SUKABUMIUPDATE.com – Maraknya aksi kejahatan geng motor di Sukabumi mendorong para pengemudi ojek online (ojol) mengambil sikap tegas. Melalui Forum Diskusi Ojol Sukabumi Raya, mereka melayangkan surat terbuka kepada Polres Sukabumi Kota dan Kodim 0607/Kota Sukabumi, mendesak aparat menindak dan membebas-berantaskan aksi geng motor yang kian meresahkan dan mengancam keselamatan.
Perwakilan Forum Diskusi Ojol Sukabumi Raya, Fitria Ihsan, mengatakan bahwa keberadaan geng motor di wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi sudah lama mengganggu aktivitas warga, khususnya para pekerja malam juga pengemudi ojol yang bekerja hingga larut malam bahkan dini hari.
"Surat terbuka ini meminta Polres Sukabumi Kota dan Kodim 0607 menciptakan rasa aman. Kita minta pihak kepolisian membebas-berantas geng motor ini karena keresahan ini sudah berlangsung bertahun-tahun," ujar Ihsan kepada Sukabumiupdate.com, Senin (3/8/2026).
Ihsan menyayangkan aksi kejahatan jalanan ini seolah menjadi persoalan yang tidak pernah usai. Ia berharap aparat penegak hukum memberikan tindakan tegas tanpa kompromi agar memberikan efek jera kepada para pelaku.
"Kalau sudah tertangkap, cobalah ditegakkan hukumnya. Jangan sampai sudah ditangkap tapi dikeluarkan lagi. Mohon diberantas untuk menciptakan rasa aman di Sukabumi," tegasnya.
Korban Berjatuhan dan Dampak Ekonomi
Keresahan para pengemudi ojol mencapai puncaknya pascainsiden pembacokan di kawasan Kampung Inggris, Kecamatan Sukaraja, pada Minggu dini hari (2/8/2026).
Dalam bentrokan antar-kelompok geng motor tersebut, seorang pengemudi Grab dan seorang sopir truk tangki Pertamina menjadi korban pembacokan.
Baca Juga: 7 Cara Efektif Mencegah ISPA di Musim Kemarau
"Kalau korban pembacokan baru hari Minggu dini hari, rekan pengemudi Grab terkena pembacokan bersama sopir Pertamina. Sebelum-sebelumnya kami hanya dikejar-kejar saja," jelas Ihsan.
Ia mengungkapkan, aksi geng motor yang kerap terjadi pada malam hingga dini hari, terutama saat akhir pekan, tidak hanya mengancam keselamatan para pengemudi, tetapi juga berdampak langsung terhadap pendapatan mereka.
Banyak pengemudi memilih menghentikan aktivitas lebih awal (off-bid) karena khawatir menjadi korban penyerangan. Akan tetapi hal tersebut membuat kesempatan memperoleh penumpang dan penghasilan pun berkurang.
"Dampak ekonominya jelas. Yang biasanya kita bisa narik sampai malam atau pagi, jadi terpaksa stop karena khawatir. Pendapatan jelas berkurang," pungkasnya.
Baca Juga: Garut Mundur, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran Dukung Pemprov Jadi Tuan Rumah MTQ Jabar
Sebagai langkah antisipasi, Forum Diskusi Ojol Sukabumi Raya mengimbau seluruh pengemudi ojol agar selalu mengenakan atribut resmi sesuai platform masing-masing serta bergabung dalam komunitas. Langkah tersebut dinilai penting untuk memudahkan koordinasi, saling berbagi informasi, dan meningkatkan perlindungan saat bekerja di lapangan.















