SUKABUMIUPDATE.com - Fenomena bugel terjadi di Muara Cikaso, Desa Buniasih, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. Kondisi ini kerap berlangsung ketika aliran Sungai Cikaso menuju laut tertahan material pasir, sehingga air muara tidak dapat langsung mengalir ke lautan.
Akibatnya, debit air di Muara Cikaso terus meningkat dan mulai merendam sejumlah warung atau saung milik warga yang berada di sekitar bantaran sungai.
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Tegalbuleud, Noris, mengatakan fenomena bugel tidak terjadi setiap tahun. Berdasarkan kejadian sebelumnya, kondisi tersebut biasanya muncul dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun sekali, tergantung kondisi angin dan cuaca, terutama saat terjadi kemarau panjang.
Baca Juga: Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Hadapi Bangladesh di Laga Perdana
“Fenomena bugel kadang terjadi tiga tahun sekali, kadang empat tahun sekali. Jadi tidak setiap tahun. Tergantung angin, terutama kalau anginnya besar saat musim kemarau,” kata Noris kepada Sukabumiupdate.com, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, fenomena bugel terakhir terjadi pada 2023. Sementara tahun ini, Muara Cikaso mulai tertutup material pasir sejak sekitar 11 hari terakhir atau sejak 9 Agustus 2026.
“Kondisi tertutup pasir itulah yang disebut bugel. Biasanya dalam waktu satu bulan pun air belum sampai menggenangi atau memenuhi wilayah tersebut. Sekarang baru sekitar 11 hari sudah mulai membesar, jadi tergolong sangat cepat,” ujarnya.
Baca Juga: Insiden Mobil Mundur di Jalan Selabintana Sukabumi, Seorang Pria Terkapar di Bahu Jalan
Noris menyebutkan, ketinggian air rata-rata mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 15 sentimeter setiap hari.
Hingga Kamis (20/8/2026), kondisi tersebut belum menimbulkan kepanikan di kalangan warga. Namun, sekitar delapan warung atau saung yang berada di bantaran sungai telah terdampak genangan.
“Warung atau saung yang terdampak berada di sekitar bantaran sungai. Sebagian hanya digunakan warga untuk menumpang. Ada sekitar delapan warung yang terdampak, namun mereka tidak panik,” jelasnya.
Noris menjelaskan, material pasir yang menutup aliran Muara Cikaso menuju laut memiliki panjang sekitar 300 meter. Sementara jarak dari ujung air muara Cikaso menuju bibir pantai yang terhalang material pasir mencapai sekitar 150 meter.
Baca Juga: Persib Bandung dan Borneo FC Dapat Grup Menantang di Kompetisi Asia 2026/2027
Saat ini, warga masih menunggu gundukan pasir tersebut pecah secara alami. Sebab, ketika bugel pecah, aliran air dari muara akan kembali mengalir ke laut dan biasanya membawa berbagai jenis ikan yang kemudian dapat dimanfaatkan warga.
“Warga sebenarnya menanti pecah bugel secara alami. Biasanya kalau bugel pecah, warga bisa memanen berbagai macam ikan. Jadi masyarakat berharap bugel ini pecah secara alami,” katanya.
Ia menambahkan, pecahnya bugel secara alami biasanya ditandai suara dentuman atau gemuruh yang cukup keras. Suara tersebut bahkan dapat terdengar hingga radius sekitar lima kilometer.
“Kalau bugel pecah biasanya akan terdengar dentuman suara hingga lima kilometer. Suara gemuruh itu menjadi pertanda air Muara Sungai Cikaso sudah menyatu atau kembali mengalir ke lautan,” ujarnya.
Baca Juga: Jembatan Hancur, Warga Sukabumi Bertaruh di Kayu-Bambu Sebab Dana Desa Dipakai Kopdes
Noris menjelaskan, waktu pecahnya bugel tidak dapat dipastikan. Namun, berdasarkan kondisi yang biasa terjadi, hujan yang turun terus-menerus dapat memicu bugel pecah secara alami. Sementara itu, fenomena tersebut dapat bertahan selama dua hingga tiga bulan.
“Tidak bisa dipastikan kapan pecah bugel, namun biasanya kalau hujan terus menerus bugel akan pecah, dan bisa bertahan sampai 2 atau 3 bulan” pungkasnya.
















