SUKABUMIUPDATE.com – Di tengah puing-puing kebakaran yang menghanguskan Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, secercah harapan masih tersisa.
Warga bersama petugas gabungan bergotong royong menyelamatkan ribuan pocong padi yang masih utuh dari leuit atau lumbung padi adat yang terdampak kebakaran, Minggu (26/7/2026).
Sejak pagi hari, warga tampak memilah satu per satu pocong padi yang berhasil dikumpulkan dari sisa-sisa bangunan Leuit Si Jimat, lumbung komunal yang digunakan untuk kepentingan bersama masyarakat adat.
Bangunan tersebut berada di dekat Imah Gede, rumah utama sekaligus pusat kegiatan adat yang dihuni Sesepuh Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik.
Padi yang masih layak diselamatkan dipisahkan dari yang rusak akibat kobaran api. Selanjutnya, padi-padi tersebut dipindahkan ke leuit milik warga yang tidak terdampak kebakaran serta sejumlah fasilitas umum seperti bangunan PAUD untuk penyimpanan sementara.
Baca Juga: Leuit, Tabungan Kehidupan dan Penjaga Ketahanan Pangan Kasepuhan Ciptamulya
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cisolok, Andri Firmansyah, mengatakan kondisi sebagian besar leuit yang terbakar sangat memprihatinkan. Bangunan yang sebelumnya menjadi tempat penyimpanan hasil panen warga kini hanya menyisakan puing dan arang.
"Leuit yang sebelumnya berdiri kokoh kini ada yang hanya tersisa arang bekas kebakaran. Namun masih ada pocong-pocong padi yang tidak sepenuhnya terbakar dan masih bisa diselamatkan. Ada ribuan kayanya mah kalau dikumpulin," ujar Andri kepada sukabumiupdate.com.
Menurut Andri, proses penyelamatan dilakukan secara manual oleh warga dan relawan. Mereka dengan teliti memeriksa setiap pocong padi untuk memastikan mana yang masih layak disimpan sebagai cadangan pangan keluarga.
Baca Juga: Leuit dan Padi Lokal, Mengenal Ketahanan Pangan Warga Adat di Sukabumi
Ia menjelaskan, bagi masyarakat adat Kasepuhan Ciptamulya, leuit memiliki makna yang jauh lebih penting dibanding sekadar tempat penyimpanan hasil panen. Leuit merupakan simbol ketahanan pangan sekaligus warisan budaya yang telah dijaga secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Kebakaran yang melanda kawasan adat tersebut tidak hanya menghanguskan puluhan rumah warga dan bangunan adat, tetapi juga mengancam cadangan pangan masyarakat. Karena itu, penyelamatan pocong padi menjadi salah satu prioritas utama dalam penanganan pascabencana.
"Hampir setiap keluarga memiliki leuit sebagai cadangan pangan menyimpan padi untuk kebutuhan sehari-hari," pungkas Andri.
Musibah kebakaran yang terjadi pada Sabtu (25/7/2026) itu sebelumnya dilaporkan menghanguskan puluhan rumah adat, leuit, serta sejumlah bangunan penting di kawasan Kasepuhan Ciptamulya. Pemerintah Kabupaten Sukabumi telah menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat penanganan dan pemulihan bagi warga terdampak.















