SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah unggahan di Facebook dengan narasi bahwa vaksin campak Rubella bisa menyebabkan anak menjadi autis. Autis (atau autisme) sendiri adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan berperilaku, kondisi tersebut dikenal sebagai Autism Spectrum Disorder (ASD).
Dibagikan oleh akun Facebook dengan username Senja Kelana, berikut isi captionnya:
“VAKSIN CAMPAK BERAKIBAT AUTIS..! JANGAN SALAHKAN ALLOH SWT DENGAN MENGATAKAN.. "SUDAH TAKDIR..!", SEBAB KALIAN DIBERI OTAK/ AKAL OLEH ALLOH TA'ALA UNTUK BERTANYA, "APA SAJA JEROAN VAKSIN YG AKAN DISUNTIKKAN KE DALAM ANAKKU..??!!" Terlanjur divaksin? TAUBATLAH..!!!! CEPAT Keluarkan Zat-zat Laknat Vaksin / imunisasinya dengan cara 3in1 Langsung Bersamaan Dengan izin Alloh SWT. SEBELUM TERLAMBAT..!,” tulis dalam keterangannya.
Baca Juga: Mahkota Binokasih Kembali ke Museum Prabu Gesan Ulun, KDM: Kirab Budaya Dongkrak Ekonomi
Postingan tersebut membagikan sebuah video dengan judul MMR “Safe & Effective” yang didalamnya tertera sebuah jurnal penelitian.
Lalu apakah benar hal tersebut bahwa vaksin campak rubella bisa bikin anak jadi autis?
CEK FAKTA
Berdasarkan penelusuran tim Sukabumiupdate.com, melalui mesin pencari Google dengan memasukan kata “vaksin campak rubella bikin autis”, tidak ada sumber kredibel yang mendukung pernyataan tersebut.
Dikutip dari laman Fakultas Kedokteran Unair, ternyata kabar tersebut adalah hoax dan tudingan bahwa vaksin campak dapat menyebabkan autisme tidak benar. Hal itu dibantah langsung oleh oleh Dr. Dominicus Husada. dr., DTM&H, MSTM(TP),.SpA (K), Kepala Divisi Penyakit Infeksi dan Tropis Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR).
“Hoax ini sudah terbantahkan secara ilmiah, orang tua seharusnya tidak perlu ragu anaknya divaksin!” dikutip dalam keterangan.
Baca Juga: Leuwi Kopo: Sejarah dari Pohon Jambu, Tempat Mandi Warga hingga Tragedi Balita Tenggelam
Mengutip dari berbagai sumber, awal munculnya klaim ini ditenggarai jurnal medis The Lancet, dipimpin oleh Andrew Wakefield, yang dipublikasi pada tahun 1998. Studi tersebut mengklaim hubungan vaksin MMR dengan autisme.
Namun pada akhirnya studi tersebut terbantahkan hingga berujung dicabutnya ijazah dan izin praktek dengan pada akhirnya dokter tersebut di tahan selama 9 bulan atas klaimnya tersebut.
Akan tetapi meskipun tulisannya sudah tidak ada dan ada studi tandingan yang kredibel dan menyatakan itu tidak benar, efeknya masih ada bahkan masih di up oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Kesimpulan: Klaim tentang vaksin campak rubella dapat menyebabkan anak menjadi autisme adalah tidak benar dan itu merupakan konten menyesatkan atau misleading content.
Sumber: Turnbackhoax




