SUKABUMIUPDATE.com – Musim kemarau 2026 menjadi periode yang berat bagi Kabupaten Sukabumi. Sepanjang Juli 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Sukabumi mencatat sedikitnya 69 kejadian kebakaran, mulai dari kebakaran lahan, rumah warga, hingga kebakaran besar yang meluluhlantakkan Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya di Kecamatan Cisolok.
Data tersebut menjadi bagian dari total 183 kejadian kebakaran yang terjadi di Kabupaten Sukabumi sejak Januari hingga 27 Juli 2026.
Kepala Bidang Pemadaman DPKP Kabupaten Sukabumi, Erwin Adam Ridwan, mengatakan lonjakan kasus kebakaran pada Juli dipengaruhi kondisi cuaca yang sangat panas dan kering akibat musim kemarau.
"Dari periode 1 Januari sampai 27 Juli 2026, total ada 183 kejadian kebakaran. Kejadian terbanyak terjadi pada bulan Juli dengan 69 kejadian karena faktor cuaca yang cukup terik dan kondisi lahan yang sangat kering sehingga mudah terbakar," ujar Erwin kepada sukabumiupdate.com, Senin (27/7/2026).
Berdasarkan data DPKP, dari 69 kejadian tersebut, sebanyak 35 kejadian merupakan kebakaran lahan dan alang-alang, 25 kejadian kebakaran bangunan, dua kejadian kebakaran limbah, dan tujuh kejadian kategori lainnya seperti pohon, tabung gas, maupun bak sampah.
Menurut Erwin, dalam tujuh hari terakhir saja petugas Damkar menangani lebih dari 20 kejadian kebakaran di berbagai wilayah Kabupaten Sukabumi.
"Kalau tujuh hari ke belakang sekitar 20-an lebih kejadian," katanya.
Baca Juga: Rangkuman Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi: Data Korban, Kronologi, hingga Dugaan Penyebab
Kasepuhan Ciptamulya Jadi Kebakaran Terbesar
Dari seluruh kejadian yang terjadi selama Juli, kebakaran di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, menjadi peristiwa terbesar sekaligus paling menyita perhatian publik.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat kebakaran yang terjadi pada Sabtu (25/7/2026) itu menghanguskan 51 rumah adat, 49 leuit (lumbung padi), satu masjid, satu bangunan PAUD, dua lisung, enam warung, dua unit MCK, satu unit Mobil Maskara, serta tiga kendaraan roda dua.
Sebanyak 159 jiwa dari 51 kepala keluarga terdampak dan harus mengungsi ke rumah kerabat maupun keluarga terdekat.
"Kalau kejadian yang paling fenomenal hari ini tentu kebakaran di Kasepuhan Ciptamulya. Ada 51 rumah yang terbakar," kata Erwin.
Dalam proses penanganan, petugas Damkar menghadapi sejumlah kendala, mulai dari jauhnya lokasi hingga kondisi medan yang sulit dijangkau.
"Kendalanya jarak tempuh karena lumayan jauh dari Palabuhanratu ke Ciptamulya. Selain itu ada kendala teknis kendaraan yang tidak bisa langsung naik sehingga harus mengurangi muatan air terlebih dahulu," jelasnya.
Baca Juga: Tahun Ini Sukabumi Rata-rata 19 Derajat, Fenomena Bediding dan Tiupan Dingin Aussie
Damkar menerjunkan empat unit kendaraan yang terdiri dari dua unit pemadam dan dua unit rescue untuk melakukan penanganan.
"Yang diterjunkan empat unit, dua unit tempur dan dua unit rescue. Saat tiba di lokasi fokus utama kami lebih banyak melakukan pendinginan karena api sudah sangat cepat membesar akibat faktor angin," katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Logistik Bencana Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya, Edik Supriatna, mengungkapkan api pertama kali muncul sekitar pukul 14.00 WIB dari area MCK yang berada di dekat Imah Gede atau rumah utama sesepuh adat.
Menurutnya, api diduga berasal dari korsleting listrik sebelum merembet ke bangunan ajeng (tempat gamelan), lumbung padi, Rumah Gede, hingga rumah-rumah warga yang mayoritas berbahan kayu dan beratap rumbia serta ijuk.
"Sekitar 20 menit habis semua, tidak tertolong," ujar Edik.
Tiga Kakak Beradik Tewas di Nyalindung
Selain Kasepuhan Ciptamulya, peristiwa kebakaran paling tragis terjadi di Kampung Babakanbandung, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Rabu (22/7/2026).
Kebakaran rumah yang diduga dipicu penggunaan lilin saat listrik padam menyebabkan tiga kakak beradik meninggal dunia.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu insiden paling memilukan dalam rangkaian kebakaran yang terjadi sepanjang Juli 2026.
Erwin mengatakan, untuk kategori kebakaran rumah tinggal, penyebab yang paling dominan masih berkaitan dengan masalah instalasi listrik.
"Kalau kebakaran rumah kebanyakan memang terindikasi akibat korsleting listrik. Sedangkan kejadian di Nyalindung dipicu lilin saat listrik padam. Lilin itu diletakkan dekat instalasi listrik," jelasnya.
Baca Juga: Dulu Kuasai Pasar Eropa dan Timur Tengah, Mengenang Kejayaan Teh Parakansalak Sukabumi
Sangrawayang dan Maraknya Kebakaran Alang-Alang
Selain permukiman, kebakaran lahan juga menjadi ancaman serius selama musim kemarau tahun ini.
Salah satu yang terbesar terjadi di kawasan perbukitan di Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, yang terbakar hampir selama 24 jam.
Api melalap kawasan perbukitan dan sempat terlihat jelas dari kawasan pesisir Palabuhanratu hingga Cisolok.
Menurut Erwin, berdasarkan informasi yang diterima dari warga setempat, kebakaran tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan.
"Indikasi dan informasi dari warga setempat, kebakaran itu sengaja dilakukan untuk dijadikan sawah huma," ujarnya.
Petugas Damkar lebih memfokuskan upaya perlindungan terhadap permukiman warga karena titik api berada di kawasan perbukitan yang sulit dijangkau.
"Hampir 24 jam. Luasnya kurang lebih di bawah 10 hektare. Kami fokus menjaga agar api tidak mendekati permukiman karena menjangkau titik api di perbukitan sangat sulit," katanya.
Ia mengakui kondisi alam turut membantu proses pemadaman.
"Alhamdulillah sekitar pukul 04.00 WIB api mulai padam karena embun sudah turun. Jadi selain upaya petugas, kondisi alam juga membantu," ungkapnya.
Himbauan antisipasi kebakaran di musim kemarau dari DPKP Kabupaten Sukabumi.
Wilayah Selatan Masuk Zona Rawan
DPKP Kabupaten Sukabumi memetakan sejumlah wilayah yang memiliki risiko tinggi mengalami kebakaran selama musim kemarau.
Beberapa wilayah yang masuk kategori rawan di antaranya Palabuhanratu, Ciemas, Surade, Jampangkulon, dan Sagaranten.
Wilayah tersebut memiliki hamparan lahan kosong dan alang-alang yang luas sehingga sangat mudah terbakar saat cuaca panas berkepanjangan.
"Wilayah tersebut memiliki banyak lahan kosong dan alang-alang sehingga tingkat kerawanannya cukup tinggi saat musim kemarau," kata Erwin.
Namun ia menegaskan, sebagian besar kebakaran lahan yang terjadi tidak murni disebabkan faktor alam.
"Kebanyakan kejadian alang-alang itu bukan karena faktor alam, tetapi ada faktor kesengajaan oleh orang-orang di sekitarnya," ujarnya.
Damkar Akui Masih Kekurangan Pos Pemadam
Di tengah meningkatnya kejadian kebakaran, DPKP Kabupaten Sukabumi juga masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana.
Dengan luas wilayah mencapai 47 kecamatan dan 381 desa, Kabupaten Sukabumi saat ini hanya didukung oleh 12 pos pemadam kebakaran.
"Kendala terbesar kami adalah keterbatasan sarana dan prasarana. Kabupaten Sukabumi memiliki 47 kecamatan dan 381 desa, sementara saat ini baru didukung 12 pos pemadam. Secara administrasi maupun teknis masih belum ideal karena wilayahnya terlalu luas," ujar Erwin.
Imbauan Jelang Puncak Kemarau
Menjelang puncak musim kemarau, DPKP Kabupaten Sukabumi terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui pemerintah desa, RT/RW, hingga media sosial.
Berbagai poster digital dan video edukasi telah disebarluaskan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan.
"Kami sudah menyampaikan imbauan melalui APDESI, RT/RW dan Diskominfo. Kami juga membuat poster digital dan video edukasi untuk mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan," katanya.
Erwin menegaskan pembakaran lahan merupakan tindakan yang melanggar hukum dan dapat dikenakan sanksi pidana sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Dengan masih berlangsungnya musim kemarau, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, memastikan instalasi listrik dalam kondisi aman, tidak membakar sampah sembarangan, serta segera melapor apabila menemukan titik api di lingkungan sekitar.















