Soroti Keluhan Pelayanan IGD, Komisi IV DPRD Sukabumi Sidak Rumah Sakit Swasta di Cicurug

Sukabumiupdate.com
Kamis 08 Jan 2026, 21:26 WIB
Soroti Keluhan Pelayanan IGD, Komisi IV DPRD Sukabumi Sidak Rumah Sakit Swasta di Cicurug

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi, Ferry Supriyadi | Foto : Ibnu Sanubari

SUKABUMIUPDATE.com - Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi melakukan kunjungan pengawasan ke salah satu rumah sakit swasta di Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Kamis (8/1/2026). Kunjungan tersebut dilakukan menyusul adanya isu yang beredar di media sosial serta laporan masyarakat terkait dugaan perilaku tidak pantas tenaga kesehatan saat menangani pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi, Ferry Supriyadi, mengatakan pengawasan terhadap rumah sakit merupakan agenda rutin Komisi IV. Namun, kunjungan kali ini difokuskan pada klarifikasi atas kejadian yang menjadi perhatian publik.

“Pengawasan terhadap rumah sakit ini rutin biasa kami lakukan. Tapi hari ini ada beberapa poin yang kami dalami karena adanya isu yang beredar di media sosial dan laporan yang masuk ke Komisi IV,” kata Ferry kepada media.

Baca Juga: Buntut Tewasnya WNA Arab Saudi, DPRD Sukabumi: Wahana Jetski Ilegal Harus Ditutup

Berdasarkan hasil penelusuran dan penjelasan dari manajemen rumah sakit serta tenaga kesehatan, Ferry menyebutkan bahwa kejadian tersebut memang terjadi dan tidak dibantah oleh pihak rumah sakit. Insiden itu berlangsung pada dini hari saat pasien datang ke IGD Sabtu, 3 Januari 2026 sekitar pukul 00.30 hingga 01.00 WIB.

“Dalam rentang waktu sekitar jam satu sampai jam enam pagi, memang terlihat oknum tenaga kesehatan tersebut memegang handphone. Pihak rumah sakit tidak mengelak dan mengakui kejadian itu memang ada,” ujarnya.

Ferry menjelaskan bahwa manajemen rumah sakit langsung mengambil langkah setelah kejadian tersebut. "Sekitar pukul 07.00 WIB, manajemen bersama tenaga kesehatan yang bersangkutan mendatangi keluarga pasien untuk menyampaikan permintaan maaf secara pribadi," kata Ferry menceritakan

“Tenaga kesehatan yang bersangkutan dan pihak manajemen datang langsung meminta maaf kepada keluarga pasien. Pihak keluarga sudah memaafkan dan terjadi islah,” jelasnya.

Sebagai bentuk komitmen menjaga kualitas pelayanan, manajemen rumah sakit juga telah memberikan sanksi kepada tenaga kesehatan yang bersangkutan. “Langkah yang diambil berupa konseling dan sanksi skorsing selama satu bulan. Artinya, yang bersangkutan tidak diperbolehkan bertugas selama satu bulan,” kata Ferry.

Baca Juga: Sendirian di Depan Agen Travel, Gadis Bojonggenteng yang Hilang Ditemukan Selamat

Ferry menegaskan, dari hasil penelusuran Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi, tidak ditemukan pelanggaran dari sisi tindakan medis. Namun, kejadian tersebut dinilai melanggar etika pelayanan, terutama karena terjadi di ruang IGD yang memiliki kondisi psikologis sensitif.

“Kalau dari segi praktik kedokteran tidak ada yang dilanggar. Tapi secara etik, di ruang IGD itu situasinya sangat sensitif. Pasien dan keluarga berada dalam kondisi tegang dan berduka, sehingga perilaku tersebut dinilai kurang pantas,” ungkapnya.

Selain membahas kejadian tersebut, Komisi IV juga melakukan pengawasan terhadap aspek lain, seperti ketenagakerjaan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta sistem pendukung layanan lainnya. “Alhamdulillah, dari hasil pengawasan kami, aspek ketenagakerjaan, K3, dan lainnya berjalan dengan baik,” tutur Ferry.

Ke depan, Komisi IV mendorong manajemen rumah sakit untuk memperkuat pengawasan internal dan meningkatkan kualitas pelayanan. Evaluasi serta pendidikan dan pelatihan tambahan juga direncanakan untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Baca Juga: Jalan Rusak Kerap Makan Korban, Warga Sukabumi Datangi Posko Pengaduan di Palabuhanratu

Ferry menilai respons manajemen rumah sakit tergolong cepat meski kejadian berlangsung pada dini hari. “Terjadinya dini hari, tapi pagi harinya manajemen sudah hadir dan langsung mengambil langkah. Mereka mengakui kejadian dan meminta maaf,” ujarnya.

Meski telah diselesaikan secara kekeluargaan, Ferry mengingatkan bahwa kejadian tersebut berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.

“Kami datang untuk memastikan kejadian seperti ini tidak terulang. Dampaknya bukan hanya ke masyarakat, tapi juga ke rumah sakit itu sendiri, karena kepercayaan publik sangat penting,” pungkasnya.

Berita Terkait
Berita Terkini