Pelanggaran Berat! BGN Suspend SPPG Cikujang 1, Dugaan Keracunan MBG di Gunungguruh Sukabumi

Sukabumiupdate.com
Jumat 09 Okt 2026, 10:34 WIB
Pelanggaran Berat! BGN Suspend SPPG Cikujang 1, Dugaan Keracunan MBG di Gunungguruh Sukabumi

SPPG Cikujang 1 disuspend setelah dugaan kasus keracunan ratusan pelajar SMKN 1 Gunungguruh Sukabumi (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Buntut dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi terhadap 151 siswa dan guru di SMKN 1 Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan sanksi penghentian sementara operasional atau suspend terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cikujang 1.

Hal itu diungkapkan oleh Koordinator Wilayah (Korwil) BGN Kabupaten Sukabumi, Firman Julyansah, mengatakan surat suspend terhadap SPPG tersebut telah terbit pada Kamis (8/10/2026). Penghentian operasional diberlakukan selama 30 hari dengan kategori sanksi berat.

Firman menjelaskan, dirinya baru menerima informasi mengenai dugaan kejadian tersebut pada Rabu (7/10/2026) siang, setelah adanya laporan ke puskesmas dan Dinas Kesehatan (Dinkes). "Begitu saya tahu informasi itu pada Rabu siang, sore saya perintahkan SPPG untuk berhenti operasional. Kamis siang, surat suspend-nya sudah keluar untuk SPPG Cikujang 1 dengan kategori sanksi berat," ujar Firman kepada sukabumiupdate.com pada Jumat (9/10/2026). 

Baca Juga: Klasemen Grup B ASEAN Club Championship 2026/27, Persib Bandung Tempel Ketat JDT

Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, keluhan kesehatan diduga telah muncul sejak Jumat (2/10/2026), bahkan terdapat laporan kejadian pada Kamis (1/10/2026). Namun, pihak sekolah disebut baru menyampaikan laporan kepada SPPG pada Senin (5/10/2026) sore.

Keterlambatan pelaporan tersebut dinilai menyulitkan proses penelusuran penyebab kejadian. Terlebih, sampel makanan dari menu yang disajikan pada hari kejadian, baik di sekolah maupun di SPPG, sudah tidak tersedia.

Menurut Firman, sampel makanan dimusnahkan setelah melewati batas penyimpanan selama 2 x 24 jam sesuai prosedur yang diterapkan. "Karena jeda waktunya cukup lama, kami kesulitan menyimpulkan apakah kejadian itu disebabkan menu MBG atau bukan. Karena itu, kami menunggu hasil observasi dari Dinkes atau puskesmas untuk memberikan kesimpulan atau pernyataan," jelasnya.

Baca Juga: Tak Hanya Menjaga Pesisir Sukabumi, Mangrove Geopark Ciletuh Serap 37,7 kg CO₂eq

Firman menegaskan, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dari instansi kesehatan untuk mengetahui penyebab pasti keluhan yang dialami para siswa dan guru. Dengan demikian, dugaan keterkaitan antara gangguan kesehatan tersebut dan makanan MBG belum dapat dipastikan.

Selain persoalan waktu pelaporan, Firman juga menyoroti prosedur manajemen risiko yang dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ia mengatakan telah mengarahkan kepala SPPG agar segera melaporkan secara langsung setiap dugaan kejadian serius yang berkaitan dengan penyelenggaraan program MBG.

"Secara SOP manajemen risiko, ini salah. Arahan saya kepada kepala SPPG, laporkan secara real time ketika ada dugaan kejadian fatal," ujarnya.

Baca Juga: Kepercayaan Dibalas Khianat, Predator Anak Berwujud Guru Ngaji di Nyalindung Sukabumi

Firman juga menyayangkan pihak sekolah tidak langsung melaporkan kejadian tersebut pada hari Jumat, ketika menu MBG dikonsumsi, sehingga penanganan dan penelusuran tidak dapat dilakukan lebih cepat. Terkait kemungkinan adanya unsur kesengajaan dalam hilangnya sampel makanan, Firman menyatakan hal tersebut masih dalam proses investigasi.

"Ini masih diinvestigasi. Yang disayangkan, kenapa pihak sekolah tidak langsung lapor pada hari Jumat itu, baru melapor ke SPPG pada Senin," katanya.

Firman turut menyinggung informasi mengenai batas aman konsumsi makanan yang tercantum pada label menu MBG. Berdasarkan informasi yang diterimanya, label makanan untuk Jumat (2/10/2026) mencantumkan batas aman konsumsi pukul 13.00 WIB. Namun, ia mengaku mendengar laporan bahwa sebagian penerima manfaat baru mengonsumsi makanan sekitar pukul 15.00 WIB.

Baca Juga: Cuaca Jabar 9 Oktober 2026, Sukabumi Potensi Cerah hingga Berawan

Informasi mengenai waktu konsumsi tersebut masih perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui relevansinya terhadap keluhan kesehatan yang dialami siswa dan guru. 

Sebelumnya, sebanyak 151 siswa dan guru SMKN 1 Gunungguruh dilaporkan mengalami keluhan kesehatan berupa mual, pusing, muntah, hingga diare. Keluhan tersebut diduga berkaitan dengan konsumsi menu MBG pada Jumat (2/10/2026), tetapi penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan instansi kesehatan.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi sukabumiupdate.com masih berupaya mengkonfirmasi pihak SPPG Cikujang 1 untuk memberikan klasifikasinya atas insiden yang terjadi, namun hingga saat ini belum mendapat jawaban.

Baca Juga: Jangan Diabaikan, Ini Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Merusak Gigi

Pantauan langsung sukabumiupdate.com pada Kamis (8/10/2026) SPPG Cikujang 1 tampak tidak beraktivitas, pagar terkunci rapat dengan gembok, papan nama terlihat tidak terpasang.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini