Oleh: Edhy Aruman, Wartawan Senior
Pagi hari, bahkan sebelum kaki menyentuh lantai, tangan kita biasanya sudah menemukan ponsel. Ada berita politik, harga pangan, perang, selebritas bercerai, pejabat diperiksa, saham naik, rupiah turun, lalu sebuah video kucing menyelamatkan suasana. Lima belas menit kemudian kita tahu banyak hal. Anehnya, kita belum tentu lebih mengerti dunia.
Mungkin itulah masalah jurnalisme hari ini. Kita tidak sedang kekurangan informasi. Kita justru kebanyakan informasi. Berita datang seperti kompas yang jarumnya berputar ke segala arah: cepat, ramai, saling berebut perhatian, tetapi tidak selalu membantu kita menentukan ke mana harus berjalan.
Tom Rosenstiel dalam The Next Journalism: How the Press Must Change to Serve Democracy mengusik persoalan ini dari tempat yang menarik. Menurutnya, krisis jurnalisme bukan hanya persoalan teknologi atau bisnis. Penulis berita cenderung terjebak dalam kesibukan perjuangan menemukan model bisnis baru atau menggunakan teknologi terbaru.
Baca Juga: Ancaman Super AI, Ilmuwan Inggris Peringatkan Manusia Bisa Terancam Punah
Rosenstiel melihat persoalan yang lebih mendasar: cara jurnalisme memahami tugasnya. Media terlalu fokus memproduksi berita, padahal publik membutuhkan jurnalisme yang membantu memahami masalah, menilai pilihan, mengambil keputusan, dan berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.
Ini berarti ada masalah yang jauh lebih mendasar, yakni cara jurnalisme memahami dirinya sendiri. Banyak gagasan baru untuk merevitalisasi jurnalisme. Salah satu gagasannya terasa sederhana, tetapi konsekuensinya besar: berita seharusnya dipahami sebagai layanan, bukan sekadar produk.
Maksudnya, sebuah berita atau bahkan kisah-kisah lainnya tidak seharusnya dianggap seperti barang yang diproduksi untuk mendapatkan klik, pembaca, atau keuntungan. Berita harus memberi layanan kepada masyarakat dalam mendapatkan manfaat nyata. Misalnya, membantu masyarakat memahami persoalan, mengetahui dampaknya, mempertimbangkan pilihan, dan menentukan tindakan.
Jadi, keberhasilan jurnalisme bukan hanya diukur dari berapa banyak orang membaca, tetapi seberapa jauh berita membantu kehidupan mereka. Kehidupan yang lebih baik.
Kalimat itu layak direnungkan.
Baca Juga: Lulusan SMA Dominasi Angka Pengangguran: Saatnya Sinkronisasi Pasar Kerja
Selama bertahun-tahun, industri media dibangun dengan logika produksi. Redaksi menghasilkan berita, berita didistribusikan, audiens mengonsumsi. Ketika semuanya pindah ke digital, ukuran keberhasilannya ikut berubah: pageviews, unique visitors, engagement, watch time, dan jumlah klik. Tidak ada yang salah dengan angka-angka itu. Karena bagaimanapun, perusahaan media juga harus membayar wartawan, listrik, server, dan kopi ruang redaksi.
Masalah muncul ketika yang mudah diukur perlahan dianggap sebagai yang paling penting.
Sebuah berita bisa memperoleh satu juta klik. Tetapi, yang harus dijaga adalah klik satu juta itu juga jangan sampai meninggalkan satu juta orang yang tetap bingung.
Sebaliknya, laporan mengenai cara memperoleh bantuan bencana, memahami perubahan pajak, membaca anggaran pemerintah, atau mengetahui hak pekerja mungkin tidak viral, tetapi bisa mengubah keputusan seseorang pada hari itu.
Di sinilah paradoks jurnalisme digital terasa: media semakin tahu apa yang membuat orang mengklik, tetapi belum tentu semakin tahu apa yang membuat orang terbantu.
Lalu datanglah AI.
Baca Juga: Fase Bulan Baru Oktober 2026 Potensi Banjir ROB, Pesisir Sukabumi Waspada Gelombang Tinggi
Mesin itu dapat meringkas dokumen, menerjemahkan wawancara, membaca data, membuat transkrip, bahkan menyusun berita sederhana dalam waktu yang membuat manusia terlihat bingung, terkaget-kaget karena saking cepatnya.
Yang menarik, menyaksikan fenomena itu, muncul pertanyaan, “Apakah AI akan
menggantikan wartawan?”
Menurut saya itu pertanyaan yang salah.
Pertanyaan yang lebih mengganggu justru: kalau mesin sudah bisa menghasilkan informasi, apa yang membuat jurnalisme tetap bernilai?
Jawabannya mungkin bukan kecepatan. Mesin bisa lebih cepat. Bukan pula kemampuan menghasilkan banyak teks. Di bagian itu manusia kemungkinan kalah telak dan tidak perlu malu mengakuinya. Nilai jurnalisme justru semakin terletak pada kemampuan menentukan apa yang penting, memverifikasi apa yang meragukan, memberi konteks, menemukan suara yang tidak terdengar, menjelaskan konsekuensi, dan membantu publik memahami pilihan yang mereka hadapi.
Di sini gagasan Rosenstiel tentang jurnalisme sebagai layanan menjadi sangat relevan.
Baca Juga: Guru Ngaji di Sukabumi Diduga Cabuli Anak Laki-laki, Polisi: Korban Terkonfirmasi 7 Orang
Maksudnya, media tidak cukup berhenti pada pertanyaan klasik: “Apa yang terjadi?” Setelah itu harus muncul pertanyaan lain: “Mengapa ini penting?”, “Siapa yang terkena dampaknya?”, “Apa yang belum kita ketahui?”, dan yang sering terlupakan, “Apa yang bisa dilakukan publik setelah mengetahui ini?”
Bayangkan ketika pemerintah mengumumkan kebijakan baru. Dalam beberapa menit, puluhan media dapat memberitakan pernyataan pejabat yang sama. Tetapi pembaca sebenarnya mungkin membutuhkan sesuatu yang lebih sederhana: apakah kebijakan itu memengaruhi pekerjaan saya, biaya hidup saya, sekolah anak saya, atau usaha saya?
Di situlah saya melihat sesuatu yang bisa disebut kesenjangan kegunaan—utility gap. Ini bukan istilah yang saya atribusikan kepada Rosenstiel, melainkan pengembangan dari gagasannya. Kesenjangan itu muncul ketika jumlah informasi meningkat jauh lebih cepat daripada kemampuan informasi tersebut membantu masyarakat memahami masalah dan mengambil keputusan.
Bagi pengelola media, implikasinya cukup serius. Rapat redaksi tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang sedang ramai?” Pertanyaan itu perlu ditemani oleh pertanyaan yang lebih manusiawi: “Apa yang sedang dibutuhkan masyarakat?” KPI pun mungkin perlu bergerak dari sekadar traffic menuju kombinasi antara jangkauan, kepercayaan, keterlibatan komunitas, dan kegunaan jurnalistik.
Tentu jurnalisme bukan layanan pelanggan. Wartawan tidak bertugas membuat semua orang senang. Justru kadang berita yang paling berguna adalah berita yang membuat pemerintah, perusahaan, bahkan pembacanya sendiri merasa tidak nyaman. Jurnalisme tetap harus mengawasi kekuasaan. Tetapi mengawasi kekuasaan dan melayani kebutuhan informasi publik bukan dua pekerjaan yang saling meniadakan.
Mungkin itu sebabnya perdebatan tentang masa depan media tidak seharusnya berhenti pada apakah koran akan mati, TikTok akan menggantikan televisi, atau AI akan mengambil meja wartawan. Semua itu penting, tetapi hanya membicarakan kendaraannya. Kita belum membicarakan ke mana sebenarnya hendak pergi.
Di tengah dunia yang semakin bising, masyarakat tidak membutuhkan satu suara lagi yang sekadar ikut berteriak. Mereka membutuhkan kompas yang dapat dipercaya.
Sebab masa depan jurnalisme bukan ditentukan oleh siapa yang paling cepat memberi tahu kepada kita tentang apa yang terjadi. Penentunya adalah siapa yang paling membantu kita memahami ke mana harus melangkah setelah mengetahuinya.














