Profil Profesor Dokter Sulianti Saroso, Sosok "Julie" yang Jadi Google Doodle

Rabu 10 Mei 2023, 10:30 WIB
Profil Profesor Dokter Sulianti Saroso, Sosok "Julie" yang Jadi Google Doodle (Sumber : Istimewa)

Profil Profesor Dokter Sulianti Saroso, Sosok "Julie" yang Jadi Google Doodle (Sumber : Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com - Profesor Dokter Sulianti Saroso menjadi Google Doodle pada hari ini, Rabu (10/5/2023). Hal itu merupakan salah satu bentuk upaya untuk mengingat sosok dokter mulia yang lahir pada hari ini 106 tahun yang lalu, tepatnya 10 Mei 1917.

Lantas siapa sosok Profesor Dokter Sulianti Saroso? Simak Profilnya berikut ini!

Profil berikut dikutip dari laman resmi Indonesia.go.id, bertajuk "Sulianti Saroso, Dokter yang tak Pernah Menyuntik Orang". Tulisan dimuat dua tahun lalu, pada hari Kamis, 12 Maret 2020.

Profil Profesor Dokter Sulianti Saroso

Profil Profesor Dokter Sulianti Saroso Jadi Google Doodle Hari IniProfil Profesor Dokter Sulianti Saroso Jadi Google Doodle Hari Ini

Sulianti Saroso lahir hari ini 106 tahun yang lalu, tepatnya 10 Mei 1917 di Karangasem, Bali. Ia adalah anak kedua dari keluarga Dokter M Sulaiman.

Sebagai dokter, tempat tugas sang ayah, Sulaiman selalu berpindah-pindah. Meski begitu, Sulianti Saroso juga menempuh pendidikan dasar berbahasa Belanda ELS (Europeesche Lagere School), lalu pendidikan menengah elite di Gymnasium Bandung, yang sebagian besar siswanya kulit putih. Mendiang Sulianti Saroso juga melanjutkan pendidikan tinggi di Geneeskundige Hoge School (GHS), sebutan baru bagi Sekolah Kedokteran STOVIA di Batavia dan lulus sebagai dokter 1942.

Pada masa pendudukan Jepang, Sulianti Saroso bekerja sebagai dokter di RS Umum Pusat di Jakarta, yang kini dikenal sebagai RS Cipto Mangunkusumo. Pada awal kemerdekaan, ia ikut bertahan di rumah sakit besar itu. Namun, ketika ibu kota negara pindah ke Yogyakarta, Sulianti turut hijrah menjadi dokter republiken dan bekerja di RS Bethesda Yogyakarta.

Besar di keluarga Dokter, Sulianti pun mengikuti garis politik keluarganya. Ayahnya, dokter Muhammad Sulaiman, yang berasal dari kalangan keluarga priyayi tinggi di Bagelen-Banyumas dan serumpun dengan Keluarga Soemitro Djojohadikusumo, adalah pengurus dan pendiri Boedi Oetomo, dengan pandangan politik yang pro Indonesia Merdeka.

Maka saat Sulianti Saroso di Yogya, ia kerap kali dipanggil "Julie" oleh teman-temannya, karena ia benar-benar terjun sebagai dokter perjuangan. Sulianti mengirim obat-obatan ke kantung-kantung gerilyawan republik dan terlibat dalam organisasi taktis seperti Wanita Pembantu Perjuangan, Organisasi Putera Puteri Indonesia dan organisasi resmi KOWANI.

Dua tahun setelah Indonesia Merdeka, pada tahun 1947, Sulianti ikut delegasi KOWANI ke New Delhi, menghadiri Konferensi Perempuan se-Asia. Disitu, Sulianti dan teman-teman menggalang pengakuan resmi bagi kemerdekaan Indonesia.

Saat pasukan Pemerintahan Sipil Hindia Belanda/NICA menyerbu dan menduduki Yogyakarta, pada Desember 1948, Sulianti termasuk ke dalam daftar panjang para pejuang kemerdekaan yang ditahan. Sedihnya, ia ikut meringkuk di penjara selama dua bulan.

Pascarevolusi kemerdekaan, Dokter Sulianti kembali bekerja di Kementerian Kesehatan. Ia meraih beasiswa dari WHO untuk belajar tentang tata kelola kesehatan ibu dan anak di beberapa negara Eropa, terutama Inggris.

Ia kemudian pulang ke tanah air pada 1952 dan telah mengantungi Certificate of Public Health Administrasion dari Universitas London. Ia pun ditempatkan di Yogya sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI.

Tanpa harus menunggu restu kanan-kiri, Sulianti segera melakukan penggalangan dukungan publik untuk program kesehatan ibu dan anak, khususnya pengendalian angka kelahiran lewat pendidikan seks dan gerakan keluarga berencana (KB).

“Dengan penuh semangat dia meminta pemerintah agar membuat kebijakan mendukung penggunaan kontrasepsi melalui sistem kesehatan masyarakat" tulis Terence H Hull, pengamat kebijakan kesehatan dari Australia National University (ANU), dalam People, Population, and Policy in Indonesia, 2005.

Dokter Sulianti bergerak cepat dan lincah, lebih mirip aktivis ketimbang birokrat. Melalui RRI Yogyakarta dan harian Kedaulatan Rakjat, ia menyampaikan gagasan tentang pendidikan seks, alat kontrasepsi, dan pengendalian kehamilan dan kelahiran.

Bagi Sulianti, korelasi kemiskinan, malnutrisi, buruknya kesehatan ibu dan anak, dengan kelahiran yang tak terkontrol, adalah fakta terbuka yang tak perlu didiskusikan. Sementara sesuatu yang dianggap lebih mendesak olehnya ialah aksi untuk memperbaiki itu.

Kampanye Dokter Sulianti itu membuat geger hingga akhirnya Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Yogyakarta menggelar seminar dengan melibatkan para dokter serta pimpinan organisasi keagamaan. Hasilnya, gagasan Julie Sulianti ditolak mentah-mentah.

Ya, Dokter Sulianti kala itu mendapat teguran dari Kementerian Kesehatan. Tak lama kemudian ia dipindah ke Jakarta, promosi menjadi Direktur Kesehatan Ibu dan Anak di kantor Kementerian Kesehatan.

Tak pantang menyerah, Dokter Sulianti masih terus memperjuangkan ide program KB dengan menempuh jalur swasta. Bersama sejumlah aktivis perempuan, ia mendirikan Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK) yang menginisiasi klinik-klinik swasta yang melayani KB di berbagai kota.

Meski para pejabat kementerian tutup mata, namun untuk membangun model sistem pelayanan ibu dan anak, ia turut mendirikan pos layanan di Lemah Abang, Bekasi. Tujuannya bukan hanya pelayanan medis bagi ibu dan anak saja melainkan agar dapat mencapai kehidupan ibu dan anak yang sehat dan bahagia.

Singkat cerita, di tahun 1960-an, Sulianti dihadapkan pada suatu masalah. Suaminya, Saroso, yang sebelumnya pejabat tinggi di Kementerian Perekonomian tersisih secara politik.

Sebagai tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia), Saroso terciprat awan panas peristiwa PRRI. Tak mau lama terpuruk dalam situasi rumit, Sulianti mengambil beasiswa di Tulane Medical School, New Orleans, Louisiana.

Sungguh menakjubkan, dalam lima tahun, ia meraih gelar MPH dan PhD sekaligus dengan membawa desertasinya tentang epidemiologi bakteri E Coli.

Selesai dengan PhD-nya, Sulianti sempat setahun menjadi asisten profesor di Tulane, dan punya opsi memperpanjangnya. Lamarannya untuk menjadi profesional di Kantor Pusat WHO di Genewa, Swiss, diterima.

Namun demikian, saat ia berada di Jakarta mempersiapkan kepindahannya, Menteri Kesehatan Profesor GA Siwabessy menahannya.

Tak lama kemudian, dokter Sulianti diangkat menjadi Dirjen P4M dan Direktur LRKN-- kini menjadi Balitbang Kementerian Kesehatan. Ia pun diizinkan aktif di WHO. Sewaktu menjabat Dirjen P4M, Profesor Sulianti mendeklarasikan Indonesia bebas cacar.

Posisi Dirjen P4M dijalaninya sampai 1975, saat ia mundur dan memilih fokus di Balitbang Kesehatan hingga pensiun 1978. WHO masih memanfaatkan kepakarannya dan menjadikannya pengawas pada Pusat Penelitian Diare di Dakka, Bangladesh 1979. Di dalam negeri, Ia juga masih diperlukan sebagai staf ahli menteri.

Baca Juga: Kenali 8 Bahasa Tubuh Pria Cuek, Tanda-tanda Dia Jatuh Cinta Padamu

Pada era 1970 hingga 1980-an, gagasan-gagasannya tentang pengendalian penyakit menular, KB, dan kesehatan ibu serta anak secara bertahap diadopsi menjadi kebijakan pemerintah.

Meski memiliki kepedulian besar tentang KB, menurut Dita Saroso, ibunya tak sempat turut terlibat dalam eksekusinya. Di penghujung karirnya, Profesor Sulianti lebih banyak menekuni bidang yang sesuai dengan kompetensi akademiknya, yakni penyakit menular. Karena dirinya tak tertarik menangani pasien orang per orang, semasa hidupnya ia tidak membuka praktek pribadi.

"Ibu itu lebih sebagai dokternya masyarakat" Dita Saroso menambahkan.

Filosofinya sebagai dokter bukan sebatas mengobati pasien, melainkan membuat masyarakat (terutama kalangan menengah ke bawah) hidup sehat, sejahtera, dan bahagia.

Sumber: Indonesia.go.id

AYO! main games di Sukabumi Update Games
Follow Berita Sukabumi Update di Google News
Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini
Sukabumi16 Juni 2024, 10:04 WIB

Terima Basarnas, Bupati Sukabumi Minta Bantuan Pelatihan SAR di Tempat Wisata

Bupati Sukabumi Marwan Hamami menerima audiensi dari Basarnas Jakarta. Bahas pelatihan SAR di tempat wisata.
Bupati Sukabumi Marwan Hamami dan Kepala Kantor SAR Jakarta Desiana Kartika Bahari  saat bertukar cinderamata. (Sumber : Diskominfosan Kab. Sukabumi)
Life16 Juni 2024, 10:00 WIB

Temukan Cinta Sejatimu, 11 Ciri Dia adalah Jodohmu yang Kamu Cari-cari Selama Ini

Menemukan cinta sejati memang bukan hal yang mudah, tetapi dengan menjaga kriteria-kriteria ini, Anda bisa mendekati ke arah yang tepat.
Ilustrasi - Menemukan cinta sejati memang bukan hal yang mudah, tetapi dengan menjaga kriteria-kriteria ini, Anda bisa mendekati ke arah yang tepat. | (Sumber : Freepik.com)
Inspirasi16 Juni 2024, 09:00 WIB

Lowongan Kerja Staff IT Service Support di KAI Services, Minimal Lulusan SMA/SMK

Apabila kamu tertarik dengan lowongan kerja ini, segera daftarkan diri sekarang juga!
Ilustrasi. Lowongan Kerja Staff IT Service Support di KAI Services, Minimal Lulusan SMA/SMK. (Sumber : Freepik)
Aplikasi16 Juni 2024, 08:00 WIB

30 Link Twibbon Idul Adha 2024, Cocok Untuk Dibagikan di Sosial Media

Twibbon Idul Adha 2024 ini bisa kamu bagikan di media sosial untuk merayakan Hari Raya Umat Muslim.
Ilustrasi - Twibbon Idul Adha 2024 ini bisa kamu bagikan di media sosial untuk merayakan Hari Raya Umat Muslim. (Sumber : twibbonize.com).
Musik16 Juni 2024, 07:57 WIB

Kepala Tanpa Otak, Dari Sukabumi AX6 Gebrak Dunia Metal Industrial Core

Kepala Tanpa Otak menjadi judul album sekaligus judul lagu pamungkas dari kelahiran kembali AX6.
AX6, Ali topen (vokalis) bersama Raka, Iskandar dan Heri. (Sumber : Istimewa)
Life16 Juni 2024, 07:00 WIB

50 Ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha 1445 H, Tebarkan Semangat Kebersamaan

Ucapan Idul Adha dapat membantu kita berbagi kebahagiaan dengan orang lain dan menciptakan suasana yang meriah dan penuh sukacita.
Ilustrasi - Ucapan Idul Adha dapat membantu kita berbagi kebahagiaan dengan orang lain dan menciptakan suasana yang meriah dan penuh sukacita.(Sumber : Freepik)
Food & Travel16 Juni 2024, 06:30 WIB

4 Resep Makanan Lebaran yang Ramah Asam Urat: Opor, Sate hingga Kue Kering

Resep Makanan Lebaran yang Ramah Asam Urat ini menggunakan bahan-bahan yang rendah purin dan kaya nutrisi untuk membantu mengelola kadar asam urat dalam tubuh.
Ilustrasi. Ilustrasi. Sate. Resep Makanan Lebaran yang Ramah Asam Urat: Opor hingga Kue Kering (Sumber : Freepik/@jcomp)
Science16 Juni 2024, 06:00 WIB

Prakiraan Cuaca Jawa Barat 16 Juni 2024, Pagi Hari Langit Cerah di Semua Wilayah

Sebagian besar wilayah Jawa Barat termasuk Sukabumi dan sekitarnya diperkirakan mengalami cuaca cerah pada Minggu 16 Juni 2024.
Ilustrasi - Sebagian besar wilayah Jawa Barat termasuk Sukabumi dan sekitarnya diperkirakan mengalami cuaca cerah pada Minggu 16 Juni 2024. (Sumber : Pixabay.com)
Nasional15 Juni 2024, 23:22 WIB

Harun Masiku Menyamar Jadi Guru dan Marbut Masjid di Luar Negeri

Berdasarkan informasi terbaru, Harun Masiku, buron kasus korupsi suap PAW Caleg DPR RI, diketahui menggunakan berbagai penyamaran untuk menghindari pengejaran hukum.
Harun Masiku, Buronan KPK | Foto : Ist
Sukabumi15 Juni 2024, 22:53 WIB

9 WNA China Terombang-ambing di Laut Sukabumi dan Sempat Ditangkap Tentara Australia

Sebanyak sembilan warga negara asing (WNA) asal China dan tiga WNI asal NTT berhasil diamankan di Polres Sukabumi. Setelah di tolong oleh nelayan Sukabumi karena kapal yang mereka tumpangi bermasalah
WNA asal China saat diperiksa di Satreskrim Polres Sukabumi | Foto : Ilyas Supendi