SUKABUMIUPDATE.com – Saluran Irigasi Cibalung yang melintasi Kecamatan Cisaat, Caringin, dan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengalami kerusakan, mulai dari longsor, kebocoran, pendangkalan hingga penumpukan sampah yang menghambat aliran air.
Dampak kerusakan tersebut dirasakan langsung oleh para petani. Sekitar 40 hektare sawah di wilayah Cibalung, Desa Talaga, Kecamatan Caringin, dilaporkan mengalami kekeringan dan terancam gagal panen akibat tidak mendapatkan pasokan air secara optimal.
Padahal, sumber air yang berasal dari Sungai Kutasirna disebut masih memiliki debit cukup besar. Secara keseluruhan, saluran Irigasi Cibalung yang memiliki panjang sekitar 5,5 kilometer tersebut diharapkan mampu mengairi lahan persawahan seluas kurang lebih 260 hektare di tiga kecamatan.
Menyikapi persoalan tersebut, sejumlah unsur masyarakat menggelar Musyawarah bersama para penggarap sawah atau petani dan unsur pemerintah dengan tema “Temu Wicara dengan Mitra Cai Cibalung, Mencari Solusi untuk Air Mengalir”.
Baca Juga: Selamat Datang November! Ini Kumpulan Kata-Kata Inspiratif dan Penuh Doa
Musyawarah tersebut berlangsung di RPG (Rumah Perubahan Garda) GUA, Kampung Cibalung, RT 03/RW 04, Desa Talaga, Kecamatan Caringin, pada Sabtu (31/10/2026), siang.
Kegiatan yang difasilitasi tokoh masyarakat Agus Dermawan (67), itu dihadiri sekitar 20 undangan, terdiri dari perwakilan pemerintah desa, UPTD Cibadak, Mitra Cai Irigasi Cibalung, kelompok tani, serta para penggarap sawah dan kebun.
Ketua Mitra Cai Cibalung, Abdul (54), mengatakan pengelolaan saluran irigasi sepanjang 5,5 kilometer tidak bisa hanya mengandalkan pengurus Mitra Cai. Diperlukan keterlibatan seluruh masyarakat yang memanfaatkan aliran air tersebut.
Menurutnya, tanpa dukungan para pengguna air, upaya pemeliharaan irigasi akan sulit dilakukan secara maksimal.
"Tujuan kita berkumpul di sini adalah mencari jalan keluar bersama agar air dari hulu betul-betul bisa sampai ke hilir. Dulu air bisa sampai ke wilayah Cisande, sekarang di Cibalung saja sudah kering. Bahkan ada petani yang biasanya panen satu ton, sekarang hanya dapat 10 kilo. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan," ujar Abdul.
Baca Juga: Viral Video Elang Brontok Dicabuti Bulunya di Sukabumi, Pelaku Ditegur dan Senapan Disita
Hal senada disampaikan perwakilan Pemerintah Desa Cisande. Ia menilai persoalan irigasi bukan hanya menjadi tanggung jawab para petani atau pengurus Mitra Cai, melainkan seluruh masyarakat yang tinggal di sekitar saluran.
Pasalnya, kondisi saluran saat ini semakin terbebani oleh sampah, tanah longsoran, serta limbah rumah tangga yang masuk ke aliran irigasi.
"Kesadaran perlu dibangun bukan hanya pada para pengguna air, tetapi juga semua pihak yang berpotensi memengaruhi kondisi saluran. Jangan sampai kita hanya berkumpul membahas masalah ketika kerusakan sudah terjadi," tuturnya.
UPTD PU dan Desa Dorong Sinergi serta Kerja Bakti Rutin
Dari pihak teknis, UPTD PU Cibadak mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghidupkan kembali tradisi kerja bakti pembersihan saluran irigasi secara berkala, minimal satu hingga dua kali dalam sebulan.
"Ketika ada survei dari Dinas PU, terkadang titik kerusakan tidak terlihat jelas karena tertutup rumput liar yang lebat. Jika warga kompak membersihkan rumput dan sedimentasi, kondisi fisik saluran bisa terpantau akurat dan penanganan teknis bisa lebih cepat," terang perwakilan UPTD Cibadak.
Baca Juga: 10 Golongan Manusia yang Tidak Akan Masuk Surga, Pengadu Domba Hingga Penjilat Penguasa
Sementara itu, Ketua RW 04 Kampung Cibalung menegaskan komitmen perangkat lingkungan dari tingkat RT hingga RW untuk mendorong partisipasi warga. Menurutnya, pemeliharaan lingkungan tidak memerlukan biaya besar, melainkan konsistensi dan dorongan bersama.
"Kebutuhan air ini vital bagi semua orang, bukan hanya pemilik sawah tapi juga pemilik kebun dan kolam. Kami siap menggerakkan warga untuk kerja bakti gotong royong. Menjaga kebersihan irigasi adalah tanggung jawab bersama," tegasnya.
Usulan Adanya Distribusi Air Secara Merata
Di sisi lain, perwakilan dari petani mengingatkan pentingnya pengaturan distribusi air secara adil, terutama ketika debit air mulai berkurang.
Menurutnya, pengguna air di bagian hulu harus tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat di wilayah tengah hingga hilir. Jangan sampai ada pihak yang mengambil air secara berlebihan atau menutup aliran tanpa mempertimbangkan pengguna lainnya.
Ia berharap pengaturan distribusi air dilakukan secara bergiliran sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
"Kalau satu wilayah atau satu kolam sudah penuh, berikan kesempatan kepada wilayah atau pengguna lain. Harus ada kesadaran untuk saling berbagi," katanya.
Baca Juga: 8 Film Horor Indonesia 2026 yang Tayang di Netflix, Cocok Ditonton saat Halloween
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Cibalung, Abdul Saleh, mengatakan kepengurusan kelompok tani yang dipimpinnya masih tergolong baru. Meski demikian, berbagai aspirasi yang disampaikan dalam musyawarah akan menjadi bahan perhatian untuk ditindaklanjuti.
Ia juga menyampaikan bahwa kelompok tani di wilayahnya direncanakan mendapatkan bantuan pembangunan penembokan atau perbaikan saluran irigasi tersier.
Pekerjaan tersebut rencananya dimulai sekitar dua hingga tiga minggu mendatang, dengan lokasi pengerjaan di wilayah Cibalung, mulai dari sekitar area makam hingga bagian saluran lainnya.
"Mudah-mudahan bantuan tersebut bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan pengairan yang selama ini dihadapi para petani," ujarnya.
Bangun Sinergi Petani dan Pemerintah
Tokoh masyarakat yang memfasilitasi kegiatan, Agus Dermawan (67), mengatakan musyawarah tersebut merupakan langkah awal untuk menyatukan persepsi seluruh pihak yang berkepentingan terhadap keberlangsungan Irigasi Cibalung.
Menurutnya, selama ini masing-masing wilayah, baik hulu, tengah maupun hilir, memiliki persoalan dan pandangan berbeda terkait pengelolaan air.
Karena itu, diperlukan sinergi antara kelompok tani (Poktan), Mitra Cai, pemerintah desa, serta UPTD yang membidangi pengairan.
"Pertemuan pertama ini tujuannya untuk menyatukan persepsi terlebih dahulu. Kita harus membangun sinergi, terutama antara kelompok tani yang mewakili para penggarap dengan Mitra Cai sebagai pengelola sistem pengairan," jelas Agus.
Ia menambahkan, persoalan irigasi tidak cukup diselesaikan melalui perbaikan fisik saluran. Perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menggunakan air juga menjadi bagian penting.
Agus bahkan mendorong keterlibatan para ulama untuk mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan sumber air melalui kegiatan dakwah di masjid.
Menurutnya, upaya menjaga irigasi merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat.
"Jangan saling menyalahkan. Kita minta dukungan para ulama, kita minta dukungan pemerintah. Yang paling penting, masyarakat harus diakui keberadaannya, didengarkan suaranya, dan dilibatkan dalam setiap upaya pembangunan," pungkasnya.













