjutnya, desa ini akan mengikuti Coaching Clinic dan Pendampingan Intensif menuju Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2026.

Baca Juga: Overload Donasi Pakaian di Posko Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya, Relawan Butuh Tambahan Hanger

Berikut daftar 15 Besar Desa/Kampung Wisata Jawa Barat 2026: Desa Wisata Lebakmuncang Kabupaten Bandung; Desa Wisata Sukamurni Kabupaten Bekasi; Desa Wisata Gunung Malang Kabupaten Bogor; Desa Wisata Tugu Utara Kabupaten Bogor; Desa Wisata Jalatrang Kabupaten Ciamis; Desa Wisata Gunungsari Kabupaten Ciamis; Desa Wisata Selamanik Kabupaten Ciamis; Desa Wisata Karamatwangi (Agrowisata Tepas Papandayan) Kabupaten Garut; Desa Wisata Karangjaya Kabupaten Karawang; Desa Wisata Pajambon Kabupaten Kuningan; Desa Wisata Bantar Agung Kabupaten Majalengka; Desa Wisata Gedepangrango Kabupaten Sukabumi; Desa Wisata Sukawangun Kabupaten Tasikmalaya; Kampung Wisata Saung Eling Kota Bogor; Kampung Naga Odeon Kota Sukabumi

Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi Kabupaten dan Kota Sukabumi Jawa Barat. Dengan semangat inovasi dan kolaborasi,Gedepangrango dan Odeon diharapkan mampu mengharumkan nama daerah di kancah nasional melalui Wonderful Indonesia Awards 2026.

Desa Wisata Gedepangrango

Jadesta Kemenpar atau Jaringan Desa Wisata Kementerian Pariwisata, menuliskan narasi bagus tentang Desa Gedepangrango. Lokasi startegis di bawah kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), Desa Gedepangrango memiliki panorama alam yang asri dengan kearifan budaya lokal .

Baca Juga: A Yamin Dukung Penuh Bantuan Pemprov Jabar untuk Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi

Saat ini Desa Gedepangrango memiliki berbagai macam objek wisata yang bernuansa alam, diantaranya Suspension Bridge (Jembatan Gantung), terpanjang se Asia Tenggara membentang sepanjang 243 meter, dengan lebar 1,8 meter, dan ketinggian 121 meter di atas permukaan tanah. Kemudian terdapat objek wisata Danau Situgunung, Tanakita Camping Ground, Curug Sawer, Curug Kembar, objek wisata Cinumpang, Homestay Kampung Sawo, dan Homestay Pasanggrahan. 

Di dusun Cijagung RW. 009 Desa Gedepangrango terdapat tempat produksi gula are, kemudian di Dusun Cijagung RW. 008 terdapat UMKM yang memproduksi kopi Mekarsari, UMKM Kelompok perempuan Rawan Sosial Ekonomi yaitu Pujasera (Perempuan, Janda Serba Bisa). Disini wisatawan dapat belajar serta menyaksikan secara langsung tahapan pembuatannya. 

Odeon Kampung Naga

Kawasan wisata sejarah dan budaya, Odeon Chinatown Soekaboemi atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kampung Cina Odeon atau Odeon Kampung Naga. Destinasi tersebut berada di tengah Kota Sukabumi, tepatnya Jalan Pajagalan, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong. 

Baca Juga: Skenario Timnas Indonesia Lolos ke Semifinal Piala AFF 2026, Garuda Wajib Jaga Konsistensi

Kawasan ini menjadi wajah baru wisata perkotaan yang menghidupkan kembali jejak panjang komunitas Tionghoa di Sukabumi. Menurut sejarah, masyarakat Tionghoa sudah bermukim di wilayah Sukabumi sejak zaman penjajahan. Mereka awalnya datang melalui Cianjur dan Bogor, kemudian berkembang menjadi komunitas pedagang yang cukup besar.

Seiring berjalannya waktu, jumlah masyarakat Tionghoa di Sukabumi semakin banyak karena terjadi pembukaan jalur kereta api pada 1882. Adanya konektivitas dengan wilayah lain membuat arus perdagangan di Sukabumi meningkat drastis, apalagi kala itu terdapat industri perkebunan teh yang dimiliki dan dikelola oleh orang-orang keturunan Negeri Tirai Bambu.

Kini jejak-jejak keberadaan masyarakat Tionghoa tempo dulu masih bisa dilihat dengan jelas di Odeon Kampung Naga. Salah satu bangunan paling ikonik adalah Vihara Widhi Sakti, tempat ibadah tertua yang masih berfungsi sampai saat ini. Vihara Widhi Sakti didirikan pada 1908 silam. Meski sudah melewati beberapa kali renovasi, bangunan vihara ini tetap mempertahankan identitas aslinya sehingga suasana berbeda akan terasa begitu masuk ke dalamnya.

Baca Juga: Lagi Kepala Daerah Kena OTT KPK, Anom Widiyantoro Bupati Pemalang

Di luar vihara, pengunjung masih bisa melihat sentuhan harmonisasi adat Pasundan dan Tionghoa. Namun ketika masuk, pengunjung bakal dibuat takjub dengan seluruh detail yang ada, mulai dari tempat sembahyang, atap melengkung dengan ornamen naga, lampion merah sebagai simbol harapan, serta beberapa patung dewa-dewi. Seolah-olah pengunjung dibawa langsung menyusuri peradaban di Negeri Tiongkok.

Selain vihara, terdapat Museum Tionghoa yang juga wajib dikunjungi. Di dalamnya berisi banyak koleksi mulai dari perabot rumah tangga kuno, radio, gramofon, alat komunikasi klasik, pakaian tradisional Tionghoa, perlengkapan upacara adat dan keagamaan, mata uang tempo dulu, serta foto-foto Kota Sukabumi pada masa kolonial.

Museum ini diprakarsai oleh lima pemerhati sejarah dan budaya, yakni Satrio HP, Budiyanto HP (Budi Chung), Irman Firmansyah, Yudi Julianto, dan Vidi Jensen. Tujuannya sebagai bentuk kepedulian untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap sejarah leluhur, khususnya masyarakat Tionghoa di Kota Sukabumi.

Baca Juga: Menatap Langit Malam Ini: Bulan Purnama Dihiasi Hujan Meteor

Museum terdiri dari empat lantai yang menyajikan tema berbeda. Pengunjung bakal mengikuti perjalanan sejarah secara kronologis, mulai dari kedatangan etnis Tionghoa di Sukabumi, perkembangan kawasan Pecinan, kehidupan sosial masyarakat, hingga kontribusinya terhadap pembangunan kota.

Setiap perayaan Imlek dan Cap Go Meh, kawasan ini menjadi pusat berbagai kegiatan budaya seperti pertunjukan barongsai, liong, bazar UMKM, hingga pertunjukan seni yang mampu menarik ribuan pengunjung. Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa keragaman budaya dapat menjadi kekuatan dalam mengembangkan sektor pariwisata.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini